Di Tengah Pemulihan Banjir Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau Bor Lima Sumur Baru

oleh -44 Dilihat
oleh
Di Tengah Pemulihan Banjir Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau Bor Lima Sumur Baru

Kabupaten Aceh Tamiang | Pertamina EP Rantau Field tetap melanjutkan kegiatan pengeboran di tengah proses pemulihan infrastruktur setelah banjir melanda wilayah kerja perusahaan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Dalam kondisi fasilitas pascabanjir yang belum sepenuhnya pulih, perusahaan menyiapkan pengeboran lima sumur baru. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mencari cadangan minyak dan gas bumi baru di wilayah kerja Pertamina EP Rantau.

Pengeboran lima sumur itu juga diarahkan untuk mempertahankan kesinambungan produksi dan mendukung ketersediaan pasokan energi nasional. Kegiatan eksplorasi serta pengembangan sumur tetap dipandang penting ketika pemulihan infrastruktur masih berlangsung, karena keberlanjutan operasi migas berkaitan dengan kemampuan perusahaan menjaga produksi di lapangan. Pertamina EP Rantau Field menjalankan agenda tersebut secara bersamaan dengan proses pemulihan fasilitas yang terdampak banjir.

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan bahwa pengeboran tetap dilakukan meskipun pemulihan fasilitas pascabanjir belum sepenuhnya selesai. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kegiatan operasional perusahaan terus berjalan di tengah penanganan dampak banjir yang masih berlangsung. Lima sumur baru tersebut menjadi sasaran pengeboran untuk menemukan tambahan cadangan minyak dan gas bumi, sekaligus menjaga produksi serta ketersediaan energi nasional. Dengan demikian, kegiatan pengeboran dan pemulihan infrastruktur berlangsung dalam waktu yang sama di wilayah kerja Pertamina EP Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.

Lima sumur baru Pertamina EP Rantau tersebar di dua kampung yang menjadi bagian dari wilayah kerja pengeboran. Dua sumur berada di Kampung Tanjung Seumantoh, sedangkan tiga sumur lainnya berlokasi di Kampung Paya Meta. Pembagian lokasi ini menunjukkan bahwa kegiatan pengeboran dilakukan pada lebih dari satu area operasi, dengan dukungan peralatan yang disesuaikan untuk pekerjaan lapangan.

Di Kampung Tanjung Seumantoh, sumur yang dibor adalah RNT DZ-51 dan RNT DZ-52. Kedua sumur tersebut dikerjakan menggunakan rig APS-752 dengan kapasitas 550 HP. Rig ini digunakan untuk mendukung seluruh tahapan pengeboran, mulai dari persiapan titik sumur, pemasangan rangkaian pipa, hingga pencapaian kedalaman akhir sesuai sasaran teknis masing-masing sumur.

RNT DZ-51 memiliki kedalaman akhir 1.145 meter. Sementara itu, RNT DZ-52 dibor hingga kedalaman akhir 1.037 meter. Perbedaan kedalaman tersebut mencerminkan sasaran teknis yang berbeda pada setiap titik pengeboran. Data kedalaman akhir juga menjadi salah satu indikator penting dalam memastikan pekerjaan berlangsung sesuai rancangan dan target operasi yang telah ditetapkan.

Tiga sumur lainnya berada di Kampung Paya Meta, yakni RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33. Pengeboran di lokasi ini didukung rig TMMJ-12 yang memiliki kapasitas 550 HP. Penggunaan rig dengan kapasitas tersebut membantu menunjang kebutuhan operasional selama proses pengeboran, termasuk pengendalian peralatan dan pelaksanaan pekerjaan pada setiap tahap sumur.

Dengan demikian, rincian lokasi dan peralatan memperlihatkan pembagian kegiatan yang jelas Kampung Tanjung Seumantoh dan Kampung Paya Meta. APS-752 digunakan untuk RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 di Kampung Tanjung Seumantoh, sedangkan TMMJ-12 digunakan untuk RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33 di Kampung Paya Meta. Seluruh rig memiliki kapasitas 550 HP, sementara kedalaman akhir yang tercatat untuk dua sumur di Tanjung Seumantoh adalah 1.145 meter dan 1.037 meter.

Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 menjadi salah satu gangguan paling serius terhadap kegiatan operasional Pertamina EP Rantau. Ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 4 hingga 4,5 meter, sehingga fasilitas operasi, perkantoran, serta permukiman pekerja di wilayah kerja tersebut ikut terdampak. Akses menuju sejumlah lokasi juga mengalami hambatan, sementara sarana pendukung produksi tidak dapat berfungsi secara normal. Situasi ini membuat kegiatan lapangan harus dihentikan sementara demi keselamatan personel dan perlindungan terhadap aset perusahaan.

Dampak paling signifikan terjadi pada stasiun kompresor gas atau HPCS. Kerusakan pada fasilitas tersebut menyebabkan pasokan gas untuk pembangkit listrik terganggu dan aliran listrik terhenti. Tanpa dukungan kelistrikan, berbagai peralatan produksi tidak dapat dioperasikan, sehingga produksi minyak Pertamina EP Rantau sempat berhenti total. Kondisi itu menunjukkan bahwa pemulihan fasilitas energi menjadi tahap penting sebelum kegiatan produksi dapat dijalankan kembali secara bertahap.

Untuk mengatasi gangguan pasokan, tim teknis melakukan modifikasi pada stasiun pengumpul SP-5 dan SP-1. Kedua fasilitas tersebut disiapkan agar dapat berfungsi sebagai sumber alternatif pasokan gas bagi pembangkit listrik. Langkah ini memungkinkan perusahaan membangun kembali dukungan energi untuk peralatan operasi, sekaligus mengurangi ketergantungan sementara terhadap HPCS yang masih dalam proses pemulihan. Pelaksanaan modifikasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, keselamatan kerja, dan keandalan sistem agar fasilitas dapat digunakan secara efektif.

Pemulihan operasi tidak berlangsung sekaligus, melainkan melalui beberapa tahapan sesuai kesiapan fasilitas dan hasil pemeriksaan teknis. Proses tersebut didukung personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina lainnya, yang membantu menangani kebutuhan teknis, pemeliharaan, dan pengoperasian fasilitas. Kolaborasi lintas wilayah ini mempercepat penanganan dampak banjir sekaligus memastikan setiap tahap pemulihan dilakukan secara terukur. Setelah dukungan listrik dan fasilitas utama berangsur pulih, kegiatan produksi dapat dipersiapkan kembali sebagai bagian dari upaya mengembalikan operasi Pertamina EP Rantau.

Produksi minyak Pertamina EP Rantau Field kini telah kembali stabil pada level sekitar 1.700 barel per hari. Capaian tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam rangkaian pemulihan operasi setelah aktivitas perusahaan terdampak kondisi banjir di Aceh Tamiang. Angka produksi saat ini dapat dibandingkan secara terbatas dengan capaian sekitar 2.000 barel per hari yang sempat tercatat pada Mei dan Agustus 2026. Perbandingan itu menggambarkan adanya perbedaan tingkat produksi pada periode yang berbeda, tanpa menyimpulkan penyebabnya di luar informasi yang telah disampaikan.

Di tengah proses pemulihan tersebut, Pertamina EP Rantau tetap melanjutkan pengelolaan fasilitas dan kegiatan lapangan secara bertahap. Stabilnya produksi pada level 1.700 barel per hari menunjukkan bahwa fasilitas produksi telah kembali mendukung kegiatan operasional. Perkembangan ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pasokan minyak serta memastikan setiap tahapan kerja berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Atas percepatan pemulihan fasilitas produksi, Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas memberikan penghargaan kepada Pertamina EP Rantau Field. Penghargaan tersebut menandai apresiasi terhadap langkah perusahaan dalam memulihkan fasilitas dan menjaga kesinambungan operasi di tengah tantangan lapangan. Pemberian penghargaan ini sekaligus menegaskan pentingnya koordinasi serta respons cepat dalam pengelolaan kegiatan hulu minyak dan gas bumi.

Seluruh rangkaian operasional pengeboran dinyatakan telah memenuhi standar keselamatan kerja dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Penerapan prinsip tersebut mencakup aspek environmental, social, and governance (ESG), sehingga kegiatan tidak hanya berorientasi pada pencapaian produksi, tetapi juga memperhatikan keselamatan, tanggung jawab sosial, serta pengelolaan lingkungan dan tata kelola. Dengan produksi yang kembali stabil dan standar operasional yang tetap dijaga, Pertamina EP Rantau melanjutkan kegiatan pemulihan secara terukur dan bertanggung jawab.