Mengapa Telur Mentah Tidak Boleh Diberikan kepada Bayi yang Demam

oleh -83 Dilihat
oleh
Mengapa Telur Mentah Tidak Boleh Diberikan kepada Bayi yang Demam

Jakarta | Memberikan telur mentah kepada bayi yang sedang demam bukanlah tindakan yang tepat untuk menurunkan suhu tubuh. Hingga saat ini, tidak ada dasar medis yang menunjukkan bahwa telur mentah dapat mengatasi demam, mempercepat pemulihan, atau mengobati penyebab infeksi pada bayi. Demam merupakan tanda bahwa tubuh sedang merespons kondisi tertentu, seperti infeksi virus, infeksi bakteri, atau masalah kesehatan lainnya. Karena itu, penanganannya tidak dapat digantikan dengan bahan makanan atau pengobatan rumahan yang belum terbukti manfaat dan keamanannya.

Telur memang mengandung protein dan sejumlah zat gizi, tetapi kandungan tersebut tidak menjadikannya obat penurun demam. Selain itu, telur mentah berisiko mengandung bakteri, termasuk Salmonella, yang dapat menyebabkan muntah, diare, nyeri perut, dan infeksi serius. Risiko ini lebih mengkhawatirkan pada bayi karena sistem kekebalan tubuh dan saluran pencernaannya masih berkembang. Pemberian makanan mentah juga dapat meningkatkan kemungkinan gangguan kesehatan, terutama apabila telur tidak disimpan atau diolah secara higienis.

Demam pada bayi perlu dinilai berdasarkan usia, suhu tubuh, durasi demam, serta gejala lain yang menyertainya. Bayi baru lahir dan bayi berusia sangat muda memiliki kondisi yang lebih rentan, sehingga demam pada kelompok ini memerlukan perhatian medis segera. Orang tua sebaiknya mengukur suhu dengan termometer, memastikan bayi tetap mendapatkan ASI atau cairan sesuai anjuran, dan menghindari pemberian obat tanpa petunjuk tenaga kesehatan. Jika bayi tampak lemas, sulit menyusu, mengalami sesak napas, kejang, muntah berulang, atau jumlah buang air kecil berkurang, pemeriksaan dokter tidak boleh ditunda. Penanganan yang aman harus diarahkan pada penyebab demam, bukan pada pemberian telur mentah atau cara lain yang belum terbukti.

Kasus bayi Alena, yang berusia 28 hari, menjadi perhatian publik setelah sebelumnya dikabarkan mengalami demam dan kemudian menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Berdasarkan informasi yang beredar, bayi tersebut diduga diberikan telur mentah oleh neneknya sebagai bagian dari upaya penanganan di rumah. Setelah mendapatkan perawatan medis, Alena dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (11/10/2026).

Informasi mengenai peristiwa ini perlu disampaikan secara hati-hati. Hingga kini, belum terdapat keterangan medis yang memastikan bahwa pemberian telur mentah merupakan penyebab langsung kondisi memburuk atau kematian bayi tersebut. Penetapan penyebab kematian memerlukan pemeriksaan dan penjelasan dari tenaga kesehatan serta pihak berwenang. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan urutan kejadian atau informasi yang beredar di media sosial.

Meski demikian, kasus Alena menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap praktik pengobatan rumahan pada bayi, terutama bayi baru lahir. Pada usia tersebut, sistem kekebalan tubuh dan saluran pencernaan masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap infeksi, gangguan pencernaan, maupun komplikasi lain. Telur mentah juga dapat membawa mikroorganisme berbahaya apabila tidak ditangani atau disimpan dengan benar. Pemberiannya tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan pengobatan yang sesuai.

Demam pada bayi berusia kurang dari tiga bulan harus diperlakukan sebagai kondisi yang membutuhkan perhatian medis segera. Orang tua atau pengasuh sebaiknya mengukur suhu dengan alat yang tepat, mencatat gejala yang menyertai, dan segera menghubungi fasilitas kesehatan. Hindari memberikan makanan, minuman, obat, atau bahan tradisional tanpa arahan dokter. Setiap informasi tentang kondisi Alena hendaknya menjadi pengingat agar keluarga mengutamakan pertolongan profesional, bukan bukti untuk menyalahkan pihak tertentu sebelum fakta medis dinyatakan secara resmi.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak memberikan telur mentah maupun setengah matang kepada bayi dan anak, termasuk ketika anak sedang mengalami demam. Peringatan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi IDAI oleh Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K).

Dalam pernyataan itu, telur mentah dan telur setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak karena dapat membawa risiko infeksi. Risiko tersebut menjadi alasan penting bagi orang tua untuk memperhatikan cara pengolahan makanan sebelum memberikannya kepada anak. Telur sebaiknya tidak disajikan dalam kondisi mentah atau belum matang sepenuhnya kepada kelompok usia tersebut.

Peringatan IDAI ini menegaskan bahwa pemilihan makanan bagi bayi dan anak perlu dilakukan secara hati-hati. Orang tua tidak hanya perlu mempertimbangkan kandungan gizi makanan, tetapi juga bentuk penyajiannya. Telur yang masih mentah atau setengah matang termasuk makanan yang tidak dianjurkan untuk bayi dan anak sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi tersebut.

Penjelasan Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), sebagai Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjadi rujukan penting dalam memahami alasan telur mentah dan setengah matang perlu dihindari. Ketika anak demam, perhatian terhadap makanan yang diberikan tetap diperlukan, dan telur dalam kondisi mentah atau setengah matang tidak dianjurkan karena dapat membawa risiko infeksi. Dengan mengikuti peringatan resmi IDAI, orang tua dapat lebih cermat dalam menentukan makanan yang diberikan kepada bayi dan anak.

Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella, meskipun cangkangnya terlihat bersih dan tidak retak. Bakteri ini dapat masuk ke dalam telur sebelum cangkang terbentuk atau mencemari makanan saat telur dipecahkan dan diolah. Karena itu, telur yang belum matang sempurna tidak dapat dianggap aman hanya berdasarkan penampilan, bau, atau kesegarannya.

Jika tertelan, Salmonella dapat menyebabkan salmonelosis, yaitu infeksi yang terutama menyerang saluran pencernaan. Gejalanya dapat berupa diare, muntah, nyeri perut, demam, dan kehilangan cairan. Pada bayi dan anak kecil, terutama bayi baru lahir, infeksi dapat berkembang lebih serius karena daya tahan tubuh dan kemampuan menjaga keseimbangan cairan belum sekuat orang dewasa. Risiko tersebut menjadi alasan penting untuk tidak memberikan telur mentah, adonan yang mengandung telur mentah, atau telur setengah matang kepada bayi.

Pedoman keamanan pangan dari lembaga kesehatan masyarakat, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan, menganjurkan agar telur dimasak sampai putih dan kuningnya matang. Orang tua dan pengasuh juga sebaiknya tidak mencoba bahan makanan yang belum terbukti manfaat serta keamanannya sebagai penanganan demam. Pemberian bahan mentah kepada bayi yang sedang demam bukan pengganti penilaian tenaga kesehatan dan dapat menambah risiko infeksi saluran pencernaan.

Perhatian khusus diperlukan apabila demam terjadi pada bayi baru lahir. Dalam keadaan tersebut, orang tua atau pengasuh perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan, bukan mengandalkan pengobatan rumahan yang berisiko. Kasus infeksi akibat makanan, termasuk yang berkaitan dengan Salmonella, menjadi pengingat berbasis sumber kesehatan masyarakat agar keluarga menghindari bahan pangan mentah dan praktik perawatan rumahan yang belum terbukti aman, terutama pada bayi.