Permintaan Program MBG Dorong Kebutuhan Ayam, Bapanas Siapkan Subsidi Distribusi

oleh -22 Dilihat
oleh
Permintaan Program MBG Dorong Kebutuhan Ayam, Bapanas Siapkan Subsidi Distribusi

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Komoditas daging ayam ras kembali memberikan andil terhadap inflasi nasional sepanjang September. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pergerakan harga ayam menjadi salah satu komponen yang turut memengaruhi perkembangan inflasi pada periode tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan harga pangan, termasuk daging ayam ras, masih memiliki peran penting dalam dinamika harga konsumen di berbagai daerah.

Peningkatan permintaan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan harga tersebut. Kebutuhan ayam meningkat seiring pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah wilayah. Program ini memerlukan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan, sehingga permintaan dari penyedia makanan maupun satuan pelaksana dapat memengaruhi keseimbangan kebutuhan dan ketersediaan ayam di pasar. Selain faktor permintaan, harga pakan ternak juga menjadi unsur yang memengaruhi kondisi komoditas daging ayam ras. Perubahan biaya pakan dapat meningkatkan biaya produksi dan kemudian tercermin dalam pembentukan harga di tingkat peternak hingga konsumen.

Meski demikian, kenaikan harga ayam belum terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Hermawan, menyampaikan bahwa sebagian besar daerah masih mencatat harga daging ayam ras yang relatif murah dan berada dalam batas kewajaran. Tekanan harga lebih terasa di daerah tertentu, terutama wilayah yang memiliki keterbatasan pasokan atau jumlah produsen ayam yang tidak banyak. Perbedaan kondisi distribusi, kapasitas produksi, serta jarak sentra peternakan dan pasar turut menentukan variasi harga antardaerah. Dengan demikian, kontribusi daging ayam terhadap inflasi nasional tidak dapat dimaknai sebagai lonjakan harga yang berlangsung di seluruh wilayah, melainkan sebagai tekanan yang lebih terkonsentrasi pada lokasi tertentu.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga kelancaran pasokan ayam di tengah meningkatnya kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu instrumen yang dipertimbangkan ialah subsidi biaya angkut bagi pengiriman ayam dari daerah sentra produksi menuju wilayah yang bukan merupakan pusat produksi dan sedang mengalami perubahan harga. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat konektivitas antardaerah, terutama ketika pasokan lokal tidak mencukupi kebutuhan masyarakat.

Selama ini, pemerintah daerah di wilayah nonprodusen kerap menghadapi kendala berupa tingginya ongkos transportasi dari luar wilayah. Biaya tersebut dapat meningkat karena jarak pengiriman, keterbatasan sarana distribusi, serta kebutuhan menjaga kualitas ayam selama perjalanan. Daerah yang tidak menghasilkan ayam ras dalam jumlah memadai menjadi lebih rentan mengalami gangguan pasokan ketika permintaan naik. Tanpa dukungan distribusi, tambahan kebutuhan dari program pemerintah berpotensi memperbesar tekanan pada rantai pasok setempat.

Hermawan menjelaskan bahwa anggaran Bapanas untuk mendukung langkah tersebut masih tersedia. Melalui anggaran itu, pasokan dari daerah produsen akan diarahkan ke wilayah yang mengalami kekurangan, sehingga distribusi dapat berlangsung lebih teratur. Pengiriman diharapkan menyesuaikan kondisi pasokan dan kebutuhan masing-masing daerah, bukan hanya berfokus pada wilayah yang selama ini memiliki akses logistik lebih baik.

Subsidi angkutan tersebut berfungsi sebagai dukungan distribusi dan pemerataan pasokan, bukan sebagai kebijakan untuk menetapkan harga ayam pada tingkat tertentu. Pemerintah tetap membiarkan pembentukan harga berlangsung sesuai kondisi pasar, sementara bantuan diberikan untuk mengurangi beban biaya pengiriman yang dapat menghambat perpindahan komoditas. Dengan pendekatan ini, wilayah nonprodusen memperoleh peluang lebih besar untuk menerima pasokan dari sentra produksi secara berkelanjutan, terutama saat kebutuhan meningkat atau terjadi perubahan harga yang cukup tajam.

Berdasarkan pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 2 Oktober, rata-rata harga daging ayam ras secara nasional tercatat sebesar Rp40.961 per kilogram. Angka tersebut menunjukkan adanya penurunan dibandingkan periode sebelumnya, meskipun kebutuhan terhadap komoditas pangan ini terus meningkat seiring bertambahnya permintaan dari berbagai sektor.

Jika dibandingkan dengan sepekan sebelumnya, ketika harga berada pada level Rp41.218 per kilogram, rata-rata nasional telah berkurang 0,62 persen. Penurunan juga terlihat dalam perbandingan bulanan. Pada bulan sebelumnya, harga daging ayam ras tercatat sebesar Rp41.300 per kilogram, sehingga angka terbaru lebih rendah 0,82 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa secara agregat harga ayam secara nasional sedang bergerak turun. Namun, perkembangan di tingkat daerah tidak sepenuhnya seragam. Sejumlah wilayah masih mengalami fluktuasi harga yang dipengaruhi oleh keterbatasan produsen, gangguan kelancaran distribusi, atau pasokan yang belum merata. Kondisi setempat ini dapat membuat harga di beberapa pasar berbeda dari rata-rata nasional.

Hermawan menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap daging ayam ras mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan ketersediaan pasokan dan distribusi yang memadai agar tidak memicu tekanan harga di tingkat konsumen. Meski demikian, ia menilai perkembangan harga yang terjadi masih berada dalam batas kewajaran.

Menurut Hermawan, peningkatan kebutuhan belum menyebabkan lonjakan harga yang berlaku secara luas di seluruh wilayah. Perubahan harga lebih banyak bersifat lokal dan berkaitan dengan situasi pasokan masing-masing daerah. Dengan demikian, pemantauan berkala tetap diperlukan untuk mengantisipasi potensi kenaikan, sekaligus memastikan harga daging ayam ras tetap terjaga ketika kebutuhan masyarakat terus bertambah.

Perkembangan harga daging ayam ras menunjukkan perubahan yang perlu diperhatikan dalam dinamika pasokan dan penerimaan peternak unggas domestik. Komoditas tersebut mengalami deflasi sebesar 6,20 persen pada April 2026. Tekanan penurunan harga berlanjut pada bulan berikutnya, ketika daging ayam ras kembali mencatat deflasi sebesar 3,83 persen pada Mei 2026. Data itu menggambarkan adanya penurunan harga pada dua bulan berturut-turut.

Perubahan harga tersebut berlangsung bersamaan dengan pergerakan indeks harga yang diterima petani unggas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks berada pada level 138,19 pada Maret 2026. Angka itu kemudian turun menjadi 132,22 pada April dan kembali melemah menjadi 130,57 pada Mei. Penurunan berlanjut pada Juni, ketika indeks tercatat sebesar 127,23, sebelum mencapai 127,02 pada Juli 2026.

Rangkaian penurunan indeks dari Maret hingga Juli menunjukkan perubahan pada harga yang diterima petani unggas selama periode tersebut. Bagi peternak unggas dalam negeri, periode deflasi memberikan tekanan karena terjadi bersamaan dengan penurunan indeks harga yang diterima. Data BPS memperlihatkan bahwa posisi indeks pada Juli lebih rendah dibandingkan dengan pencapaiannya pada Maret, April, maupun Mei 2026.

Setelah mencapai 127,02 pada Juli, indeks harga yang diterima petani unggas kembali menguat pada Agustus menjadi 132,43. Penguatan tersebut berlanjut pada September 2026, dengan indeks mencapai 134,99. Perubahan pada Agustus dan September menunjukkan adanya perubahan pada penerimaan petani unggas setelah periode penurunan sebelumnya. Dengan demikian, perkembangan harga ayam ras dan pergerakan indeks penerimaan petani tercatat mengalami beberapa fase, mulai dari deflasi pada April dan Mei, penurunan indeks hingga Juli, lalu penguatan indeks pada Agustus dan September 2026.