Jakarta, Senin 27 Juli 2026 — Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Warga Kwini 8 Bersatu menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Silang Selatan Monas, tepatnya area Kolam B depan Menara BSI, Jakarta Pusat. Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.34 WIB tersebut diikuti kurang lebih 50 peserta dengan membawa sejumlah tuntutan terkait sengketa tanah di Jalan Kwini Nomor 8, Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.
Massa aksi berasal dari sejumlah kelompok dan organisasi masyarakat, di antaranya Aliansi Rakyat Bersatu untuk Reformasi Agraria, Forum Warga Kwini 8, Sahabat Juang Rakyat, Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM), Aliansi Pejuang Tanah untuk Rakyat, VolksFront, serta GRPB. Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana penggusuran sebelum adanya kejelasan hukum mengenai status lahan yang selama ini ditempati warga.
Dalam aksi tersebut, warga membawa berbagai perlengkapan pendukung, seperti satu unit mobil pengeras suara, satu unit ambulans, megaphone, spanduk, poster, bendera Merah Putih, bendera organisasi, hingga replika keranda mayat sebagai simbol matinya rasa keadilan yang mereka rasakan. Selain itu, massa juga mendirikan tiga tenda keprihatinan lengkap dengan satu unit genset untuk mendukung rencana aksi menginap.
Melalui orasi yang disampaikan secara bergantian, perwakilan warga menegaskan bahwa mereka meminta pemerintah dan pihak terkait membuka ruang dialog dalam penyelesaian sengketa tersebut. Warga mengklaim telah menempati kawasan Kwini 8 secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu dan meminta agar hak-hak mereka tidak diabaikan dalam proses penyelesaian konflik pertanahan.
Sejumlah poster yang dibawa massa memuat berbagai seruan, di antaranya tuntutan agar tanah warga dikembalikan, penolakan penggusuran, pemberantasan mafia tanah, serta permintaan agar proses penyelesaian dilakukan secara transparan dan berkeadilan. Massa juga menyampaikan keberatan terhadap penerbitan sertifikat hak pengelolaan yang menurut mereka perlu dikaji kembali dari sisi prosedur.
Sekitar pukul 16.07 WIB, massa aksi menyanyikan lagu Gugur Bunga sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol perjuangan mereka. Selanjutnya pada pukul 16.35 WIB, peserta aksi bergeser menuju trotoar Silang Selatan Monas untuk mendirikan tenda keprihatinan. Sekitar pukul 17.10 WIB, kegiatan penyampaian aspirasi secara terbuka dinyatakan selesai, sementara kendaraan komando meninggalkan lokasi dan sebagian massa tetap bertahan.
Hingga Senin malam 27 Juli 2026, situasi di lokasi terpantau kondusif. Massa aksi menyatakan akan tetap bertahan dengan melakukan aksi menginap hingga 29 Juli 2026 sebagai bentuk pengawalan terhadap tuntutan mereka. Berdasarkan informasi yang disampaikan peserta aksi, rencana pengosongan lahan oleh Kodam Jaya disebut akan berlangsung pada 29 Juli 2026. Warga menyatakan akan tetap berada di lokasi apabila rencana tersebut dilaksanakan, sementara apabila agenda penggusuran dibatalkan, massa akan kembali ke tempat masing-masing.
Pewarta: Abdul Latif
- LSM LIRA: Jangan Alihkan Fokus Publik, Berantas Korupsi Harus Jadi Prioritas Nasional
- Berangkat dari Cikarang, Massa LBH Harimau Raya Datangi Kejaksaan Agung Bawa Tuntutan Dugaan Ketidakprofesionalan Aparat Penegak Hukum
- Aksi Damai Majelis Ormas Islam di Monas Sampaikan Dukungan untuk Palestina, Situasi Berlangsung Kondusif
