Langkah Andien Membuka Akses Pendidikan Gratis bagi Anak-Anak di Kampung Apung

oleh -52 Dilihat
oleh
Langkah Andien Membuka Akses Pendidikan Gratis bagi Anak-Anak di Kampung Apung

Jakarta | Andien Aisyah meresmikan cabang kelima Sekolah Anak Percaya di kawasan Kampung Apung, Jakarta. Kehadiran fasilitas ini menandai perluasan upaya sosial yang dijalankan Andien melalui bidang pendidikan. Sekolah Anak Percaya hadir sebagai ruang belajar yang dapat diakses tanpa biaya oleh anak-anak di lingkungan tersebut, sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk mengikuti kegiatan pendidikan tanpa terbebani persoalan biaya.

Peresmian ini memiliki arti penting bagi warga Kampung Apung, yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pengupas kerang. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat menjadi latar yang memperkuat kebutuhan akan akses pendidikan yang lebih terbuka. Dengan menyediakan kegiatan belajar secara gratis, Sekolah Anak Percaya berupaya mendekatkan dukungan pendidikan kepada anak-anak di wilayah tempat mereka tinggal.

Cabang kelima tersebut juga memperlihatkan bahwa aksi sosial Andien tidak berhenti pada kegiatan yang bersifat sesaat. Perluasan Sekolah Anak Percaya menunjukkan perhatian yang berkelanjutan terhadap pemenuhan hak anak untuk memperoleh pendidikan. Kehadiran program ini di Kampung Apung menjadi bagian dari langkah untuk menjangkau lebih banyak anak melalui akses belajar yang inklusif dan tidak berbayar.

Inisiatif tersebut menempatkan pendidikan sebagai sarana penting untuk membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga pekerja di kawasan pesisir perkotaan. Melalui Sekolah Anak Percaya, Andien memperluas ruang partisipasi sosialnya sekaligus mengajak perhatian publik tertuju pada kebutuhan pendidikan anak di lingkungan yang mungkin menghadapi keterbatasan akses. Peresmian di Kampung Apung menjadi penanda bahwa upaya menghadirkan pendidikan gratis dapat dilakukan dengan mendekatkan fasilitas belajar kepada komunitas yang membutuhkan.

Gerakan Sekolah Anak Percaya pertama kali diinisiasi oleh Andien pada 2022. Kegiatan ini bermula di Kampung Pemulung, Pondok Kopi, Jakarta Timur, sebuah lingkungan yang memperlihatkan kebutuhan besar terhadap akses belajar yang layak bagi anak-anak. Sejak awal, gerakan tersebut diarahkan untuk menghadirkan ruang pendidikan yang aman, terbuka, dan dapat diikuti tanpa membebani keluarga peserta didik dengan biaya.

Modal awal pendirian sekolah berasal dari hasil penjualan royalti aset digital untuk lagu “Percaya” melalui skema non-fungible token (NFT). Penjualan tersebut dilakukan pada masa Covid, ketika berbagai kegiatan seni dan pertunjukan menghadapi keterbatasan. Alih-alih berhenti sebagai karya yang dinikmati publik, lagu itu kemudian memiliki peran lanjutan melalui dukungan pendanaan bagi inisiatif sosial. Skema tersebut menjadi salah satu cara untuk menghubungkan karya musik dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

Andien menjelaskan bahwa hasil dari penjualan royalti tersebut digunakan sebagai modal untuk mendirikan sekolah. Pernyataan itu menunjukkan kesinambungan yang jelas proses kreatif, dukungan dari masyarakat atau pembeli aset digital, dan pengembangan kegiatan pendidikan. Royalti dari lagu “Percaya” tidak hanya menjadi hasil ekonomi dari sebuah karya, tetapi juga menjadi sumber daya awal untuk membangun gerakan yang berfokus pada anak-anak di Kampung Pemulung. Dengan demikian, pendirian Sekolah Anak Percaya memperlihatkan bagaimana musik dapat berkembang menjadi dukungan konkret bagi akses pendidikan. Inisiatif yang dimulai pada 2022 itu menjadi pijakan bagi penyelenggaraan kegiatan belajar dan upaya pendampingan anak secara lebih berkelanjutan. Hubungan lagu, pendanaan NFT, dan sekolah juga menegaskan bahwa sebuah karya dapat membawa dampak melampaui ruang hiburan, terutama ketika hasilnya diarahkan untuk menjawab kebutuhan pendidikan di lingkungan yang kurang terlayani.

Pendirian cabang kegiatan pendidikan di Kampung Apung tidak berlangsung secara instan. Sebelum proses belajar mengajar dapat diselenggarakan, tim Andien terlebih dahulu menjalani masa pendekatan dengan masyarakat setempat selama sekitar satu tahun. Tahapan ini dimulai sejak Oktober pada tahun sebelumnya dan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan kehadiran kegiatan pendidikan di lingkungan tersebut.

Rentang waktu yang panjang menunjukkan bahwa membuka akses pendidikan gratis tidak hanya berkaitan dengan tersedianya program atau dimulainya kegiatan belajar. Kehadiran sebuah inisiatif pendidikan di tengah masyarakat juga memerlukan penerimaan dari warga. Karena itu, proses membangun kepercayaan menjadi dasar agar kegiatan yang direncanakan dapat diterima dan berjalan sesuai kebutuhan lingkungan Kampung Apung.

Dalam proses tersebut, tim Andien tidak langsung menyelenggarakan pembelajaran setelah menentukan lokasi. Mereka memberikan waktu bagi pendekatan untuk berlangsung terlebih dahulu. Masa sekitar satu tahun itu memperlihatkan adanya perhatian terhadap kesiapan masyarakat sebelum cabang pendidikan dibuka. Langkah tersebut menjadi penanda bahwa program pendidikan perlu dibangun secara bertahap, bukan dilakukan secara terburu-buru.

Andien menyebut proses pendekatan tersebut sebagai tahapan yang diperlukan agar kegiatan pendidikan dapat berjalan di Kampung Apung. Pernyataan ini menegaskan bahwa kepercayaan warga merupakan bagian dari proses pembukaan akses belajar. Setelah tahapan itu dilalui, kegiatan belajar mengajar baru dapat diselenggarakan. Dengan demikian, pendirian cabang di kampung tersebut merupakan hasil dari proses persiapan yang berlangsung cukup panjang, sekaligus menggambarkan pentingnya hubungan yang baik dengan masyarakat setempat dalam menjalankan kegiatan pendidikan.

Perhatian Andien terhadap Kampung Apung berawal dari keprihatinannya melihat masih tingginya angka anak putus sekolah di kawasan perairan tersebut. Bagi dia, kondisi itu bukan sekadar persoalan anak yang tidak memiliki kemauan untuk belajar. Di balik keputusan seorang anak meninggalkan sekolah, terdapat situasi keluarga, lingkungan, dan keterbatasan akses yang saling berkaitan. Permukiman padat dengan kondisi sosial ekonomi yang beragam sering kali membuat kebutuhan pendidikan anak terdesak oleh persoalan sehari-hari.

Andien memandang bahwa upaya membuka akses pendidikan perlu diawali dengan pemahaman yang utuh terhadap hambatan yang dihadapi warga. Persoalannya dapat meliputi dokumen kependudukan yang tidak lengkap, status tempat tinggal yang tidak sederhana, hingga kesulitan mengakses layanan publik. Masalah administrasi semacam ini berpengaruh pada proses pendaftaran sekolah maupun pengurusan berbagai kebutuhan pendidikan. Pada saat yang sama, kerumitan tersebut kerap membuat pihak lain ragu atau enggan terlibat karena penyelesaiannya membutuhkan koordinasi dan pendampingan yang berkelanjutan.

Karena itu, Andien tidak ingin melihat persoalan tersebut hanya dari jarak jauh atau menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada warga. Ia memilih untuk turun langsung, mendengarkan kebutuhan masyarakat, serta mencari jalan keluar bersama pihak-pihak yang terdampak. Pendekatan ini menempatkan warga sebagai bagian penting dalam proses pemecahan masalah, bukan sekadar penerima bantuan. Bagi Andien, ketika solusi belum tersedia, langkah yang dapat dilakukan adalah ikut menjadi bagian dari solusi tersebut. Komitmen itu menjadi dasar bagi upayanya untuk membantu menghadirkan kesempatan belajar yang lebih terbuka bagi anak-anak Kampung Apung, sekaligus mendorong perhatian yang lebih besar terhadap hambatan struktural di balik putus sekolah.

Baca juga: Inisiatif Baru Telkom untuk Pendidikan Berbasis AI di Makassar | Dukungan Pendidikan untuk Siswa Kurang Mampu di Kota Bogor | Puspsi TNI Berikan Trauma Healing bagi Anak Penyintas Gempa Bumi NTT