JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 21 September 2026, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) telah mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari strategi untuk melestarikan naskah kuno Nusantara. Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap tantangan yang dihadapi dalam upaya preservasi, terutama mengingat banyaknya naskah yang berisiko mengalami kerusakan akibat kondisi lingkungan dan waktu yang panjang. Dengan memanfaatkan AI, Perpusnas dapat secara efektif mengelola dan merawat koleksi naskah yang berharga ini.
Salah satu manfaat utama penggunaan AI dalam pelestarian naskah kuno adalah kemampuannya untuk menganalisis dan mengarsipkan data dengan akurasi tinggi. Teknologi pemrosesan bahasa alami (NLP) memungkinkan AI untuk memahami konteks dan isi naskah, sehingga memudahkan dalam pengkategorian dan pencarian informasi. Proses ini tidak hanya mempercepat aksesibilitas naskah, tetapi juga meningkatkan peluang bagi peneliti dan masyarakat untuk belajar dari warisan budaya yang tertuang dalam naskah tersebut.
Lebih lanjut, AI juga hadir dalam bentuk aplikasi pengenalan karakter optik (OCR) yang dapat mengkonversi konten teks dari naskah kuno yang berformat fisik menjadi format digital. Proses digitasi naskah kuno ini berkontribusi besar dalam preservasi, memberikan kesempatan bagi generasi mendatang untuk mengakses dan mengkaji naskah-naskah tersebut tanpa merusak sumber asli. Kolaborasi teknologi canggih dan cagar budaya ini memastikan bahwa informasi yang terkandung dalam naskah kuno tidak akan hilang dan tetap dapat dilestarikan untuk masa depan.
Penggunaan AI dalam pelestarian naskah kuno bukan hanya sekadar inovasi teknologi, tetapi juga mencerminkan komitmen Perpusnas dalam menjaga memori kolektif bangsa. Melalui pendekatan ini, upaya untuk melestarikan warisan budaya tidak hanya menjadi lebih efisien, tetapi juga lebih inklusif, membuka peluang bagi berbagai kalangan untuk berkontribusi dalam pelestarian serta menikmati kekayaan sejarah yang tersimpan dalam naskah kuno Nusantara.
Inovasi dalam teknologi sering kali membawa dampak positif bagi berbagai bidang, termasuk dalam upaya pelestarian naskah kuno di Nusantara. Salah satu terobosan yang signifikan adalah pengembangan algoritma deteksi kerusakan yang dirancang oleh seorang staf yang merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Algoritma ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat dan jenis kerusakan yang terdapat pada naskah kuno dengan akurasi yang tinggi.
Penggunaan algoritma ini sangat penting karena naskah kuno sering kali terpapar berbagai faktor yang dapat menimbulkan kerusakan, seperti kelembapan, paparan cahaya, dan bahkan serangan dari serangga. Melalui teknologi ini, para ahli dapat dengan lebih mudah mendapatkan informasi yang akurat mengenai kondisi fisik naskah tanpa harus mengganggu integritas bahan tersebut. Dengan cara ini, langkah-langkah perawatan yang lebih tepat dan efektif dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian naskah-naskah yang berharga ini.
Algoritma deteksi kerusakan yang dikembangkan bukan hanya meliputi pengenalan pola kerusakan yang umum, tetapi juga mampu menganalisis faktor-faktor spesifik yang mungkin berkontribusi pada kerusakan tersebut. Hal ini mencakup klasifikasi kerusakan, seperti robek, pudar, atau terdapat noda. Hasil analisis ini akan menjadi bahan pertimbangan yang sangat penting bagi konservator dalam menentukan tindakan yang diperlukan untuk perawatan lebih lanjut.
Dengan peran yang semakin penting dari teknologi kecerdasan buatan dalam pelestarian naskah kuno, harapan untuk menjaga warisan budaya dan sejarah semakin meningkat. Algoritma ini bukan hanya sebuah inovasi teknis, tetapi juga sebuah langkah maju dalam memahami dan merawat naskah kuno yang menjadi bagian dari identitas dan budaya Nusantara.
Penelitian dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) dalam melestarikan naskah kuno Nusantara telah mengalami kemajuan yang signifikan. Namun, proses ini tidak tanpa tantangan. Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya pengetahuan dan sumber daya untuk membaca dan menginterpretasi aksara tradisional yang kurang umum. Aksara Nusantara, seperti aksara Sunda dan Jawa, memiliki karakteristik unik yang seringkali tidak dikenali oleh banyak model AI yang ada saat ini.
Tantangan lebih lanjut muncul dari adanya variasi dalam cara penulisan aksara, yang dapat berbeda-beda satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini makin memperumit pengembangan algoritma AI yang dirancang untuk mengenali dan memahami struktur bahasa yang digunakan dalam naskah-naskah tersebut. Model-model AI yang ada saat ini sering kali dilatih dengan korpus data yang terbatas, sehingga kinerjanya tidak optimal ketika dihadapkan dengan bentuk dan variasi aksara yang berbeda.
Di samping itu, proses pengembangan teknologi pengenalan aksara (OCR) untuk aksara tradisional masih mengalami hambatan. Meskipun sudah ada beberapa kemajuan dalam teknologi pengolahan citra, mengonversi naskah yang ditulis dalam aksara Nusantara ke dalam format digital yang mudah dibaca tetap menjadi masalah yang kompleks. Banyak naskah kuno yang tergolong dalam kondisi fisik yang buruk, sehingga mempersulit analisis dan pembacaan akurat oleh sistem AI.
Selain faktor teknis, tantangan lain muncul dari aspek budaya dan sosial. Pelestarian naskah kuno tidak hanya melibatkan penerapan teknologi, tetapi juga memerlukan kesadaran dan dukungan dari masyarakat untuk menjaga warisan budaya yang tak ternilai ini. Tanpa keterlibatan aktif dari generasi muda dan komunitas lokal, upaya pelestarian melalui AI tidak akan mencapai tujuannya secara menyeluruh. Dengan demikian, penting untuk mengatasi tantangan ini secara holistik agar manfaat AI dalam memahami naskah kuno Nusantara dapat terwujud dengan maksimal.
Salah satu langkah penting dalam melestarikan naskah kuno Nusantara adalah dengan mendorong partisipasi masyarakat dan komunitas. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi dan memelihara warisan budaya, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya naskah kuno sebagai bagian dari sejarah dan identitas bangsa. Dalam konteks ini, Perpusnas (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia) berperan aktif dalam memperkenalkan dan mempromosikan sistem Khazanah Pustaka Nusantara atau yang lebih dikenal dengan Khastara.
Khastara merupakan platform yang dirancang untuk menginkorporasikan koleksi naskah kuno dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan mendaftarkan koleksi naskah kuno ke dalam sistem ini, masyarakat dan komunitas diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya pelestarian. Proses pendaftaran naskah kuno ini memberikan kesempatan bagi pemilik naskah atau institusi untuk menyimpan dan melindungi koleksi mereka, serta memastikan bahwa informasi yang ada pada naskah tersebut dapat diakses oleh publik. Keberadaan data yang terorganisir dengan baik ini diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat mengenai naskah-naskah kuno yang ada, menjadikannya lebih dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang.
Selanjutnya, partisipasi masyarakat dalam mendokumentasikan dan mendaftarkan naskah kuno juga berimplikasi pada peningkatan akses informasi. Dengan adanya perhatian dan dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, diharapkan upaya pelestarian naskah kuno dapat lebih maksimal. Informasi berkaitan dengan naskah kuno tidak hanya akan menjadi pengetahuan yang terkurung dalam institusi tertentu, tetapi juga dapat tersebar luas ke seluruh elemen masyarakat. Ini adalah modal penting untuk memastikan kelestarian naskah kuno serta mempromosikannya sebagai aset budaya yang berharga bagi Indonesia.

