Serang | Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung terus-menerus perlu dipandang sebagai ancaman kesehatan anak yang dampaknya dapat melampaui batuk atau iritasi saluran pernapasan. Partikel halus dan berbagai polutan dalam asap dapat terhirup berulang kali, terutama ketika anak tinggal atau beraktivitas di wilayah terdampak. Karena sistem pernapasan dan tubuh anak masih berkembang, paparan berkepanjangan menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Efek yang terlihat segera, seperti sesak atau mata perih, tidak selalu menggambarkan seluruh kemungkinan dampak kesehatan pada kemudian hari. Risiko bergantung pada tingkat pencemaran, lamanya paparan, kondisi kesehatan awal, serta langkah perlindungan yang tersedia. Karena itu, asap karhutla memerlukan perhatian berkelanjutan dari keluarga, tenaga kesehatan, dan pihak terkait.
dr. Fifi Sofiah dari Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan respirasi permanen. Pernyataan ini menegaskan pentingnya mencegah anak menghirup udara tercemar selama mungkin, khususnya saat kebakaran meluas dan kualitas udara memburuk. Dampak jangka panjang tidak dapat disimpulkan hanya dari ada atau tidaknya keluhan pada satu waktu. Penilaian perlu mempertimbangkan pola paparan dan keadaan masing-masing anak. Risiko juga bukan kepastian: tidak berarti setiap anak yang terpapar asap akan mengalami kerusakan atau gangguan menetap.
Orang tua dan pengasuh dapat mengikuti informasi kualitas udara setempat serta membatasi kegiatan anak di luar ruangan ketika asap pekat. Jika memungkinkan, tutup celah masuk asap dan gunakan ruang dalam yang udaranya lebih bersih. Anak dengan keluhan pernapasan, seperti batuk yang memburuk, napas cepat, atau sesak, perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan tenaga kesehatan. Langkah tersebut bukan pengganti penanganan sumber kebakaran, tetapi dapat membantu mengurangi paparan sementara. Pemantauan kesehatan dan upaya perlindungan penting dilakukan secara proporsional, tanpa menimbulkan kepanikan. Dengan memahami bahwa efek asap mungkin tidak terbatas pada keluhan sesaat, keluarga dan layanan kesehatan dapat lebih terhadap kondisi anak selama maupun setelah kejadian karhutla.
Menurut dr. Fifi, paparan asap karhutla yang terjadi berulang kali perlu diperhatikan karena anak dapat terus-menerus menghirup udara yang bercampur asap. Risiko kesehatan tidak hanya berkaitan dengan keadaan saat paparan berlangsung, tetapi juga dapat muncul di kemudian hari. Salah satu kemungkinan yang disampaikan dr. Fifi adalah meningkatnya risiko penyakit paru obstruktif kronis ketika anak mengalami paparan berkelanjutan. Dengan demikian, asap karhutla tidak semestinya dipandang hanya sebagai gangguan sesaat. Paparan yang berulang dapat menjadi perhatian bagi kesehatan fisik anak dalam jangka panjang, terutama berkaitan dengan paru-paru. Penjelasan ini menekankan kemungkinan risiko, bukan kepastian bahwa setiap anak yang terpapar akan mengalami penyakit tersebut.
Dr. Fifi juga menyebut bahwa paparan asap yang terus berlangsung dapat mengganggu sistem kardiovaskular. Artinya, dampak yang dikhawatirkan tidak terbatas pada paru-paru, tetapi juga mencakup sistem yang berhubungan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Dalam menjelaskan risiko ini, penting untuk tetap merujuk pada paparan berulang sebagaimana disampaikan dr. Fifi, tanpa menganggap bahwa satu kali paparan pasti menimbulkan gangguan. Anak-anak yang berulang kali menghirup udara bercampur asap berada dalam situasi yang patut dicermati dari sudut kesehatan fisik. Dr. Fifi mengingatkan adanya kemungkinan gangguan pada sistem kardiovaskular sebagai salah satu dampak yang perlu diperhatikan bersama risiko pada paru.
Selain kemungkinan penyakit paru obstruktif kronis dan gangguan pada sistem kardiovaskular, dr. Fifi menyatakan bahwa partikel kimia dalam asap dapat meningkatkan risiko kanker paru. Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa kandungan asap juga menjadi bagian dari kekhawatiran ketika paparan terjadi berkelanjutan. Risiko yang disebutkan tetap merupakan kemungkinan, sehingga tidak berarti setiap anak yang menghirup asap akan terkena kanker paru. Namun, menurut dr. Fifi, paparan berulang dan partikel kimia dalam asap patut menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan risiko kesehatan di masa depan. Secara keseluruhan, penjelasan dr. Fifi mencakup tiga hal: risiko penyakit paru obstruktif kronis, kemungkinan gangguan sistem kardiovaskular, serta peningkatan risiko kanker paru akibat partikel kimia dalam asap. Seluruhnya menegaskan pentingnya memperhatikan dampak fisik jangka panjang pada anak yang terus-menerus terpapar asap karhutla.
Dampak paparan asap karhutla dalam jangka panjang tidak selalu berhenti pada gangguan pernapasan. Menurut dr. Fifi, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa polusi dari kebakaran hutan dan lahan berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif anak, termasuk kualitas intelegensia. Temuan tersebut menjadi perhatian karena masa kanak-kanak merupakan periode penting bagi pertumbuhan dan pembelajaran. Paparan berulang atau berkepanjangan dapat berkaitan dengan perubahan kemampuan yang mendukung anak memahami informasi, berkonsentrasi, serta mengikuti kegiatan belajar. Namun, hasil penelitian menggambarkan risiko pada tingkat kelompok, bukan kepastian bahwa setiap anak yang terpapar akan mengalami penurunan kemampuan. Besarnya dampak dapat berbeda-beda, bergantung pada berbagai keadaan dan pengalaman masing-masing anak.
Penelitian yang dirujuk juga menemukan kaitan paparan asap karhutla dan penurunan skor akademik. Skor yang lebih rendah dapat mencerminkan tantangan dalam performa akademik, seperti kesulitan mengikuti materi atau mencapai hasil belajar yang diharapkan. Hubungan ini perlu dipahami secara hati-hati: capaian sekolah dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi kesehatan, dukungan keluarga, mutu pendidikan, dan lingkungan tempat anak tumbuh. Karena itu, temuan tersebut tidak berarti asap menjadi satu-satunya penyebab nilai akademik yang kurang baik. Meski demikian, potensi pengaruh terhadap kemampuan kognitif dan proses belajar memperkuat alasan untuk melindungi anak dari paparan, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Menurut penjelasan dr. Fifi, konsekuensi yang mungkin muncul dapat berlanjut hingga usia dewasa. Anak yang mengalami hambatan pada perkembangan kemampuan dan pencapaian akademik mungkin menghadapi kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja kelak. Dalam jangka panjang, keadaan itu dapat berkaitan dengan peluang memperoleh pendapatan dan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah. Penjelasan tersebut menunjukkan bagaimana risiko kesehatan pada masa anak-anak dapat memiliki dampak yang lebih luas daripada keluhan fisik sesaat. Akan tetapi, hal ini bukan ramalan bagi setiap individu. Banyak faktor lain turut membentuk pendidikan, pekerjaan, dan kesejahteraan seseorang. Temuan tentang kemungkinan dampak jangka panjang sebaiknya mendorong perhatian pada pencegahan dan perlindungan anak, sekaligus mendorong pemahaman bahwa hubungan yang ditemukan penelitian tidak menetapkan hasil hidup setiap anak secara pasti.
Selain dampak terhadap tubuh dan kemampuan berpikir, paparan asap karhutla juga menjadi perhatian karena kemungkinan pengaruhnya terhadap kesehatan mental anak. Dalam temu media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Jumat, 16 Oktober 2026, dr. Fifi menyoroti bahwa pengalaman menghadapi bencana dan kondisi lingkungan yang mengganggu dapat meninggalkan tekanan psikologis. Dampaknya tidak selalu terlihat segera, sehingga perubahan yang dialami anak perlu dipahami dalam konteks pengalaman tersebut. Perhatian ini penting karena masa kanak-kanak merupakan periode perkembangan yang rentan, sementara efek dari tekanan berkepanjangan dapat bertahan melewati masa terjadinya karhutla.
Dr. Fifi mengingatkan adanya kemungkinan trauma yang berlanjut dan memengaruhi kesejahteraan anak dalam jangka panjang. Salah satu kondisi yang dikhawatirkan ialah post-traumatic stress disorder (PTSD), yakni gangguan yang dapat berkaitan dengan pengalaman traumatis. Kemungkinan tersebut tidak berarti setiap anak yang terpapar asap atau mengalami situasi karhutla pasti akan mengalami PTSD. Namun, risiko dampak psikologis perlu diperhatikan sebagai bagian dari gambaran kesehatan anak secara menyeluruh.
Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Perkuat Sinergitas Lintas Sektor dalam Pencegahan Karhutla di Sambas | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun







