Jakarta | PT Bank Central Asia Tbk (BCA) bersama entitas anak membukukan laba bersih Rp45,2 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Perolehan tersebut tumbuh 4,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan kinerja positif perseroan hingga triwulan III 2026. Capaian ini menjadi salah satu gambaran perkembangan bisnis BCA di tengah kebutuhan menjaga pertumbuhan sekaligus mengelola risiko dan likuiditas.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyampaikan keterangan mengenai kinerja dan arah pembiayaan perusahaan di Jakarta pada Selasa. Ia menegaskan komitmen BCA untuk terus menyalurkan kredit kepada beragam sektor guna mendukung perekonomian nasional. Penyaluran pembiayaan tersebut diarahkan agar dapat menjangkau kebutuhan usaha dan kegiatan ekonomi yang membutuhkan dukungan perbankan, dengan tetap memperhatikan kondisi yang dihadapi perusahaan maupun lingkungan usaha.
Dalam menjalankan komitmen itu, BCA mempertimbangkan prinsip kehati-hatian serta kondisi likuiditas. Pendekatan tersebut penting agar pertumbuhan kredit berlangsung secara terukur dan sejalan dengan kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan dana nasabah. Dengan demikian, dukungan terhadap berbagai sektor ekonomi dapat dilakukan tanpa mengabaikan pengelolaan risiko dan ketahanan keuangan perusahaan. Keterangan manajemen tersebut menempatkan ekspansi kredit dan kehati-hatian sebagai bagian dari arah bisnis yang berjalan beriringan.
Laba bersih Rp45,2 triliun dan pertumbuhan tahunan 4,2 persen memberikan konteks mengenai hasil usaha BCA hingga akhir triwulan III. Pada saat yang sama, pernyataan Hendra menunjukkan bahwa perusahaan tetap melihat penyaluran kredit sebagai salah satu peran penting perbankan dalam menopang aktivitas ekonomi. Keseimbangan dukungan pembiayaan, pertimbangan risiko, dan likuiditas menjadi perhatian dalam melanjutkan kinerja. Perkembangan lebih lanjut akan tercermin dalam laporan periode berikutnya, termasuk bagaimana kondisi usaha dan kebutuhan pembiayaan memengaruhi keputusan BCA. Hingga September 2026, perseroan menyatakan akan terus mendukung berbagai sektor dengan pendekatan yang terukur, sambil menjaga prinsip kehati-hatian dalam setiap penyaluran kredit dan memastikan likuiditas tetap menjadi pertimbangan dalam operasionalnya.
Penyaluran kredit BCA hingga September 2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid. Total kredit mencapai Rp1.063 triliun, meningkat 12,6 persen secara tahunan. Perkembangan ini mencerminkan berlanjutnya kebutuhan pembiayaan dari berbagai segmen usaha dan rumah tangga, sekaligus memperkuat peran kredit sebagai salah satu penggerak kinerja perseroan. Di dalam portofolio tersebut, kredit produktif menjadi penopang utama dengan nilai Rp831 triliun, atau tumbuh 17,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit produktif ditopang oleh kenaikan pada segmen korporasi, komersial, dan usaha kecil dan menengah (UKM). Kredit korporasi meningkat 20,9 persen secara tahunan menjadi Rp528,1 triliun. Nilai ini menjadikan korporasi sebagai komponen terbesar dalam kredit produktif BCA. Pembiayaan korporasi dapat mendukung kebutuhan perusahaan, termasuk modal kerja dan investasi, sementara pertumbuhan yang tercatat menunjukkan penyaluran di segmen ini tetap berkembang hingga kuartal III 2026.
Pada segmen komersial, kredit tumbuh 7,8 persen menjadi Rp154,1 triliun. Sementara itu, kredit UKM meningkat 15,4 persen secara tahunan ke Rp149,2 triliun. Kenaikan pada kedua segmen ini memperlihatkan kontribusi pelaku usaha menengah dan UKM terhadap ekspansi pembiayaan. Pertumbuhan UKM juga penting dicermati karena segmen tersebut mencakup kebutuhan pendanaan berbagai usaha, dengan skala dan karakteristik yang beragam.
Perusahaan menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit UKM BCA konsisten berada di atas rata-rata industri perbankan nasional hingga kuartal III 2026. Keterangan ini menempatkan ekspansi UKM dalam konteks perkembangan industri, sekaligus menunjukkan bahwa penyaluran kepada segmen tersebut terus menjadi bagian dari strategi pembiayaan. Secara keseluruhan, kenaikan kredit produktif—dengan dukungan kuat dari korporasi serta pertumbuhan UKM dan komersial—menjelaskan komposisi pertumbuhan kredit BCA. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat diamati dalam menilai kinerja intermediasi perseroan sampai September 2026.
Per September 2026, kredit berkelanjutan BCA tercatat sebesar Rp280,3 triliun, meningkat 16,3 persen secara tahunan. Nilai tersebut setara dengan 26,4 persen dari total portofolio pembiayaan perseroan. Angka ini menggambarkan porsi pembiayaan berkelanjutan di dalam keseluruhan kredit pada periode pelaporan, sekaligus menunjukkan pertumbuhan dibandingkan posisi pada September tahun sebelumnya. Penyajian data tersebut memberi gambaran mengenai skala dan perkembangan portofolio yang dikategorikan berkelanjutan.
Komposisi kredit berkelanjutan menjadi salah satu bagian dari penyaluran pembiayaan BCA hingga akhir September 2026. Dengan porsi 26,4 persen, portofolio ini mencakup lebih dari seperempat total pembiayaan yang dilaporkan. Sementara itu, pertumbuhan tahunan sebesar 16,3 persen menunjukkan perubahan nilai secara year-on-year. Data tersebut dapat dibaca bersama dengan perkembangan kredit secara keseluruhan, tanpa mengabaikan konteks kualitas aset dan dukungan pendanaan yang turut menjadi bagian dari kinerja perseroan.
Dari sisi kualitas kredit, rasio loan at risk (LAR) BCA berada pada level 4,6 persen per September 2026. Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 1,8 persen. Kedua rasio ini menyajikan ukuran yang berbeda mengenai kondisi risiko kredit: LAR mencakup kategori kredit berisiko yang lebih luas, sedangkan NPL mengacu pada kredit yang telah masuk klasifikasi bermasalah. Angka-angka tersebut merupakan posisi pada periode pelaporan yang sama.
Penyaluran kredit dan kondisi kualitas aset tersebut berlangsung dengan dukungan pendanaan yang disebut perseroan solid. Keterangan ini menempatkan pendanaan sebagai bagian dari konteks kegiatan intermediasi BCA hingga September 2026. Dengan demikian, pembacaan terhadap kredit berkelanjutan sebesar Rp280,3 triliun, pertumbuhan tahunannya, serta rasio LAR dan NPL dapat dilengkapi dengan informasi mengenai pendanaan. Data yang tersedia menyampaikan nilai dan rasio pada periode tersebut, tanpa merinci di sini komponen pendanaan atau perubahan kualitas kredit dari periode sebelumnya.
Hingga September 2026, struktur pendanaan BCA menunjukkan pertumbuhan yang solid. Dana giro dan tabungan atau CASA meningkat 10,4 persen secara tahunan menjadi Rp1.103 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan kuatnya kepercayaan nasabah serta dukungan aktivitas transaksi dan layanan perbankan. Secara keseluruhan, dana pihak ketiga (DPK) naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai Rp1.301 triliun. Penguatan pendanaan tersebut menjadi landasan bagi perseroan untuk menjaga kapasitas intermediasi dan merespons kebutuhan pembiayaan secara berkelanjutan.
Hendra menyampaikan bahwa berbagai kegiatan turut mendukung kinerja pembiayaan, termasuk BCA Expo 2026 dan BCA UMKM Fest 2026. BCA UMKM Fest melibatkan lebih dari 1.600 pelaku usaha, sekaligus membuka ruang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah untuk memperkenalkan produk serta menjangkau lebih banyak konsumen. Sementara itu, BCA Expo menjadi salah satu kanal bagi nasabah untuk mengenal beragam solusi finansial dan memperoleh informasi pembiayaan. Kegiatan tersebut mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan layanan perbankan yang relevan, serta mendukung akses terhadap kredit bagi segmen konsumen maupun usaha.
Selain kegiatan yang berorientasi pada pembiayaan, BCA menyelenggarakan BCA Wealth Summit 2026 sebagai forum edukasi finansial bagi nasabah dan masyarakat. Forum ini membahas pengelolaan keuangan dan wawasan terkait pengembangan kekayaan, sehingga peserta dapat mempertimbangkan keputusan finansial secara lebih terinformasi. Perseroan juga menegaskan komitmennya menghadirkan produk dan layanan sesuai kebutuhan nasabah yang beragam. Salah satu inisiatifnya ialah program KPR Fixed Terencana, yang dirancang untuk membantu nasabah merencanakan kredit hunian ketika suku bunga bergerak dinamis. Dengan pilihan perencanaan yang lebih terarah, calon debitur dapat memahami komitmen pembayaran dan menyesuaikannya dengan kondisi keuangan.
Di sisi layanan digital BCA.
Baca juga: Jakarta Mencatat Kualitas Udara Buruk pada September 2026 | Pergerakan Harga Emas Antam Tanggal 22 September 2026 | Pendanaan Proyek Infrastruktur Jakarta Tercatat Rp2,11 Triliun







