Karhutla Kalteng dan Sumsel Membakar 343,55 Hektare, Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang

oleh -33 Dilihat
oleh
Karhutla Kalteng dan Sumsel Meluas, BNPB Catat Ratusan Hektare Terbakar

Kabupaten Ogan Komering Ilir | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih meluas di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dihimpun hingga Senin malam, 12 Oktober 2026, luas area terbakar di dua provinsi tersebut mencapai 343,55 hektare. Angka itu menggambarkan skala kebakaran yang masih perlu menjadi perhatian, terutama karena berlangsung di tengah kondisi udara yang memburuk.

Di Kalimantan Tengah, karhutla tercatat membakar sebagian area lahan dan turut memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah tersebut. Situasi serupa juga terjadi di Sumatera Selatan. BNPB menyebut kualitas udara di kedua provinsi berada pada kategori berbahaya. Status tersebut menunjukkan bahwa asap hasil kebakaran telah menyebabkan kualitas udara berada pada tingkat yang perlu diwaspadai.

Dampak kondisi udara itu juga terlihat pada jarak pandang di bandara. Di Kalimantan Tengah, jarak pandang tercatat hanya 0,2 kilometer. Jarak yang sangat terbatas tersebut menunjukkan tebalnya kabut asap yang menyelimuti kawasan sekitar bandara. Sementara itu, jarak pandang di Sumatera Selatan berada pada kisaran 0,3 hingga 7 kilometer, dengan tingkat keterbatasan yang berbeda-beda menurut lokasi dan waktu pengamatan.

Data tersebut memperlihatkan bahwa karhutla di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan tidak hanya menyangkut luasan lahan yang terbakar, tetapi juga berkaitan langsung dengan penurunan kualitas udara serta terbatasnya jarak pandang. Dengan total luas area terdampak mencapai 343,55 hektare, perkembangan kebakaran di kedua provinsi masih menjadi bagian penting dalam pemantauan BNPB. Kondisi kategori udara berbahaya dan jarak pandang yang rendah menjadi indikator utama situasi karhutla pada Senin malam tersebut.

Pada 11 Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tercatat melanda area seluas 64,8 hektare. Luasan tersebut tersebar di 49 lokasi kebakaran yang berada di sejumlah wilayah provinsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan masih diperlukan secara berkelanjutan, terutama pada lokasi yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan oleh petugas.

Berdasarkan hasil operasi, petugas telah memadamkan kebakaran yang mencakup 54 hektare di 38 lokasi. Sementara itu, area seluas 10,8 hektare yang tersebar di 11 lokasi masih menjadi sasaran operasi pemadaman. Upaya penanganan dilakukan melalui operasi darat dengan mengerahkan personel dan peralatan untuk menjangkau titik-titik yang terbakar serta mencegah api meluas ke area sekitarnya.

Operasi udara belum dapat dilaksanakan karena kondisi jarak pandang yang rendah. Kabut asap dan keterbatasan visibilitas tersebut menghambat pelaksanaan pemadaman menggunakan dukungan udara. Dengan demikian, petugas mengandalkan strategi darat dalam menangani lokasi yang masih terbakar, sekaligus menyesuaikan kegiatan operasional dengan kondisi di lapangan.

Pemantauan juga mencatat 3.908 titik panas di Kalimantan Tengah. Dari jumlah tersebut, 74 titik panas berada pada tingkat kepercayaan tinggi. Sebaran karhutla dan titik panas itu berdampak terhadap 11 kabupaten/kota, sehingga koordinasi penanganan perlu terus dilakukan untuk merespons perkembangan api dan asap di berbagai wilayah terdampak.

Selain pemadaman darat, operasi modifikasi cuaca turut dilakukan sebagai bagian dari upaya penanganan. Operasi tersebut memicu hujan lokal di Katingan, Kotawaringin Barat, dan Murung Raya. Hujan lokal di tiga wilayah itu menjadi dukungan terhadap pengendalian karhutla, sementara petugas tetap melanjutkan pemadaman pada lokasi yang belum tertangani.

Di Sumatera Selatan, kebakaran hutan dan lahan telah menghanguskan area seluas 278,75 hektare. Petugas gabungan berhasil memadamkan 271,85 hektare, sementara 6,90 hektare lainnya masih dalam penanganan. Upaya pemadaman terus dilakukan melalui pengerahan personel, peralatan darat, serta pemantauan terhadap area yang berpotensi kembali terbakar akibat kondisi lahan yang kering dan mudah menyimpan bara.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat 1.991 titik panas di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 121 titik panas berada pada tingkat kepercayaan tinggi sehingga memerlukan perhatian dan penanganan lebih lanjut. Dampak kebakaran dilaporkan dirasakan di delapan kabupaten/kota. Asap yang menyebar juga menurunkan kualitas udara dan mengganggu jarak pandang masyarakat maupun pengguna transportasi.

Operasi pemadaman melalui udara menggunakan metode water bombing belum dapat dilakukan karena jarak pandang yang rendah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi penerbangan dan menyulitkan awak pesawat dalam memastikan ketepatan sasaran. Oleh sebab itu, setiap pengerahan pesawat harus menunggu situasi yang lebih aman, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan cuaca, arah angin, serta lokasi titik api.

Sebagai bagian dari penanganan kabut asap dan pengendalian cuaca, operasi modifikasi cuaca dilaksanakan pada 12 Oktober 2026 dengan satu sorti penerbangan. Dalam kegiatan itu, petugas menaburkan 800 kilogram natrium klorida. Sebelumnya, akumulasi operasi pada 9–11 Oktober 2026 mencapai empat sorti dengan total penggunaan 3.600 kilogram natrium klorida. Langkah ini ditujukan untuk merangsang pertumbuhan awan dan meningkatkan peluang hujan di wilayah yang membutuhkan.

Selanjutnya, tim akan melaksanakan patroli udara untuk memperbarui pemetaan titik api dan memantau area yang masih berasap. Pemadaman lanjutan di darat juga disiapkan untuk menjangkau lahan yang belum sepenuhnya aman. Seluruh operasi tetap dilaksanakan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan penerbangan, petugas lapangan, serta masyarakat di sekitar lokasi kebakaran.

BNPB merekomendasikan agar penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan dipusatkan pada lokasi yang masih belum padam. Strategi ini diperlukan supaya sumber api dapat dikendalikan secara terarah, sekaligus mencegah penjalaran ke area yang lebih luas. Operasi lapangan mencakup penyekatan untuk membatasi pergerakan api, pemadaman pada titik aktif, serta pendinginan guna mengurangi potensi munculnya kembali bara di dalam tanah atau vegetasi.

Pengerahan personel, peralatan, dan sumber air perlu disesuaikan dengan tingkat kerawanan serta kondisi setiap lokasi. Armada pemadaman di titik prioritas harus dioptimalkan ketika cuaca, jarak pandang, dan kondisi lapangan memungkinkan. Pengaturan sumber daya secara terarah dapat membantu mempercepat respons dan menghindari penumpukan armada di wilayah yang tingkat kebakarannya lebih rendah. Patroli udara juga perlu dilakukan untuk memetakan titik panas, memeriksa perkembangan api, dan menentukan sasaran pemadaman yang paling membutuhkan intervensi.

Pemantauan jarak pandang dan kondisi atmosfer harus berlangsung secara berkala, terutama di wilayah yang terdampak kabut asap. Informasi tersebut penting untuk menilai keamanan operasi darat dan udara, termasuk menentukan waktu pengerahan armada serta menyesuaikan pola penanganan di lapangan. Perubahan arah angin, tingkat kekeringan, dan sebaran asap perlu menjadi bagian dari pembaruan informasi bagi petugas dan pihak terkait.

Di Sumatera Selatan, kesiapsiagaan armada water bombing perlu ditingkatkan di wilayah rawan, khususnya Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Penguatan ini ditujukan agar dukungan pemadaman dari udara dapat segera diarahkan apabila kebakaran berkembang atau sulit dijangkau melalui jalur darat. Satuan tugas darat di sekitar permukiman juga perlu memperkuat kesiapsiagaan untuk mengantisipasi perluasan api, melindungi warga, dan mempercepat penanganan apabila titik karhutla bergerak mendekati kawasan hunian.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Kesiap Siagaan Babinsa Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla Di Buluqsen | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah