Malang | Pemerintah pusat menyiapkan anggaran sebesar Rp3 triliun untuk membangun pusat pengembangan bibit ayam nasional di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat pembibitan ayam berskala besar yang berperan dalam pengembangan sumber bibit unggul untuk kebutuhan nasional. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat fondasi pembibitan ayam di dalam negeri.
Pusat pengembangan itu akan menggunakan konsep grand parent stock, yakni fasilitas yang berfokus pada penyediaan dan pengembangan bibit ayam pada tingkat indukan. Dengan skala yang direncanakan, fasilitas di Kabupaten Malang tersebut disebut akan menjadi satu-satunya pusat pembibitan ayam di Indonesia. Pernyataan itu menempatkan proyek ini sebagai rencana strategis dalam pengembangan sektor perunggasan nasional.
Informasi mengenai rencana pembangunan tersebut disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman setelah menghadiri rapat paripurna istimewa dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Rapat tersebut berlangsung di Gedung DPRD Jawa Timur pada Senin, 12 Oktober. Dalam kesempatan itu, pemerintah menyampaikan besarnya anggaran yang disiapkan sekaligus lokasi fasilitas yang akan dibangun, yaitu Kabupaten Malang.
Pengumuman ini menegaskan perhatian pemerintah terhadap penguatan pusat pembibitan ayam nasional. Kehadiran fasilitas berskala besar di Jawa Timur diharapkan menjadi bagian penting dari pengembangan industri perunggasan, terutama karena pembibitan merupakan unsur awal dalam rantai produksi ayam. Untuk saat ini, informasi yang disampaikan pemerintah berfokus pada anggaran, lokasi, konsep fasilitas, dan statusnya sebagai pusat pembibitan ayam nasional yang direncanakan menjadi satu-satunya di Indonesia.
Menteri Pertanian Amran menyampaikan rencana penyaluran bantuan dengan nilai total Rp3 triliun pada periode 2025–2026. Rencana tersebut diarahkan untuk mendukung pembangunan fasilitas grand parent stock di Jawa Timur, dengan Kabupaten Malang menjadi lokasi yang mendapat perhatian utama. Program ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketersediaan indukan ayam di dalam negeri.
Anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas yang berfungsi sebagai pusat indukan ayam nasional. Fasilitas grand parent stock memiliki peran penting dalam rantai pembibitan karena menjadi sumber pengembangan indukan yang selanjutnya menghasilkan bibit ayam. Dengan adanya pusat tersebut, kebutuhan bibit diharapkan dapat dipenuhi melalui kapasitas produksi dalam negeri secara lebih terarah.
Amran menjelaskan bahwa fasilitas di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Malang, nantinya diharapkan mampu memasok kebutuhan bibit ayam ke berbagai wilayah Indonesia. Artinya, pembangunan ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan di sekitar lokasi fasilitas, tetapi juga mendukung distribusi bibit secara nasional. Keberadaan pusat indukan tersebut diharapkan memperkuat fondasi sektor perunggasan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan yang tidak berasal dari pusat produksi nasional.
Pelaksanaan program direncanakan melalui penyaluran bantuan dalam rentang 2025–2026, dengan total nilai yang disebutkan mencapai Rp3 triliun. Keterangan itu menegaskan fokus pemerintah pada pembangunan fasilitas grand parent stock, bukan pada bentuk bantuan lain di luar rencana tersebut. Kabupaten Malang diproyeksikan menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pusat indukan yang dapat menopang kebutuhan pembibitan ayam secara berkelanjutan. Melalui fasilitas ini, pemerintah menargetkan tersedianya sumber indukan yang mampu mendukung pasokan bibit bagi peternak dan pelaku usaha perunggasan di seluruh Indonesia.
Istilah grand parent stock merujuk pada indukan utama atau generasi nenek dalam rantai pembibitan ayam. Menurut penjelasan Amran, kelompok ini menjadi sumber genetik yang menghasilkan indukan pada tingkat berikutnya, sebelum berkembang menjadi bibit ayam yang digunakan oleh peternak. Dengan demikian, grand parent stock tidak sama dengan ayam pedaging atau petelur yang langsung dipelihara untuk menghasilkan daging dan telur. Perannya berada pada tahap awal pembentukan bibit, sehingga keberadaan dan pengelolaannya berpengaruh terhadap kesinambungan penyediaan ayam di tingkat nasional.
Pusat pembibitan di Malang disiapkan sebagai bagian penting dari rantai pasok peternakan ayam Indonesia. Fasilitas tersebut berfungsi untuk memelihara dan mengembangkan indukan utama secara terarah, kemudian mendukung penyediaan indukan atau bibit bagi berbagai wilayah di Indonesia. Alur ini menghubungkan proses pembibitan di tingkat awal dengan kegiatan budidaya yang dilakukan perusahaan maupun peternak. Melalui pusat tersebut, kebutuhan terhadap sumber bibit dapat ditopang dari dalam negeri dan dikelola melalui sistem pembibitan yang lebih terintegrasi.
Hubungan pembangunan pusat grand parent stock dan kebutuhan sektor peternakan ayam terletak pada kesinambungan pasokan. Peternak membutuhkan bibit yang tersedia secara berkelanjutan agar kegiatan produksi ayam pedaging maupun ayam petelur dapat berjalan. Apabila sumber indukan utama kuat, tahapan pembibitan setelahnya memiliki dasar yang lebih terjamin. Indukan atau bibit yang dihasilkan dari lokasi Malang selanjutnya dapat disalurkan ke berbagai daerah sesuai kebutuhan rantai pasok. Karena itu, pembangunan fasilitas ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan sarana pembibitan, tetapi juga dengan upaya memperkuat fondasi produksi ayam nasional. Keberadaan pusat tersebut diharapkan membantu memenuhi kebutuhan pelaku usaha peternakan, menjaga keterhubungan antartahap pembibitan, serta mendukung ketersediaan bibit bagi sektor peternakan di tanah air.
Pernyataan mengenai rencana pembangunan Pusat Indukan Ayam Nasional di Malang disampaikan dalam konteks apresiasi terhadap perkembangan sektor pertanian Jawa Timur. Menteri Pertanian Amran menyampaikan penghargaan atas capaian provinsi tersebut, terutama dalam momentum Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Menurut dia, pertanian Jawa Timur menunjukkan perkembangan yang pesat dan memiliki peran penting dalam mendukung kinerja pertanian nasional.
Amran menyebut sejumlah komoditas sebagai andalan nasional yang berkembang di Jawa Timur. Komoditas tersebut meliputi padi, telur ayam, jagung, dan tebu. Keempatnya dinilai memiliki posisi strategis, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun memperkuat pasokan komoditas pertanian bagi masyarakat. Penyebutan komoditas itu juga menegaskan luasnya kontribusi Jawa Timur, tidak hanya pada tanaman pangan, tetapi juga pada subsektor peternakan dan perkebunan.
Dalam keterangannya, Amran menyampaikan bahwa Jawa Timur menempati posisi nomor satu dalam produksi padi, telur ayam, jagung, dan tebu. Ia juga menyebut Jawa Timur sebagai daerah dengan sektor pertanian terbaik di Indonesia. Penilaian tersebut menjadi konteks tambahan bagi berbagai agenda penguatan pertanian di provinsi itu, termasuk rencana pengembangan pusat indukan ayam di Malang. Dengan basis produksi yang kuat dan capaian pada sejumlah komoditas utama, Jawa Timur dipandang memiliki peran besar dalam menjaga ketersediaan pangan serta mendukung peningkatan produksi pertanian nasional. Apresiasi itu sekaligus menggambarkan perhatian pemerintah terhadap potensi daerah dan pentingnya mempertahankan laju perkembangan sektor pertanian di Jawa Timur.
Baca juga: PSIM Yogyakarta Siapkan 25 Pemain Hadapi Persebaya di Surabaya | Inisiatif Baru Bank Syariah Nasional untuk Memperkuat Kerja Sama Usaha di Bandung | Upaya Pemadaman Kebakaran Hutan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

