Mayjen Drajat Brima Yoga Memimpin Kodam XXVI/Mataram yang Bermarkas di Sleman

oleh -34 Dilihat
oleh
Mayjen Drajat Brima Yoga Memimpin Kodam XXVI/Mataram yang Bermarkas di Sleman

Kodam XXVI/Mataram resmi dibentuk dan telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Pembentukan komando daerah militer ini menandai hadirnya satuan kewilayahan yang mencakup Daerah Istimewa Yogyakarta. Markas Kodam XXVI/Mataram direncanakan berada di Godean, Kabupaten Sleman, sehingga wilayah tersebut akan menjadi lokasi kedudukan komando militer baru di lingkungan DIY.

Dengan cakupan teritorial Daerah Istimewa Yogyakarta, Kodam XXVI/Mataram memiliki wilayah kerja yang berfokus pada seluruh kawasan DIY. Penetapan Godean sebagai lokasi markas menempatkan Kabupaten Sleman sebagai pusat kedudukan kodam tersebut. Rencana ini sekaligus memperjelas keberadaan Kodam XXVI/Mataram sebagai komando kewilayahan yang dibentuk untuk menaungi wilayah teritorial DIY.

Kodam XXVI/Mataram kini dipimpin oleh Mayor Jenderal Drajat Brima Yoga. Penunjukan Mayjen Drajat Brima Yoga menempatkannya sebagai pemimpin kodam yang bermarkas di wilayah Sleman tersebut. Dengan demikian, pembentukan Kodam XXVI/Mataram tidak hanya menetapkan cakupan teritorial Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga menetapkan figur yang memimpin komando itu, yakni Mayjen Drajat Brima Yoga.

Penambahan komando daerah militer (kodam) menjadi bagian dari kebijakan untuk memperkuat pertahanan kewilayahan TNI Angkatan Darat. Sebelumnya, TNI AD memiliki 21 kodam yang mencakup total 38 provinsi. Struktur tersebut kemudian dikembangkan melalui peresmian enam kodam baru. Dengan perkembangan itu, masih tersisa pembangunan 11 kodam sebagaimana tercantum dalam bahan kebijakan tersebut.

Penguatan jumlah dan sebaran kodam diarahkan untuk mempermudah pengamanan wilayah. Keberadaan komando teritorial yang lebih sesuai dengan cakupan wilayah diharapkan mendukung pelaksanaan tugas TNI AD secara lebih terarah. Kodam memiliki peran dalam mengoordinasikan unsur kewilayahan, sehingga penataan struktur komando dapat membantu memastikan respons pertahanan dan keamanan berlangsung berdasarkan karakteristik wilayah masing-masing.

Kebijakan ini juga bertujuan memperkuat struktur pertahanan kewilayahan. Penambahan kodam tidak hanya berkaitan dengan pembentukan satuan baru, tetapi juga dengan penataan komando agar pelaksanaan tugas pertahanan memiliki landasan kewilayahan yang lebih kuat. Dalam konteks tersebut, pembangunan kodam diarahkan untuk mendukung kesiapan organisasi TNI AD dalam menjalankan fungsi pengamanan dan pertahanan di berbagai daerah.

Selain mempermudah pengamanan wilayah dan memperkuat struktur pertahanan kewilayahan, kebijakan tersebut bertujuan menyamakan komando teritorial TNI AD di setiap provinsi di Indonesia. Keseragaman komando ini menjadi dasar penting bagi pengelolaan pertahanan kewilayahan secara nasional. Dengan demikian, penambahan kodam ditempatkan sebagai bagian dari penataan organisasi TNI AD agar struktur komando teritorial dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap provinsi, tanpa mengubah angka yang telah disebutkan, yakni 21 kodam sebelumnya, enam kodam baru yang telah diresmikan, dan 11 kodam yang masih tersisa pembangunannya.

Drajat Brima Yoga merupakan perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang kini menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXVI/Mataram. Dalam posisi tersebut, ia menjadi pejabat yang memimpin Kodam XXVI/Mataram, satuan kewilayahan TNI AD yang bermarkas di Sleman. Penunjukan itu menempatkan Drajat sebagai figur utama dalam kepemimpinan komando tersebut.

Pangkat yang disandang Drajat adalah mayor jenderal, atau Mayjen, sebagai bagian dari jenjang kepangkatan perwira tinggi TNI AD. Penyebutan Mayjen Drajat Brima Yoga sebagai Pangdam XXVI/Mataram merujuk pada identitas sekaligus jabatan yang saat ini diembannya. Dengan demikian, profilnya dalam konteks Kodam XXVI/Mataram berkaitan langsung dengan peran kepemimpinan di tingkat komando daerah militer.

Drajat Brima Yoga merupakan abituren Akademi Militer tahun 1992. Status tersebut menunjukkan bahwa ia berasal dari angkatan pendidikan perwira yang sama dengan sejumlah perwira tinggi TNI lainnya. Salah satu tokoh yang satu angkatan dengannya adalah Jenderal Maruli Simanjuntak, yang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Kesamaan angkatan dengan Jenderal Maruli Simanjuntak menjadi bagian penting dari identitas Drajat dalam lingkungan TNI AD. Keduanya tercatat sebagai lulusan Akademi Militer 1992, sementara Drajat kini menjalankan amanah sebagai Pangdam XXVI/Mataram. Posisi tersebut menegaskan kedudukannya sebagai perwira tinggi TNI AD yang memimpin Kodam XXVI/Mataram dari markasnya di Sleman.

Jejak karier Drajat Brima Yoga berangkat dari latar belakang yang sama dengan Jenderal Maruli Simanjuntak, yakni lingkungan infanteri Korps Baret Merah Kopassus. Kesamaan latar tersebut menjadi bagian penting dalam membaca perjalanan keduanya di lingkungan militer, terutama karena infanteri Kopassus dikenal sebagai jalur pembentukan perwira dengan pengalaman dan tanggung jawab komando. Sumber menyebutkan Drajat Brima Yoga lahir pada 14 November 1969.

Rangkaian penugasannya tercatat dimulai pada 2009 ketika ia dipercaya menjadi Danyonif Raider 300/BJW. Jabatan tersebut diembannya hingga 2011. Posisi sebagai komandan batalyon menempatkan Drajat dalam tanggung jawab kepemimpinan satuan infanteri, sekaligus menjadi tahap awal yang tercatat dalam kronologi kariernya. Periode 2009–2011 itu menunjukkan kesinambungan perjalanan dari latar belakang Kopassus menuju peran komando pada satuan Raider.

Setelah menyelesaikan masa tugas sebagai Danyonif Raider 300/BJW, Drajat Brima Yoga melanjutkan kariernya pada 2011 dengan menjabat Dandim 1207/Pontianak. Pergeseran jabatan tersebut menandai kelanjutan tanggung jawab komando dalam lingkup kewilayahan. Dalam urutan karier yang disebutkan sumber, jabatan berikutnya adalah Kasrem 051/Wijayakarta pada 2013. Dengan demikian, kronologinya tersusun dari pengalaman sebagai Danyonif Raider 300/BJW pada 2009–2011, kemudian Dandim 1207/Pontianak pada 2011, dan selanjutnya Kasrem 051/Wijayakarta pada 2013. Urutan tersebut menggambarkan perkembangan tugas secara bertahap, dari kepemimpinan batalyon, berlanjut ke komando distrik militer, lalu memasuki posisi kepala staf di tingkat komando resor militer. Latar belakang infanteri Korps Baret Merah Kopassus menjadi dasar yang menghubungkan tahap-tahap tersebut, sementara jabatan yang tercatat memperlihatkan peningkatan lingkup tanggung jawab dalam perjalanan militernya.