Jakarta | Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian Republik Indonesia pada 1 Oktober 2026. Pelantikan tersebut menempatkannya dalam Kabinet Merah Putih sekaligus menandai dimulainya mandat baru untuk memimpin kementerian yang memiliki peran penting dalam pengembangan sektor industri nasional. Posisi ini menjadi dasar untuk melihat arah kebijakan perindustrian pada periode pemerintahan tersebut, terutama dalam kaitannya dengan penguatan kapasitas industri dan kontribusinya terhadap perekonomian.
Sebagai Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji menghadapi tanggung jawab untuk memastikan industri tetap menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini tidak hanya berkaitan dengan kegiatan produksi, tetapi juga memiliki hubungan luas dengan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, kepemimpinan di Kementerian Perindustrian akan menjadi bagian penting dalam menentukan perhatian pemerintah terhadap perkembangan industri dan perannya dalam mendukung agenda ekonomi nasional.
Mandat tersebut juga mencakup komitmen untuk mendorong penyerapan tenaga kerja melalui penguatan peran industri. Industri yang berkembang dapat membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk memperoleh kesempatan kerja, sekaligus memperluas kontribusi sektor produktif terhadap kesejahteraan ekonomi. Komitmen Sarmuji terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja menjadi pijakan awal dalam membahas strategi yang akan dijalankan selama memimpin kementerian. Dengan demikian, pelantikannya bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan awal dari pembahasan mengenai bagaimana kebijakan perindustrian diarahkan untuk memperkuat industri serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Sektor perindustrian memiliki posisi penting dalam struktur perekonomian nasional karena berperan dalam menghasilkan barang, membangun rantai pasok, dan menciptakan kesempatan kerja. Namun, kontribusinya terhadap produk domestik bruto disebut baru mencapai sekitar 19 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa industri telah menjadi salah satu penopang ekonomi, tetapi perannya masih perlu diperkuat agar mampu memberikan dampak yang lebih besar dan lebih merata bagi pembangunan nasional.
Kontribusi sebesar itu dipandang belum sepenuhnya mencerminkan potensi industri Indonesia. Dengan basis produksi, sumber daya, serta pasar domestik yang besar, sektor ini memiliki ruang untuk berkembang melalui peningkatan kapasitas dan penguatan daya saing. Dorongan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan perusahaan industri, tetapi juga dengan kemampuan sektor ini menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Semakin besar aktivitas industri, semakin kuat pula keterkaitannya dengan sektor bahan baku, distribusi, perdagangan, dan berbagai layanan pendukung.
Peningkatan kontribusi industri memiliki hubungan langsung dengan pertumbuhan ekonomi. Industri yang berkembang dapat memperluas kegiatan produksi, meningkatkan perputaran ekonomi, dan memperkuat fondasi perekonomian nasional. Pada saat yang sama, ekspansi sektor industri berpotensi membuka lebih banyak lapangan kerja, baik melalui penyerapan tenaga kerja secara langsung maupun melalui rantai usaha yang terbentuk di sekitarnya. Karena itu, penguatan industri tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar kenaikan angka kontribusi terhadap produk domestik bruto, melainkan juga untuk memastikan manfaat pertumbuhan dirasakan oleh masyarakat melalui kesempatan kerja dan aktivitas ekonomi yang lebih luas. Dalam kerangka strategi Muhammad Sarmuji, perhatian terhadap penguatan sektor industri menjadi bagian penting dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kokoh.
Kementerian Perindustrian menaruh perhatian besar pada daya saing industri, produktivitas, dan kedalaman industri sebagai unsur penting dalam memperkuat fondasi perekonomian nasional. Ketiga persoalan tersebut saling berkaitan. Daya saing menentukan kemampuan industri Indonesia untuk menghasilkan barang yang berkualitas, efisien, dan mampu bertahan dalam persaingan. Produktivitas berkaitan dengan kemampuan perusahaan mengoptimalkan tenaga kerja, teknologi, bahan baku, serta proses produksi. Sementara itu, kedalaman industri menunjukkan seberapa kuat keterhubungan berbagai kegiatan industri, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengolahan produk bernilai tambah.
Perhatian terhadap aspek tersebut tidak hanya menyangkut kinerja perusahaan secara individual, tetapi juga kebutuhan untuk membangun ekosistem industri yang lebih kokoh. Ekosistem yang kuat memerlukan hubungan yang saling mendukung produsen, pemasok, tenaga kerja, dan berbagai kegiatan pengolahan. Dengan demikian, industri tidak berjalan secara terpisah, melainkan membentuk rantai produksi yang mampu menciptakan nilai tambah lebih besar di dalam negeri. Penguatan struktur industri menjadi penting agar kegiatan manufaktur memiliki keterkaitan yang lebih luas dan mampu mendorong pertumbuhan sektor-sektor pendukung.
Sektor padat karya menjadi salah satu fokus dalam perhatian tersebut karena memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Perannya tidak hanya terlihat dari kontribusinya terhadap kegiatan produksi, tetapi juga dari keterkaitannya dengan pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat. Karena itu, peningkatan daya saing dan produktivitas pada sektor ini perlu berjalan seiring dengan penguatan struktur industrinya. Industri padat karya yang produktif dan terhubung dengan ekosistem domestik dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pendekatan tersebut menempatkan penguatan industri sebagai upaya menyeluruh, bukan sekadar peningkatan kapasitas produksi, melainkan juga pembentukan struktur yang lebih kokoh, saling terhubung, dan mampu menciptakan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Penguatan sektor padat karya menjadi salah satu fokus penting dalam upaya memperkuat industri nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sektor ini memiliki peran besar karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan, sekaligus menggerakkan aktivitas produksi, perdagangan, dan rantai pasok. Di sektor padat karya yang mendapat perhatian adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Pengembangan TPT dipandang penting untuk menjaga kapasitas industri, memperluas peluang kerja, serta meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Arah penguatan industri tekstil tersebut tidak hanya bertumpu pada peningkatan volume produksi. Produktivitas dan daya saing juga menjadi sasaran utama agar industri mampu berkembang secara berkelanjutan. Salah satu upaya yang diarahkan untuk mencapai tujuan itu adalah penggunaan teknologi mesin terbaru dalam proses industri. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat mendukung efisiensi dan kualitas produksi, sehingga pelaku industri TPT memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi persaingan. Modernisasi peralatan juga menjadi bagian dari penyesuaian industri terhadap kebutuhan produksi yang terus berkembang.
Selain teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia industri menjadi unsur yang tidak terpisahkan. Tenaga kerja perlu memiliki kapasitas yang sesuai dengan perubahan proses dan kebutuhan industri yang semakin dinamis. Dengan penguatan kompetensi tersebut, pemanfaatan mesin dan teknologi terbaru dapat berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan tenaga kerja. Keterpaduan teknologi dan sumber daya manusia menjadi landasan untuk memperkuat produktivitas, daya saing, serta keberlanjutan industri tekstil dan produk tekstil sebagai sektor padat karya.
Pokok pembahasan mengenai penguatan sektor padat karya, khususnya industri tekstil dan produk tekstil, disampaikan dalam dialog Maria Katarina bersama Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dalam program Nation Hub pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Baca juga: Strategi Optimalisasi Aset Properti Telkom: Kerja Sama dengan Badan Gizi Nasional | Jateng Siap Menyambut MTQ Nasional XXXI dengan Proyeksi Ekonomi Melesat | Momentum PON Pantai Ancol 2026 untuk Penguatan Ekonomi Jakarta

