Mengenang Kudatuli 1996, PDI Perjuangan Serukan Semangat Perjuangan Demokrasi Lewat Tabur Bunga

oleh -45 Dilihat
oleh

Jakarta Pusat, Senin, 27 Juli 2026 – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan menggelar kegiatan tabur bunga dalam rangka memperingati 30 tahun peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996) di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026) pagi. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 08.05 WIB tersebut diikuti sekitar 100 peserta dan dipimpin Komaruddin Watubun.

Sejumlah tokoh PDI Perjuangan hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Ganjar Pranowo, Adian Napitupulu, FX Hadi Rudyatmo, Tri Rismaharini, Ribka Tjiptaning, Komaruddin Watubun, Audi Tambunan, Yuke Yurike, Aryo Adidarmo, serta sejumlah kader dan pengurus partai lainnya. Acara diawali dengan prosesi tabur bunga yang dilakukan di area halaman hingga kawasan parkir Kantor DPP sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang demokrasi yang gugur dalam peristiwa 27 Juli 1996.

Dalam sambutannya, Ribka Tjiptaning mengajak seluruh kader untuk terus mengingat perjalanan panjang perjuangan partai. Ia menilai kemenangan politik yang diraih PDI Perjuangan tidak terlepas dari dukungan rakyat, sekaligus mengenang peristiwa 27 Juli 1996 yang menurutnya meninggalkan luka mendalam akibat tindakan represif dan jatuhnya korban jiwa.

Kesaksian sejarah juga disampaikan Fahri Urip yang mengaku menjadi salah satu saksi langsung peristiwa Kudatuli. Ia mengenang situasi politik saat itu sebagai masa ketika demokrasi mengalami tekanan berat. Sementara FX Hadi Rudyatmo menceritakan pengalamannya datang dari Solo menuju Jakarta bersama rekan-rekannya, hingga mengikuti perjalanan perubahan nama partai dari PDI menjadi PDI Perjuangan yang kemudian memenangkan Pemilu 1999.

Komaruddin Watubun dalam pidatonya menegaskan bahwa masih banyak pejuang demokrasi yang belum tercatat dalam sejarah. Ia mengingat kembali keterlibatannya saat peristiwa Kudatuli terjadi dan mengajak seluruh kader tetap menjaga semangat perjuangan. Menurutnya, cita-cita demokrasi harus terus diperjuangkan dengan tetap mengedepankan keadilan hukum yang tidak memihak.

Adian Napitupulu turut membagikan kisah perjuangan menjelang hingga saat berlangsungnya peristiwa 27 Juli 1996. Ia menceritakan bagaimana massa pendukung berupaya mempertahankan kantor partai, menghadapi penjagaan aparat, hingga bergerak melalui berbagai titik di Jakarta. Ia juga mengenang solidaritas masyarakat yang membantu para kader saat situasi memanas serta menyampaikan apresiasi kepada para senior partai yang telah berjuang mempertahankan nilai-nilai demokrasi.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta. Sekitar pukul 08.05 WIB, acara berakhir dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif. Peringatan 30 tahun Kudatuli tersebut menjadi momentum bagi PDI Perjuangan untuk mengenang perjalanan sejarah partai sekaligus menghormati para tokoh dan pejuang yang dinilai telah berkontribusi dalam perjalanan demokrasi di Indonesia.

Pewarta: Abdul Latif