Asap Karhutla Diduga Pengaruhi Penurunan Kualitas Udara di Makassar

oleh -55 Dilihat
oleh
Asap Karhutla Diduga Pengaruhi Penurunan Kualitas Udara di Makassar

MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, BMKG Wilayah IV Makassar memantau adanya penurunan kualitas udara di Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan wilayah sekitarnya. Pemantauan tersebut dilakukan menggunakan indikator partikulat halus PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat berada di udara dan berpotensi memengaruhi kesehatan apabila terhirup dalam jumlah tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan, kondisi udara berada pada kategori kurang sehat hingga sedang.

Prakirawan BMKG Makassar, Asriani Idrus, menyampaikan informasi itu pada Minggu, 4 Oktober. Ia menjelaskan bahwa perubahan kualitas udara terlihat melalui konsentrasi PM2,5 yang terukur di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer, arah angin, serta keberadaan partikel yang berasal dari berbagai sumber, termasuk asap dan aktivitas pembakaran.

Pola harian yang teramati menunjukkan bahwa kualitas udara cenderung memburuk sejak malam hari. Kondisi itu dapat berlanjut hingga tengah malam, dini hari, dan pagi. Pada rentang waktu tersebut, pergerakan udara yang lebih terbatas membuat partikel pencemar berpotensi bertahan lebih lama di dekat permukaan. Situasi kemudian biasanya berangsur membaik ketika memasuki siang hingga sore, saat sirkulasi udara menjadi lebih aktif dan membantu menyebarkan konsentrasi partikulat.

Pemantauan pada hari tersebut memperlihatkan bahwa kualitas udara mulai kembali membaik sekitar tengah hari. Sebelumnya, kondisi udara tercatat berada dalam kategori kurang sehat hingga menjelang pagi. Perubahan ini menunjukkan adanya pola perbaikan pada siang hari, meskipun masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi terbaru dari BMKG, terutama ketika kualitas udara kembali menurun pada malam hingga pagi. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk melihat perkembangan kondisi di Makassar, Maros, dan kawasan sekitar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menduga penurunan kualitas udara di Makassar berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berasal dari luar Sulawesi Selatan. Dugaan tersebut tidak hanya didasarkan pada kondisi udara yang teramati, tetapi juga pada analisis pola pergerakan angin. Arah dan kecepatan angin menjadi indikator penting untuk memperkirakan dari mana partikel asap dapat terbawa menuju suatu wilayah.

Dalam pemantauan tersebut, angin yang bergerak dari sektor barat hingga barat laut berpotensi membawa partikel asap dari wilayah Kalimantan menuju Sulawesi Selatan. Partikel yang terbawa dalam atmosfer dapat mencapai kawasan tertentu, termasuk Makassar, bergantung pada kondisi cuaca, jarak pandang, kecepatan angin, serta kestabilan lapisan udara. Arah angin yang umumnya berasal dari barat turut memperkuat dugaan bahwa asap dari Kalimantan sedang masuk atau melintas di wilayah Sulawesi Selatan.

Meski demikian, pola angin dapat berubah dari waktu ke waktu. Apabila angin dominan bergerak dari timur, asap karhutla dari Papua dan Maluku juga berpeluang mencapai Sulawesi Selatan. Kemungkinan tersebut menunjukkan bahwa analisis sumber pencemaran perlu mempertimbangkan dinamika atmosfer secara menyeluruh, bukan hanya lokasi kebakaran yang diketahui.

Karena itu, keterkaitan penurunan kualitas udara dan asap karhutla dari Kalimantan masih berstatus dugaan berdasarkan arah pergerakan angin. Informasi tersebut belum dapat diartikan sebagai kepastian bahwa pencemaran hanya berasal dari satu wilayah atau satu sumber. Pemantauan lanjutan terhadap kualitas udara, citra satelit, titik panas, serta perubahan angin tetap diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai sumber dan penyebaran asap di Makassar.

BMKG menilai peningkatan konsentrasi PM2,5 yang terpantau di Makassar lebih banyak dipengaruhi oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penilaian tersebut didasarkan pada pemantauan terhadap kondisi atmosfer serta keberadaan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap dari kebakaran masih dipandang sebagai sumber utama yang berpotensi memengaruhi kualitas udara, sehingga peningkatan konsentrasi partikel halus tidak secara langsung dikaitkan dengan emisi dari aktivitas kendaraan bermotor.

Asriani menjelaskan bahwa asap kendaraan bermotor belum terlihat menjadi penyebab utama peningkatan PM2,5. Kondisi emisi kendaraan disebut masih normal, sehingga faktor tersebut belum menunjukkan pengaruh dominan pada perubahan konsentrasi partikel yang terpantau. Dengan demikian, perhatian BMKG tetap diarahkan pada perkembangan kebakaran hutan dan lahan, terutama melalui pemantauan jumlah serta sebaran hotspot yang terdapat di wilayah Kalimantan.

Menurut Asriani, jumlah hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan masih cukup banyak dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Keberadaan titik panas tersebut berarti sumber asap masih ada dan berpotensi memengaruhi kualitas udara. Kemungkinan asap terbawa angin menuju Sulawesi Selatan juga masih terbuka dalam beberapa hari ke depan. Arah angin menjadi unsur penting dalam proses tersebut karena menentukan pergerakan asap dari wilayah yang memiliki hotspot menuju daerah lain. Apabila angin bergerak membawa massa udara dari sumber kebakaran, pengaruh asap terhadap konsentrasi PM2,5 di Makassar masih dapat berlanjut. Oleh sebab itu, hubungan jumlah hotspot, pergerakan angin, dan perubahan kualitas udara terus menjadi bagian dari pemantauan BMKG.

Cuaca panas yang dirasakan masyarakat di Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan perlu dibedakan dari persoalan penurunan kualitas udara yang diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai kondisi panas tersebut masih tergolong normal. Penilaian itu berkaitan dengan posisi wilayah Sulawesi Selatan yang sedang memasuki atau berada dalam periode musim kemarau. Dengan demikian, suhu tinggi yang terjadi tidak serta-merta menunjukkan adanya kondisi cuaca yang tidak biasa.

BMKG menyebutkan bahwa suhu udara di Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan berada pada kisaran 30 hingga 35 derajat Celsius. Kisaran tersebut dapat terasa berbeda bagi setiap orang, terutama ketika tubuh menerima pengaruh dari kondisi lingkungan secara bersamaan. Angka yang tercatat sebagai suhu udara tidak selalu sama dengan tingkat panas yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

Perbedaan suhu yang terukur dan panas yang dirasakan berkaitan dengan indeks panas atau heat index. Indeks ini memperhitungkan kombinasi beberapa unsur, yaitu suhu udara, kelembapan, arah angin, serta radiasi matahari. Kelembapan yang lebih tinggi, misalnya, dapat mengurangi penguapan keringat sehingga tubuh lebih sulit melepaskan panas. Sementara itu, paparan radiasi matahari dan kondisi angin turut memengaruhi pertukaran panas tubuh dan lingkungan sekitarnya. Karena pengaruh berbagai unsur tersebut, suhu 30 hingga 35 derajat Celsius dapat dirasakan lebih tinggi daripada angka yang terbaca pada alat pengukur. Rasa panas yang muncul pada tubuh merupakan respons terhadap tekanan panas dari lingkungan, sedangkan kondisi tersebut tetap dipahami dalam konteks berlangsungnya musim kemarau di wilayah Sulawesi Selatan.