Kabupaten Lampung Tengah | Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, mulai dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar batas kawasan hutan. Asap dari kebakaran tersebut telah menyelimuti permukiman selama hampir dua bulan. Dalam beberapa waktu terakhir, kepulan asap disebut cukup tebal sehingga mulai menghalangi pandangan warga. Kondisi ini membuat dampak kebakaran tidak hanya terlihat di dalam kawasan, tetapi juga terasa di lingkungan tempat tinggal masyarakat sekitar.
Edi Alamsyah, warga Kampung Caba, Kecamatan Bandar Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, mengatakan bahwa hingga kini warga belum merasakan dampak serius akibat asap. Meski begitu, jarak pandang di sekitar permukiman mulai terganggu, terutama ketika asap semakin tebal. Keterangan tersebut disampaikan pada Jumat, 23 Oktober 2026. Pernyataan itu menggambarkan perubahan kondisi yang mulai diperhatikan masyarakat, walaupun belum sampai menimbulkan gangguan berat bagi aktivitas sehari-hari.
Selama hampir dua bulan, keberadaan asap menjadi bagian dari kondisi yang dihadapi warga di sekitar perbatasan hutan. Ketebalan asap yang belakangan meningkat membuat pandangan lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Gangguan jarak pandang menjadi tanda bahwa kebakaran di TNWK telah menjangkau lingkungan permukiman dalam bentuk asap, meskipun tingkat dampaknya terhadap warga sejauh ini dinilai belum serius. Warga tetap perlu memperhatikan perubahan keadaan, terutama apabila asap kembali menebal atau gangguan yang dirasakan semakin nyata.
Keterangan warga tersebut memberi gambaran awal mengenai dampak kebakaran terhadap masyarakat sekitar TNWK. Asap yang bertahan dalam waktu lama dapat menjadi perhatian bagi permukiman di dekat batas kawasan, sementara kondisi jarak pandang yang terganggu menunjukkan adanya perubahan yang perlu dicermati. Untuk saat ini, informasi yang disampaikan Edi menegaskan bahwa gangguan utama yang mulai terasa adalah pandangan yang terhalang, bukan dampak serius lain terhadap warga. Perkembangan kondisi asap dan kebakaran tetap menjadi hal yang penting untuk dipantau.
Selain asap yang mengganggu, Edi melaporkan sisa kebakaran berupa ranting dan dedaunan yang hangus turut terbawa angin ke sekitar permukiman. Material itu, menurut keterangannya, masuk hingga ke pekarangan rumah warga. Kondisi tersebut telah berlangsung selama sekitar setengah bulan terakhir, sehingga warga berulang kali menjumpai sisa tanaman terbakar di lingkungan rumah mereka. Edi menggambarkan kejadian itu sebagai dampak lain dari kebakaran di kawasan hutan Way Kambas yang dirasakan masyarakat sekitar. Ranting dan daun yang terbawa angin menunjukkan bahwa pengaruh kebakaran tidak hanya terasa melalui asap, tetapi juga tampak dari sisa vegetasi hangus yang sampai ke halaman. Meski demikian, keterangan yang disampaikan tidak menyebutkan adanya kerusakan pada rumah atau benda milik warga akibat material tersebut. Dampak yang dilaporkan terbatas pada ranting dan dedaunan hangus yang masuk ke pekarangan.
Menurut Edi, asap terasa semakin tebal pada siang hari. Ia menyatakan bahwa kondisi itu juga dapat bertahan hingga malam, sebagaimana yang ia rasakan pada hari ketika memberikan keterangan. Dengan demikian, gangguan yang dialami warga tidak hanya muncul pada satu waktu singkat di siang hari, melainkan dapat terus dirasakan sampai malam. Uraian tersebut memberi gambaran tentang perubahan ketebalan asap sepanjang hari berdasarkan pengalaman Edi, tanpa memastikan keadaan yang sama terjadi setiap hari atau di seluruh permukiman sekitar hutan. Bagi warga yang tinggal dekat kawasan, asap yang menebal dan berlangsung berjam-jam menjadi bagian dari kekhawatiran mereka terhadap situasi kebakaran. Sisa ranting dan daun yang terbawa angin menambah tanda yang terlihat di pekarangan, sementara asap menjadi gangguan yang dirasakan di udara. Keduanya merupakan hal yang disebutkan dalam laporan Edi.
Gabungan asap yang terasa lebih pekat pada siang hari, kemungkinan bertahan sampai malam, serta sisa tanaman hangus yang masuk ke pekarangan membuat warga mencemaskan kondisi di sekitar kawasan hutan. Kekhawatiran itu dapat dipahami dari pengalaman yang dilaporkan: dampak kebakaran masih terasa selama sekitar setengah bulan terakhir, dan angin membawa sisa vegetasi hingga ke lingkungan rumah. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci dampak kesehatan, kerusakan bangunan, maupun kerugian lain, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat disimpulkan dari keterangan Edi. Yang dapat dipastikan dari laporannya adalah adanya ranting dan dedaunan hangus di pekarangan warga serta asap yang semakin tebal pada siang hari dan dapat bertahan hingga malam pada hari ia menyampaikan keterangan. Bagi warga, keadaan tersebut menjadi alasan untuk terus memperhatikan perkembangan kebakaran dan kondisi lingkungan sekitar mereka, tanpa mengabaikan batas informasi yang telah disampaikan.
Kampung Caba merupakan salah satu wilayah permukiman yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Letaknya yang berdekatan dengan hutan membuat kondisi di sekitar kawasan dapat dirasakan oleh warga, terutama ketika terjadi kebakaran dan asap mulai bergerak keluar dari area hutan. Bagi masyarakat yang tinggal di sisi kampung paling dekat dengan batas kawasan, arah angin menjadi faktor penting yang menentukan apakah asap akan menjangkau rumah-rumah mereka atau bergerak ke tempat lain.
Edi memperkirakan, rumah-rumah di ujung Kampung Caba hanya berjarak sekitar 100 meter dari kawasan hutan. Jarak yang relatif dekat itu membuat warga berpotensi terpapar asap apabila angin membawa kepulan asap menuju permukiman. Meski asap kebakaran tidak selalu langsung terasa di setiap bagian kampung, kedekatan dengan TNWK membuat perubahan arah angin dan kondisi asap tetap diperhatikan. Warga pun memiliki alasan untuk mencermati keadaan, khususnya jika asap semakin tebal atau bertahan lama di sekitar tempat tinggal mereka.
Hingga keterangan diberikan, warga Kampung Caba belum merasakan gangguan kesehatan yang berarti akibat asap. Aktivitas sehari-hari juga masih berlangsung seperti biasa, sehingga kegiatan masyarakat belum terhenti oleh kondisi tersebut. Namun, situasi itu tidak menghilangkan kekhawatiran warga apabila kebakaran berlanjut dan asap terus menebal. Paparan yang lebih pekat atau berkepanjangan dapat membuat kondisi menjadi berbeda, terlebih bagi permukiman yang berada dekat batas hutan. Karena itu, warga tetap memperhatikan perkembangan asap dan arah angin, meskipun sejauh ini belum ada keluhan kesehatan yang menonjol. Kedekatan kampung dengan kawasan TNWK menjadikan pemantauan kondisi lingkungan penting, sementara aktivitas warga masih berjalan normal selama asap belum menimbulkan gangguan berarti.
Edi mengaku hingga kini belum melihat adanya peninjauan langsung dari pemerintah setempat ke wilayah tempat tinggalnya untuk merespons keluhan warga mengenai asap kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, warga masih menghadapi dampak asap dalam keseharian, sementara belum ada petugas yang datang untuk melihat kondisi permukiman dan mendengarkan pengalaman mereka secara langsung. Kehadiran pemerintah di lapangan dinilai penting agar keluhan tidak hanya diketahui melalui laporan, tetapi juga dapat dipahami berdasarkan keadaan yang dirasakan warga.
Ia menilai pemerintah setempat semestinya mengetahui kondisi kawasan yang terdampak. Kantor camat, kata Edi, tidak terlalu jauh dari permukiman warga, sehingga akses untuk meninjau lingkungan tersebut seharusnya cukup memungkinkan. Jarak yang relatif dekat itu membuatnya berharap pihak terkait dapat melihat sendiri bagaimana asap bergerak menuju rumah-rumah dan bagaimana warga menjalani aktivitas di tengah kondisi tersebut. Peninjauan langsung juga dapat membantu pemerintah memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan masyarakat, termasuk langkah yang diperlukan untuk merespons keluhan.
Edi berharap keadaan warga di sekitar kawasan hutan mendapat perhatian dari pemerintah dan pihak terkait.
Baca juga: Aksi Sigap Babinsa Dan Warga Padamkan Kebakaran Hutan Jati Di Pagerwojo Blitar | Kebakaran Besar Melanda Kawasan Pergudangan Kosambi | Sinergi Cepat Babinsa Bersama Warga Dan Tim Gabungan Padamkan Kebakaran Hutan Jati Di Sutojayan







