Dari Nagreg hingga Lubuk Linggau: Stasiun-Stasiun Tinggi yang Menopang Perjalanan Kereta

oleh -750 Dilihat
oleh
Dari Nagreg hingga Lubuk Linggau: Stasiun-Stasiun Tinggi yang Menopang Perjalanan Kereta

Kabupaten Simalungun | Sejumlah stasiun di Pulau Jawa dan Sumatra beroperasi di kawasan berketinggian, namun tetap melayani perjalanan warga maupun perjalanan antarkota. Letaknya di lintasan pegunungan tidak menghilangkan peran stasiun-stasiun tersebut dalam mendukung mobilitas. Sebaliknya, aktivitas penumpang menunjukkan bahwa jalur dengan kondisi geografis yang khas tetap menjadi bagian dari perjalanan kereta sehari-hari. Di stasiun yang berada pada elevasi tinggi, terdapat simpul-simpul yang menghubungkan kebutuhan perjalanan masyarakat dengan layanan kereta api di wilayah masing-masing.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) merangkum sepuluh stasiun berelevasi tinggi yang aktif beroperasi selama periode Januari hingga September 2026. Dalam sembilan bulan tersebut, seluruh stasiun mencatat total 3.898.074 pergerakan naik dan turun penumpang. Angka ini menggambarkan penggunaan layanan di stasiun-stasiun tersebut, sekaligus memperlihatkan bahwa keberadaan jalur pada kawasan tinggi berjalan beriringan dengan aktivitas perjalanan. Data tersebut mencakup pergerakan penumpang pada sepuluh stasiun yang dihimpun KAI, bukan hanya satu lokasi atau satu jenis perjalanan. Dengan demikian, stasiun-stasiun itu tetap menjadi bagian penting dari jaringan yang melayani perjalanan masyarakat.

Vice President of Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa setiap stasiun memiliki kondisi geografis, sejarah, dan pola perjalanan masyarakat yang beragam. Keragaman tersebut memberi konteks berbeda pada aktivitas penumpang di tiap lokasi. Anne juga menegaskan peran stasiun di lintasan tinggi sebagai urat nadi mobilitas, yang menopang perjalanan warga serta hubungan antarkota. Pernyataan ini menempatkan stasiun bukan sekadar titik pemberhentian kereta, melainkan bagian dari jalur yang digunakan masyarakat untuk bergerak. Meskipun berada di kawasan dengan elevasi tinggi, stasiun-stasiun tersebut terus melayani naik-turun penumpang dan berkontribusi pada mobilitas di Jawa maupun Sumatra. Rekapitulasi KAI untuk Januari–September 2026 menunjukkan besarnya pergerakan yang tercatat secara kolektif, sementara karakter setiap stasiun tetap dibentuk oleh lingkungan, sejarah, dan kebutuhan perjalanan setempat. Karena itu, lintasan tinggi tetap memiliki fungsi nyata dalam layanan kereta api dan perjalanan antarkota.

Di jalur kereta yang melintasi perbukitan Jawa Barat, Stasiun Nagreg menempati posisi penting sekaligus dikenal sebagai stasiun aktif tertinggi di Indonesia. Berada pada elevasi sekitar 848 meter di atas permukaan laut, stasiun ini melayani perjalanan Commuter Line Bandung Raya. Letaknya di kawasan Nagreg menjadikannya bagian dari jaringan transportasi yang menghubungkan wilayah Bandung dan sekitarnya, sekaligus titik layanan bagi warga yang bepergian di koridor tersebut. Ketinggian stasiun mencerminkan karakter jalur yang harus menyesuaikan diri dengan kontur pegunungan, bukan sekadar angka dalam daftar.

Aktivitas penumpang di Nagreg tercatat mencapai 42.566 pelanggan, terdiri atas 26.712 orang yang naik dan 15.854 orang yang turun. Perbedaan jumlah tersebut menggambarkan arus perjalanan dari dan menuju stasiun, serta menunjukkan bahwa layanan lokal tetap dibutuhkan di tengah medan yang menantang. Bagi penumpang, keberadaan stasiun memungkinkan perjalanan antarkawasan dilakukan dengan kereta tanpa harus mengandalkan sepenuhnya kendaraan jalan raya. Dengan layanan Commuter Line Bandung Raya, Nagreg menjalankan peran harian sebagai simpul mobilitas sekaligus penanda penting pada lintasan kereta di dataran tinggi Jawa Barat.

Di Garut, Stasiun Cipeundeuy berada pada posisi kedua dalam daftar stasiun berdasarkan ketinggian. Catatan pergerakan penumpang kereta api jarak jauh di stasiun ini mencapai 38.524 orang, dengan rincian 20.009 penumpang naik dan 18.515 turun. Namun, perannya tidak terbatas pada pelayanan penumpang. Cipeundeuy juga memiliki fungsi operasional khusus yang berkaitan langsung dengan keselamatan perjalanan di jalur pegunungan terjal. Semua kereta wajib berhenti di stasiun ini untuk menjalani pemeriksaan teknis rem sebelum melanjutkan perjalanan. Prosedur tersebut menjadi bagian penting dari pengendalian operasional pada lintasan dengan kondisi medan yang menuntut kehati-hatian. Karena itu, Nagreg dan Cipeundeuy sama-sama menopang perjalanan kereta di Jawa Barat: satu melayani arus Commuter Line, sementara yang lain menjadi titik pemeriksaan wajib bagi kereta jarak jauh yang melintasi jalur pegunungan.

Di kawasan Bandung Raya, Stasiun Cimindi menunjukkan bagaimana stasiun yang relatif kecil dapat berperan penting dalam mobilitas harian. Berdasarkan urutan ketinggian stasiun dalam bahan yang dirujuk, Cimindi menempati posisi ketiga tertinggi. Letaknya juga menjadikannya salah satu simpul sibuk yang melayani perjalanan warga di sekitar Bandung. Tercatat 874.522 aktivitas penumpang, terdiri atas 460.122 perjalanan masuk melalui gate in dan 414.400 perjalanan keluar melalui gate out. Selisih arus masuk dan keluar tersebut menggambarkan tingginya penggunaan stasiun dalam pola perjalanan sehari-hari. Angka ini menempatkan Cimindi sebagai bagian penting dari jaringan transportasi regional, yang menghubungkan penumpang dengan layanan kereta sekaligus kawasan perkotaan di sekitarnya.

Stasiun Cimahi mencatat total 1.400.263 pergerakan dan disebut sebagai stasiun dengan angka kesibukan tertinggi di kelompok stasiun dataran tinggi. Aktivitasnya berasal dari dua layanan. Kereta jarak jauh menyumbang 298.903 penumpang, yakni 154.984 orang naik dan 143.919 orang turun. Sementara itu, Commuter Line melayani 1.101.360 pelanggan, dengan 551.062 gate in dan 550.298 gate out. Porsi besar perjalanan komuter memperlihatkan fungsi Cimahi sebagai titik naik-turun bagi masyarakat yang bepergian di sekitar Bandung Raya. Pada saat yang sama, keberadaan layanan jarak jauh memperluas pilihan perjalanan bagi penumpang menuju kota-kota lain. Perpaduan kedua jenis layanan itu membuat stasiun ini menjadi simpul dengan arus yang beragam.

Di luar kawasan perkotaan tersebut, Stasiun Garut kembali melayani jalur Cibatu–Garut setelah direaktivasi pada 24 Maret 2022. Pengoperasian kembali ini membuka lagi akses kereta bagi masyarakat Garut dan wilayah sekitarnya. Total aktivitas penumpang yang tercatat mencapai 746.601. Dari jumlah tersebut, 330.612 merupakan pelanggan kereta jarak jauh, terdiri atas 169.081 penumpang naik dan 161.531 penumpang turun. Commuter Line mencatat 415.989 pelanggan, dengan 211.551 gate in serta 204.438 gate out. Data tersebut menunjukkan bahwa layanan komuter menjadi bagian besar dari aktivitas Garut, sementara kereta jarak jauh turut mendukung perjalanan antarkota. Bersama Cimindi dan Cimahi, Garut memperlihatkan beragam fungsi stasiun di kawasan dataran tinggi Jawa Barat, dari mobilitas lokal hingga perjalanan jarak jauh.

Di Sumatra, sejumlah stasiun berada pada elevasi yang cukup menonjol dan melayani kebutuhan perjalanan dengan karakter berbeda. Data ketinggian dan jumlah penumpang memberikan gambaran mengenai aktivitas di masing-masing stasiun, tanpa menjadi dasar untuk menetapkan peringkat di mereka.

Di Sumatra Utara, Stasiun Siantar terletak pada ketinggian 383,47 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan menjadi tulang punggung layanan KA Siantar Ekspres. Stasiun ini mencatat 279.492 pergerakan penumpang, terdiri atas 141.672 penumpang berangkat dan 137.820 penumpang tiba. Angka tersebut mencerminkan aktivitas layanan yang berlangsung di stasiun ini.

Masih pada jalur KA Siantar Ekspres, Stasiun Baja Linggei berada di ketinggian 284,20 mdpl. Jumlah pergerakannya tercatat 5.071, dengan 2.714 penumpang naik dan 2.357 penumpang turun. Sementara itu, Stasiun Dolok Merangir di Kabupaten Simalungun memiliki elevasi 144,56 mdpl. Sumber menyebutnya sebagai stasiun aktif paling utara di kabupaten tersebut, di bawah pengelolaan Divre I Sumatra Utara dan Aceh. Aktivitas penumpang di sana mencapai 17.344, yang terdiri atas 9.238 penumpang naik serta 8.106 penumpang turun.

Bergeser ke Sumatra.

Baca juga: Pilihan Kereta Api dari Jakarta ke Kebumen: Tarif dan Waktu Perjalanan | Pameran Perjalanan Ibadah di Surabaya: CIMB Niaga Syariah Selenggarakan Islamic Travel Connect