Kisah Kepulangan Pertiwi dan Perjuangan Menghadapi Masa Lalu dalam Film Empat Musim Pertiwi

oleh -691 Dilihat
oleh
Kisah Kepulangan Pertiwi dan Perjuangan Menghadapi Masa Lalu dalam Film Empat Musim Pertiwi

Jakarta | Film Empat Musim Pertiwi berpusat pada kepulangan Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke tanah kelahirannya setelah dua puluh tahun meninggalkan tempat tersebut. Jarak waktu yang panjang membuat kepulangannya tampak seperti sebuah kesempatan untuk memulai kembali kehidupan. Namun, sejak tiba, Pertiwi menyadari bahwa pulang tidak selalu berarti menemukan tempat untuk kembali. Rumah, lingkungan, dan orang-orang yang pernah dikenalnya telah berubah, sementara dirinya sendiri masih membawa jejak pengalaman yang belum benar-benar usai.

Kedatangannya perlahan membuka kembali berbagai luka lama. Tanah kelahiran yang seharusnya menawarkan rasa aman justru menghadirkan kenangan pahit yang selama ini berusaha ia jauhkan dari kehidupan sehari-hari. Peristiwa masa lalu tidak hadir sebagai ingatan yang terpisah, melainkan terus memengaruhi cara Pertiwi memandang dirinya, keluarganya, dan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Setiap perjumpaan serta sudut tempat yang dikenalnya menjadi pemicu bagi munculnya kembali perasaan bersalah, kehilangan, dan kekecewaan.

Karena itu, perjalanan pulang Pertiwi bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Kepulangan tersebut menjadi pintu masuk bagi konflik utama film, yakni pergulatan seorang perempuan dalam menghadapi masa lalu yang terus membayangi kehidupannya. Pertiwi harus berhadapan dengan kenyataan yang selama dua puluh tahun mungkin ia tutupi, sekaligus menentukan apakah luka itu akan terus mengendalikan langkahnya atau dapat dipahami dan diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Konflik tersebut memberikan kedalaman pada kisah Pertiwi. Ia tidak digambarkan sebagai tokoh yang langsung memperoleh jawaban setelah kembali, melainkan sebagai sosok yang harus melewati proses emosional yang rumit. Upayanya untuk memahami masa lalu berlangsung melalui penolakan, kegelisahan, dan keberanian untuk meninjau kembali pengalaman yang menyakitkan. Film ini kemudian menempatkan kepulangan sebagai pengalaman yang ambigu: dapat menjadi kesempatan untuk berdamai, tetapi juga memaksa seseorang menyaksikan kembali luka yang selama ini belum terselesaikan.

Kepulangan Pertiwi ke tanah kelahirannya tidak serta-merta menghadirkan rasa aman atau kehangatan yang selama ini mungkin ia harapkan. Setelah sekian lama berada jauh dari kampung halaman, ia justru berhadapan dengan sikap keluarga yang canggung, tertutup, bahkan cenderung menolak kehadirannya. Rumah dan lingkungan yang semestinya menjadi tempat untuk kembali perlahan terasa asing. Keinginan Pertiwi untuk menemukan kembali tempat tinggal tidak hanya berkaitan dengan ruang fisik, tetapi juga dengan harapan memperoleh penerimaan dari orang-orang terdekat.

Penolakan tersebut tidak berhenti pada lingkup keluarga. Warga setempat turut memperlihatkan jarak, sehingga kehadiran Pertiwi menjadi sumber kegelisahan di tengah komunitas. Tatapan, sikap diam, dan perlakuan yang tidak ramah mempertegas bahwa ia belum dianggap sebagai bagian dari lingkungan itu. Dalam keadaan demikian, upaya mencari tempat tinggal berubah menjadi perjuangan untuk mendapatkan ruang bagi dirinya sendiri. Setiap langkah kepulangan membawa Pertiwi semakin dekat pada pertanyaan mengenai apakah seseorang masih dapat memiliki rumah setelah lama dianggap tidak hadir.

Tekanan emosional itu semakin berat karena masa lalu Pertiwi pernah membawanya ke balik jeruji penjara. Fakta tersebut menjadi beban yang terus membayangi perjalanan pulangnya, tanpa perlu dijelaskan melalui alasan atau rincian mengenai kasus yang pernah dialaminya. Pengalaman tersebut membentuk jarak Pertiwi dan lingkungan sekitarnya, sekaligus memengaruhi cara orang lain memandang dirinya. Trauma, penolakan, dan beban masa lalu kemudian menjadi sumber ketegangan utama dalam cerita. Konflik yang dihadapi Pertiwi bukan semata-mata tentang kepulangan secara geografis, melainkan tentang keberanian menghadapi luka yang belum selesai dan kemungkinan bahwa penerimaan tidak mudah diperoleh kembali.

Di tengah kepulangan Pertiwi yang tidak disambut sebagaimana mestinya, Bisma, diperankan oleh Arya Saloka, hadir sebagai salah satu sosok yang bersedia melihat Pertiwi tanpa segera menghakimi masa lalunya. Sikap tersebut menjadikan Bisma penting dalam perjalanan batin Pertiwi. Ketika keluarga dan warga setempat memilih menjaga jarak, keberadaan Bisma menyediakan ruang yang lebih aman bagi Pertiwi untuk berbicara, mempertimbangkan kembali keputusan-keputusannya, serta menghadapi pengalaman yang selama ini berusaha ia tinggalkan.

Penerimaan Bisma tidak semata-mata dapat dipahami sebagai bentuk simpati personal. Ia berperan sebagai pengingat bahwa seseorang tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan rumor, kesalahan, atau sejarah yang belum sepenuhnya dipahami. Melalui hubungan Pertiwi dan Bisma, film ini memperlihatkan bahwa menghadapi masa lalu membutuhkan keberanian dari dalam diri, tetapi juga membutuhkan kehadiran orang lain yang mampu memberi kepercayaan. Dukungan Bisma membantu Pertiwi tetap berdiri ketika penolakan sosial membuat kepulangannya terasa seperti kesalahan.

Sosok lain yang menyambut Pertiwi adalah Mak Ira, diperankan oleh Christine Hakim. Kehadiran Mak Ira menawarkan bentuk penerimaan yang berbeda, yakni penerimaan yang berakar pada kebijaksanaan, empati, dan kemampuan memahami manusia secara lebih utuh. Ia tidak menempatkan Pertiwi semata sebagai sumber persoalan, melainkan sebagai seseorang yang sedang berusaha menemukan jalan untuk berdamai dengan masa lalu. Sikap Mak Ira memperluas makna rumah dan keluarga, terutama ketika lingkungan terdekat justru menutup pintu bagi Pertiwi.

Bisma dan Mak Ira sama-sama menjadi penyangga penting dalam perjalanan Pertiwi, meskipun kemungkinan diwujudkan melalui cara yang berbeda. Bisma memberikan keberanian untuk terus melangkah, sedangkan Mak Ira menghadirkan ketenangan dan pemahaman. Keduanya menegaskan bahwa penerimaan bukan berarti membenarkan seluruh tindakan seseorang, melainkan kesediaan untuk mendengarkan dan mengakui kemanusiaannya. Di penolakan keluarga dan warga, sikap mereka membuat Pertiwi memiliki kesempatan untuk menghadapi masa lalu dengan lebih jujur, tanpa sepenuhnya kehilangan harapan untuk diterima.

Empat Musim Pertiwi memperkenalkan karya Kamila Andini yang berangkat dari pergulatan emosional seorang perempuan ketika berhadapan dengan masa lalu. Film ini menempatkan trauma, penolakan, dan kebutuhan untuk memahami kembali pengalaman hidup sebagai bagian penting dari perjalanan Pertiwi. Kepulangannya tidak sekadar menjadi peristiwa personal, melainkan membuka ruang bagi konflik batin yang selama ini berusaha ia hindari.

Melalui kisah tersebut, film ini menggambarkan bahwa menghadapi masa lalu tidak selalu berlangsung secara sederhana. Pertiwi perlu berhadapan dengan luka, hubungan yang berubah, serta kemungkinan untuk menerima kembali bagian-bagian hidup yang pernah ditolak. Gagasan tentang kesempatan untuk memulai kembali menjadi salah satu landasan emosional yang membuat perjalanan tokohnya memiliki relevansi luas, terutama bagi penonton yang melihat proses pemulihan sebagai pengalaman yang bertahap.

Putri Marino dipercaya memerankan Pertiwi, tokoh utama yang menjadi pusat perkembangan cerita. Sementara itu, Arya Saloka hadir sebagai Bisma, sosok yang turut berkaitan dengan pergulatan dan pilihan-pilihan Pertiwi. Kehadiran kedua pemeran tersebut memperkuat perhatian terhadap relasi antartokoh, sekaligus membantu menerjemahkan konflik emosional yang menjadi inti film.

Sesuai informasi yang beredar, Empat Musim Pertiwi disebut mewakili Indonesia di ajang Oscar dan disiapkan untuk tayang pada 2026. Pernyataan tersebut menempatkan film Kamila Andini ini dalam perhatian yang lebih luas, tanpa mengurangi kekuatannya sebagai kisah intim tentang seseorang yang berusaha berdamai dengan masa lalu. Pada akhirnya, perjalanan Pertiwi menawarkan pandangan bahwa kepulangan dapat menjadi awal untuk mengenali luka, menghadapi penolakan, dan membuka kemungkinan hidup yang baru.

Baca juga: Rapimnas FKPPI, Bamsoet Dukung FKPPI Miliki Garis-Garis Besar Haluan Perjuangan | Laga Perdana PSIS Semarang: Menghadapi PSPS Pekanbaru di Stadion Jatidiri | Menghadapi Kehilangan: Doa dan Harapan untuk Jurnalis yang Hilang di Erupsi Anak Krakatau