JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Demian Aditya dan Sara Wijayanto buka suara setelah putusan perceraian mereka disampaikan. Melalui akun Instagram masing-masing, keduanya menegaskan bahwa perpisahan tersebut bukan disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun kehadiran orang ketiga. Penegasan itu menjadi bagian penting dari pernyataan yang mereka sampaikan kepada publik setelah keputusan cerai.
Dalam pernyataan tersebut, Demian dan Sara sama-sama meminta agar kabar mengenai perceraian mereka dipahami sesuai dengan informasi yang disampaikan secara langsung. Keduanya menepis anggapan bahwa berakhirnya pernikahan berkaitan dengan tindakan kekerasan di dalam rumah tangga. Mereka juga menegaskan tidak ada orang ketiga yang menjadi penyebab perpisahan tersebut.
Pernyataan melalui media sosial itu disampaikan setelah putusan cerai, ketika perhatian publik tertuju pada kabar mengenai hubungan keduanya. Demian dan Sara memilih menggunakan akun Instagram masing-masing untuk memberikan penjelasan, sehingga informasi yang diterima masyarakat berasal dari pihak yang bersangkutan. Pesan tersebut sekaligus memperjelas bahwa isu KDRT dan dugaan keterlibatan orang ketiga tidak menjadi alasan di balik perceraian.
Penegasan Demian dan Sara menunjukkan keinginan keduanya untuk meluruskan pemberitaan serta membatasi pemahaman publik pada hal-hal yang telah mereka sampaikan. Mereka tidak mengaitkan perpisahan itu dengan kekerasan dalam rumah tangga ataupun hubungan dengan pihak lain. Setelah putusan cerai, pernyataan tersebut menjadi keterangan resmi dari masing-masing pihak mengenai penyebab yang tidak melatarbelakangi berakhirnya pernikahan mereka.
Sara Wijayanto menyampaikan kabar mengenai keputusan berpisah kepada para pengikutnya yang ia sapa dengan sebutan Saraddicts. Ia mengakui bahwa menyampaikan informasi tersebut bukan perkara mudah. Selama bersama Demian Aditya, keduanya telah menjalani perjalanan panjang, membangun kehidupan, berusaha mempertahankan hubungan, serta melewati berbagai pengalaman secara bersama-sama. Karena itu, kabar mengenai berakhirnya rumah tangga tersebut disampaikan dengan pertimbangan matang dan penuh penghormatan terhadap perjalanan yang telah mereka lalui.
Menurut Sara, keputusan tersebut tidak diambil secara tiba-tiba. Ia dan Demian telah melalui berbagai proses, menghadapi banyak hal, dan mempertimbangkan arah kehidupan mereka masing-masing. Setelah melewati rangkaian pemikiran serta pembicaraan, keduanya akhirnya memilih untuk berpisah secara baik-baik. Pilihan itu diambil dengan kesadaran bahwa melanjutkan perjalanan hidup secara terpisah mungkin merupakan langkah yang paling baik bagi mereka pada tahap ini.
Dalam pesannya, Sara juga menegaskan bahwa perpisahan tersebut bukan disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga atau kehadiran orang ketiga. Pernyataan itu disampaikan agar Saraddicts memahami situasi sebenarnya dan tidak menarik kesimpulan berdasarkan kabar yang belum terverifikasi. Sara tidak menghapus arti penting dari waktu yang telah mereka habiskan bersama, tetapi menjelaskan bahwa setiap hubungan dapat sampai pada titik ketika dua orang perlu menentukan jalan masing-masing. Ia pun meminta pengertian serta penghormatan terhadap keputusan yang telah disepakati bersama. Penyampaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keputusan berpisah ditempuh melalui proses yang serius, bukan karena konflik tertentu sebagaimana mungkin diduga publik. Dengan cara itu, Sara berharap kabar tersebut dapat diterima secara bijaksana, tanpa memperbesar spekulasi mengenai penyebab berakhirnya hubungan mereka.
Bagi Sara Wijayanto, berakhirnya sebuah pernikahan tidak selalu harus ditandai oleh kebencian atau permusuhan. Perpisahan dapat menjadi keputusan yang diambil dengan kesadaran, setelah dua orang menjalani proses panjang dan memahami bahwa arah kehidupan mereka telah berubah. Karena itu, perubahan status hubungan tidak serta-merta menghapus rasa hormat maupun penghargaan terhadap perjalanan yang pernah dilalui bersama Demian Aditya.
Sara menyinggung bahwa hubungan mereka telah dibentuk oleh banyak tahun, cerita, tawa, air mata, serta berbagai pelajaran kehidupan. Semua pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan masing-masing. Ada masa-masa bahagia yang layak dikenang, tantangan yang pernah dihadapi, dan proses pendewasaan yang turut membentuk keduanya sebagai pribadi. Rangkaian pengalaman itu tidak menjadi tidak berarti hanya karena hubungan mereka kini mengambil bentuk yang berbeda.
Perubahan dalam hubungan, menurut pandangan tersebut, tidak harus mengubah seluruh makna yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Kenangan, dukungan, dan nilai-nilai yang pernah dibagikan tetap memiliki tempat dalam kehidupan mereka. Demikian pula dengan pelajaran yang diperoleh selama bersama, yang dapat menjadi bekal untuk melanjutkan langkah secara lebih tenang dan matang. Dengan cara pandang ini, perpisahan tidak diposisikan sebagai penghapusan masa lalu, melainkan sebagai fase baru yang tetap menghargai perjalanan sebelumnya.
Sikap tersebut juga menunjukkan bahwa keputusan untuk berpisah tidak mengharuskan seseorang mencari pihak yang harus disalahkan. Sara dan Demian tetap dapat mengakui arti hubungan mereka tanpa mempertahankan bentuk pernikahan yang sama. Keduanya tetap saling menyayangi, menghormati, dan mendoakan satu sama lain. Pernyataan itu menegaskan bahwa kasih sayang dapat tetap ada, meskipun keduanya memilih menjalani kehidupan dengan arah dan bentuk hubungan yang berbeda.
Demian Aditya dan Sara Wijayanto tercatat menikah pada 22 Mei 2014. Pernikahan tersebut berlangsung di Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan. Informasi mengenai tanggal dan lokasi ini menjadi latar belakang hubungan keduanya yang perlu disampaikan secara terpisah dari pemberitaan mengenai perceraian.
Pernikahan pada 22 Mei 2014 menandai hubungan resmi Demian Aditya dan Sara Wijayanto sebagai pasangan suami istri. Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan, menjadi tempat berlangsungnya momen tersebut. Fakta ini memberikan konteks dasar mengenai hubungan keduanya tanpa perlu mengaitkannya dengan berbagai spekulasi atau kesimpulan lain yang tidak disampaikan dalam informasi terkait.
Dengan demikian, latar belakang yang dapat dicatat secara jelas adalah bahwa Demian Aditya dan Sara Wijayanto menikah pada 22 Mei 2014 di Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan. Keterangan tersebut berdiri sebagai informasi mengenai perjalanan hubungan mereka, sedangkan pembahasan tentang perceraian merupakan perkara yang berbeda. Pemisahan fakta pernikahan dan pernyataan perceraian penting agar informasi yang disampaikan tetap sesuai dengan pokok keterangan yang tersedia.
Detail tentang tanggal dan tempat pernikahan juga membantu pembaca memahami konteks hubungan keduanya secara ringkas. Demian Aditya dan Sara Wijayanto mengikat pernikahan pada 22 Mei 2014, dengan Hotel Grand Mahakam di Jakarta Selatan sebagai lokasi pelaksanaan. Di luar fakta tersebut, bagian ini tidak memuat tambahan informasi mengenai hubungan mereka.

