DVI Polda Kalsel Kenali 63 Korban Virgo Transport 8, Jatim Terbanyak

oleh -222 Dilihat
oleh
DVI Polda Kalsel Kenali 63 Korban Virgo Transport 8, Jatim Terbanyak

BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan mencatat perkembangan terbaru dalam proses identifikasi korban meninggal kapal Virgo Transport 8. Hingga informasi ini disampaikan, sebanyak 63 jenazah telah berhasil dikenali oleh tim. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan para korban, terutama untuk memastikan identitas masing-masing jenazah dapat disampaikan kepada pihak keluarga secara tepat.

Dari jumlah korban yang telah teridentifikasi, Jawa Timur menjadi daerah asal dengan jumlah terbanyak. Sebanyak 28 korban yang dikenali tercatat berasal dari provinsi tersebut. Data itu menunjukkan bahwa korban asal Jawa Timur menjadi kelompok terbesar di korban yang identitasnya telah berhasil dipastikan oleh Tim DVI Polda Kalimantan Selatan.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Kalimantan Selatan, Kombes Pol dr Much Sofwan, menyebutkan bahwa total 63 jenazah telah teridentifikasi. Ia juga menyampaikan bahwa 28 di antaranya merupakan korban asal Jawa Timur. Keterangan mengenai perkembangan identifikasi tersebut disampaikan di Banjarmasin pada Minggu.

Penyampaian data itu memberikan gambaran mengenai hasil terbaru kerja Tim DVI Polda Kalimantan Selatan dalam mengenali korban meninggal kapal Virgo Transport 8. Dengan 63 jenazah yang telah dikenali, informasi mengenai asal daerah korban juga mulai terpetakan. Jawa Timur tercatat sebagai daerah asal dengan jumlah korban teridentifikasi paling banyak, yakni 28 orang.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan telah berhasil mengenali 63 jenazah korban Virgo Transport 8. Berdasarkan daerah asal, Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban teridentifikasi paling banyak, yakni 28 orang. Angka tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai daerah asal utama dalam daftar identifikasi yang telah disampaikan oleh tim.

Daerah asal terbanyak berikutnya adalah Jawa Tengah dengan 16 korban. Jumlah ini menunjukkan bahwa korban yang berasal dari Jawa Tengah menjadi kelompok terbesar kedua setelah Jawa Timur. Jika digabungkan, korban dari kedua provinsi tersebut mencapai 44 orang atau sebagian besar dari keseluruhan 63 jenazah yang telah dikenali.

Selain itu, terdapat delapan korban yang tercatat berasal dari Kalimantan Selatan. Provinsi ini berada pada urutan ketiga dalam distribusi asal daerah korban. Sementara itu, Jawa Barat menyumbang enam korban teridentifikasi dan menempati urutan keempat. Rincian tersebut memperlihatkan bahwa korban berasal dari beberapa wilayah, dengan konsentrasi terbesar berada di Pulau Jawa.

Secara keseluruhan, jumlah korban dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat mencapai 58 orang. Dengan demikian, masih terdapat lima jenazah lain dalam total 63 korban yang telah dikenali, tetapi asal daerahnya tidak dirinci dalam data tersebut. Penyusunan berdasarkan daerah asal membantu memberikan gambaran mengenai sebaran korban sekaligus memperjelas capaian proses identifikasi oleh tim DVI. Setiap angka menjadi bagian dari pencatatan resmi untuk mendukung pemberitahuan kepada keluarga serta penanganan lanjutan terhadap para korban.

Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin masih menangani proses identifikasi jenazah korban insiden Virgo Transport 8. Hingga tahap terbaru, sebanyak 80 jenazah telah diterima dan ditangani oleh rumah sakit bersama tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan. Dari jumlah tersebut, 63 jenazah telah berhasil dikenali. Sementara itu, 17 jenazah lainnya masih berada dalam proses identifikasi karena data yang tersedia belum sepenuhnya dapat dipastikan.

Proses pengenalan korban dilakukan secara bertahap dan membutuhkan ketelitian. Tim DVI tidak hanya mengandalkan satu jenis informasi, tetapi memeriksa berbagai data medis, ciri fisik, barang pribadi, serta informasi lain yang relevan. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mencegah kekeliruan, terutama ketika kondisi jenazah membuat pengenalan secara visual tidak dapat dilakukan secara optimal.

Untuk membantu memastikan identitas korban, sampel DNA juga dikirimkan ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta. Pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dalam proses tersebut, khususnya bagi jenazah yang belum dapat dikenali melalui metode pemeriksaan lain. Hasil analisis DNA nantinya akan dibandingkan dengan sampel pembanding yang diperoleh dari keluarga korban.

Selain memeriksa data post mortem dari jenazah, tim DVI terus mengumpulkan dan mencocokkan data ante mortem yang disampaikan keluarga. Data ante mortem dapat meliputi informasi medis, catatan gigi, sidik jari, ciri khusus, dan sampel biologis keluarga. Pencocokan kedua kelompok data ini dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan identitas 17 korban yang masih belum teridentifikasi. Selama hasil pemeriksaan belum memenuhi standar kepastian, proses identifikasi akan tetap dilanjutkan dengan mengutamakan ketepatan dan penghormatan terhadap para korban serta keluarga.

Proses identifikasi korban kecelakaan kapal Virgo Transport 8 pertama kali dilakukan pada Senin, 14 September. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan memulai pemeriksaan terhadap jenazah yang telah ditemukan dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Di rumah sakit tersebut, setiap jenazah menjalani pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan identitasnya berdasarkan prosedur yang berlaku.

Jenazah pertama yang berhasil dikenali adalah Reyner Fausta Yosilianto, berusia 22 tahun, warga Malang, Jawa Timur. Identitas Reyner dipastikan melalui catatan sidik jari. Pencocokan data tersebut menjadi titik awal rangkaian pengenalan jenazah korban kecelakaan kapal Virgo Transport 8. Keberhasilan ini kemudian menjadi dasar bagi tim untuk melanjutkan pemeriksaan terhadap jenazah lain yang telah diterima di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.

Dalam menjalankan tugasnya, tim DVI memeriksa berbagai data yang berkaitan dengan korban. Selain pemeriksaan terhadap jenazah, tim juga mencocokkan data ante mortem yang disampaikan keluarga atau diperoleh dari sumber terkait. Data ante mortem dapat berupa informasi identitas, ciri fisik, rekam medis, sidik jari, catatan gigi, hingga informasi lain yang membantu proses pengenalan. Pemeriksaan dan pencocokan dilakukan segera setelah jenazah diterima agar proses identifikasi dapat berlangsung secara tertib dan akurat.

Sofwan mengimbau keluarga korban untuk tetap bersabar selama seluruh tahapan pemeriksaan berlangsung. Ia menjelaskan bahwa tim bekerja tanpa libur, termasuk pada Sabtu dan Minggu, untuk mempercepat proses pengenalan korban. Setiap jenazah yang tiba langsung diperiksa dan datanya segera dicocokkan dengan informasi ante mortem yang tersedia. Dengan demikian, keluarga diharapkan menunggu hasil resmi dari tim DVI serta memberikan data yang diperlukan untuk mendukung kelancaran identifikasi.