Kabupaten Garut. Sejak | Di Kampung Bedeng Sawah, Desa Wangunjaya, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Ari Saftari melihat potensi singkong yang tersedia di daerahnya. Bahan pangan lokal tersebut kemudian menjadi dasar berdirinya PD Comring Sawargi, usaha yang sejak 2004 mengolah singkong menjadi comring dan aneka makanan ringan. Perjalanan ini memperlihatkan bagaimana sumber daya yang dekat dengan kehidupan warga dapat membuka peluang usaha, sekaligus menjadi bagian dari aktivitas ekonomi setempat.
Gagasan Ari tidak hanya bertumpu pada ketersediaan singkong. Ia juga mempertimbangkan kebutuhan warga sekitar akan pekerjaan tambahan yang tidak terlalu menyita waktu. Dengan demikian, usaha Comring Sawargi tumbuh dari dua hal yang saling berkaitan: pemanfaatan bahan pangan lokal dan upaya menghadirkan kesempatan kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Arah tersebut menjadi landasan bagi usaha untuk berkembang di lingkungan tempatnya berawal.
Sejak memulai kegiatan pada 2004, PD Comring Sawargi memasarkan hasil olahan singkong melalui toko dan jaringan reseller. Saluran penjualan tersebut menghubungkan produk dengan konsumen, baik melalui toko maupun mitra yang membantu menjangkau pembeli. Perluasan pemasaran menjadi bagian dari perkembangan usaha, sementara singkong tetap menjadi bahan utama yang mengaitkan kegiatan produksi dengan potensi daerah Garut.
Kisah Ari dan Comring Sawargi menunjukkan bahwa peluang usaha dapat berangkat dari pengamatan terhadap kebutuhan dan sumber daya yang tersedia di sekitar. Singkong yang tumbuh dan tersedia di wilayah setempat menjadi bahan untuk menghasilkan produk makanan ringan, sedangkan kebutuhan warga akan pekerjaan tambahan memberi konteks sosial bagi gagasan tersebut. Melalui pengolahan dan pemasaran, potensi lokal itu memperoleh nilai ekonomi dan menjadi dasar bagi kegiatan usaha yang berkelanjutan. Perkembangan Comring Sawargi juga menempatkan keterlibatan masyarakat dan jaringan penjualan sebagai bagian dari upaya mengenalkan produk kepada pasar. Dari Kampung Bedeng Sawah, usaha ini mengangkat singkong Garut menjadi peluang yang berakar pada kondisi setempat, tanpa memisahkan kegiatan bisnis dari kebutuhan lingkungan di sekitarnya. Pengalaman tersebut memberi gambaran tentang bagaimana ide sederhana dapat dijalankan secara bertahap dengan memanfaatkan apa yang tersedia. Bagi Ari, ketersediaan bahan baku dan kebutuhan warga menjadi titik awal, sementara toko serta reseller membantu membawa hasil olahan lebih dekat kepada konsumen.Dukungan pembiayaan melalui KUR BRI membantu Ari memenuhi kebutuhan modal ketika usaha Comring Sawargi mulai dikembangkan. Modal tersebut memberi ruang bagi usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, serta menambah tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Bagi usaha olahan singkong yang bertumpu pada proses produksi bertahap, ketersediaan dana menjadi salah satu unsur penting agar kegiatan dapat berjalan lebih teratur dan mampu menjangkau peluang pasar yang lebih luas.
Pengembangan usaha ini turut membuka kesempatan kerja bagi warga setempat. Saat ini, sebanyak 12 orang terlibat dalam berbagai tahapan pembuatan comring. Pekerjaan dimulai dari mengupas dan memarut singkong, kemudian mengolah bahan tersebut menjadi comring, hingga menyiapkan dan mengemas produk. Keterlibatan warga pada rangkaian proses tersebut membantu memenuhi kebutuhan tenaga kerja, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi keluarga di sekitar usaha.
Pengaturan waktu kerja yang fleksibel menjadi salah satu hal yang mendukung keterlibatan para pekerja. Mereka dapat membantu kegiatan produksi tanpa harus sepenuhnya meninggalkan tanggung jawab di rumah. Dengan demikian, pekerjaan di Comring Sawargi dapat menjadi sumber tambahan penghasilan keluarga sekaligus menyesuaikan dengan kegiatan rumah tangga. Pola ini memberi kesempatan bagi warga untuk berkontribusi sesuai ketersediaan waktu, terutama ketika proses produksi membutuhkan bantuan pada tahap-tahap tertentu.
Ari menilai dukungan modal dan keterlibatan warga memiliki arti penting dalam perjalanan usahanya. Pembiayaan KUR BRI mendukung kebutuhan pengembangan, sementara tenaga kerja lokal membantu proses produksi dan pengemasan berjalan. Manfaat yang dirasakan tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya kemampuan usaha dalam memenuhi kebutuhan produksi dan pemasaran, tetapi juga dengan terbukanya peluang bagi warga untuk memperoleh penghasilan tambahan. Melalui pembagian kerja yang mencakup pengolahan hingga pengemasan, usaha ini menghubungkan potensi singkong dengan kegiatan ekonomi masyarakat setempat. Pertumbuhan Comring Sawargi pun memperlihatkan bagaimana pembiayaan dapat mendukung usaha kecil, sekaligus mendorong manfaat yang lebih luas bagi keluarga yang terlibat, dengan tetap memberi ruang bagi pekerja untuk mengatur waktu pekerjaan dan urusan di rumah.
Menjaga produksi Comring Sawargi tetap berjalan tidak hanya bergantung pada kapasitas pengolahan, tetapi juga pada ketersediaan singkong sebagai bahan baku utama. Bagi Ari, pasokan yang stabil penting agar kegiatan usaha dapat berlangsung secara teratur dan pesanan pelanggan bisa dipenuhi. Namun, jumlah singkong yang tersedia di sekitar tempat usaha tidak selalu sama sepanjang tahun. Perubahan musim dapat memengaruhi hasil panen petani dan membuat pengadaan bahan baku menjadi lebih menantang.
Tantangan tersebut terasa terutama ketika musim kemarau. Pasokan singkong dari petani sekitar dapat berkurang, sementara kebutuhan untuk menjaga produksi tetap ada. Ketika bahan baku lokal semakin terbatas, harganya juga dapat meningkat. Situasi ini menambah beban biaya usaha dan menuntut Ari untuk mencari cara agar proses produksi tidak terhenti. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mendatangkan singkong dari luar daerah. Pilihan itu membantu memenuhi kebutuhan, meskipun pengadaan dari jarak lebih jauh tetap memerlukan penyesuaian biaya dan perencanaan.
Kondisi pasokan yang berubah-ubah menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha perlu disertai pengelolaan bahan baku yang cermat. Ari perlu memperhitungkan kebutuhan produksi, ketersediaan singkong, serta biaya pembelian agar usaha dapat terus beroperasi. Dukungan modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi salah satu penopang bagi pengembangan Comring Sawargi. Menurut Ari, tambahan modal membantu meningkatkan produksi dan memperluas pemasaran. Dengan kapasitas yang lebih baik, usaha memiliki peluang menjangkau lebih banyak konsumen dan mengembangkan penjualan.
Dampak usaha itu turut dirasakan di luar kegiatan produksi. Penghasilan dari Comring Sawargi memberi manfaat ekonomi bagi keluarga Ari, sementara aktivitas usaha juga membuka keterlibatan dan peluang pendapatan bagi warga sekitar. Meski demikian, dukungan modal tidak dengan sendirinya menghilangkan tantangan pasokan singkong. Ketersediaan dan harga bahan baku masih dapat berubah mengikuti musim serta kondisi panen. Karena itu, Ari tetap perlu menyesuaikan pengadaan agar produksi dapat berlanjut, sembari menjaga agar perkembangan usaha memberi manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
Pengalaman Comring Sawargi dalam mengembangkan olahan singkong dapat ditempatkan dalam gambaran yang lebih luas mengenai akses pembiayaan produktif bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk membaca konteks tersebut, BRI Research Institute menerbitkan riset pada 2025 berjudul “Survei Efektivitas KUR dan Beban Biaya UMKM”. Kajian ini memberi data mengenai perubahan omzet yang dilaporkan oleh para penerima pinjaman BRI, sehingga menyediakan salah satu tolok ukur untuk memahami dampak pembiayaan terhadap kegiatan usaha. Temuan survei perlu dibaca sesuai cakupan responden dan hasil yang dicatat, bukan sebagai jaminan bahwa setiap pelaku usaha akan mengalami perubahan yang sama. Dalam konteks ini, perjalanan Comring Sawargi menjadi bagian dari kisah UMKM yang tumbuh bersama dukungan akses modal, sementara angka survei menggambarkan kecenderungan pada kelompok responden yang diteliti.
Riset tersebut melibatkan 2.928 responden penerima pinjaman BRI. Di mereka, 66,2 persen debitur tercatat mengalami peningkatan omzet. Secara lebih terperinci, 45,9 persen responden melaporkan kenaikan omzet pada kisaran 5–15 persen.
Baca juga: Dukungan Pemprov Jakarta dalam Penanganan Penyulundupan Kacang Tanah | Penegakan Hukum KPK: Penggeledahan Menjadi Tanda Awal Kasus Korupsi | Dukungan PT Hersindo Logistic untuk Korban Dugaan Pelecehan







