Panas Bumi Buka Akses Pegunungan dan Menggerakkan Ekonomi Warga

oleh -112 Dilihat
oleh
Panas Bumi Buka Akses Pegunungan dan Menggerakkan Ekonomi Warga

Jakarta | Pengembangan panas bumi tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi, tetapi juga dapat menghadirkan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mendorong manfaat ganda tersebut melalui kegiatan pengembangan yang turut membuka akses di kawasan pegunungan. Di sejumlah lokasi, kondisi geografis dan keterbatasan jalur penghubung sebelumnya membuat kawasan tertentu sulit dijangkau. Pembangunan jalan untuk mendukung operasi panas bumi dapat membantu menghubungkan daerah yang sebelumnya terisolasi dengan wilayah di sekitarnya. Dengan akses yang lebih terbuka, mobilitas masyarakat dan hubungan antarkawasan berpeluang menjadi lebih mudah, tanpa mengubah tujuan utama jalan tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap kegiatan operasional panas bumi.

Jalan yang menghubungkan kawasan pegunungan juga dapat menjadi pemicu munculnya aktivitas ekonomi baru di sekitar jalur operasi. Ketika akses terbuka, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk berinteraksi dengan kawasan lain dan menjalankan kegiatan ekonomi di lingkungan mereka. Dampak tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur pendukung pengembangan energi dapat memberi manfaat yang melampaui kebutuhan operasional, sekaligus mendorong keterhubungan wilayah. Namun, manfaat yang timbul perlu dipahami sesuai konteks setempat. Pengembangan akses bukan berarti semua persoalan keterisolasian otomatis teratasi; kondisi masyarakat dan kebutuhan wilayah tetap beragam. Karena itu, keterbukaan jalur dapat dipandang sebagai salah satu faktor yang mendukung kegiatan warga dan tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar lokasi, bukan sebagai satu-satunya penentu perubahan.

Direktur Operasi PGE Andi Joko menyampaikan keterangan mengenai upaya dan manfaat tersebut di kawasan PLTP Kamojang, Bandung, pada Selasa (20/10/2026). Penjelasan itu menegaskan perhatian perusahaan terhadap dampak pengembangan panas bumi yang dirasakan di sekitar wilayah operasi, termasuk terbukanya akses dan tumbuhnya kegiatan ekonomi. Kamojang menjadi konteks penyampaian mengenai hubungan pembangunan jalan operasional, keterhubungan daerah pegunungan, dan peluang bagi warga. Dengan demikian, jalan pendukung panas bumi dapat berperan sebagai penghubung bagi kawasan yang sebelumnya sulit dicapai sekaligus menyediakan ruang bagi aktivitas ekonomi baru di sekitarnya. Manfaat ganda ini memperlihatkan bagaimana pengembangan energi dan kebutuhan konektivitas wilayah dapat berjalan berdampingan, selama dampaknya dipahami secara proporsional berdasarkan informasi yang tersedia.

Proyek panas bumi membuka peluang kerja bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pengembangan, baik selama pembangunan maupun setelah fasilitas memasuki tahap operasi. Kebutuhan tenaga kerja muncul dari beragam kegiatan, mulai dari pekerjaan lapangan dan dukungan teknis hingga layanan penunjang. Kesempatan tersebut memberi warga ruang untuk terlibat langsung dalam kegiatan proyek, sekaligus memperoleh pengalaman kerja yang relevan dengan kebutuhan operasional. Besarnya penyerapan tenaga kerja, bagaimanapun, berbeda menurut tahapan proyek dan tidak seharusnya dipahami sebagai angka yang tetap sepanjang waktu.

Dalam kegiatan operasional harian, PGE mencatat sedikitnya 210 tenaga kerja rutin berasal dari masyarakat setempat. Angka ini menggambarkan kebutuhan pekerja yang berkelanjutan untuk mendukung operasi setelah pembangunan fisik pembangkit selesai. Dengan demikian, jumlah tersebut merujuk pada tenaga kerja lokal yang terlibat secara rutin, bukan keseluruhan pekerja yang pernah direkrut selama proyek berlangsung. Peran mereka membantu menjaga agar berbagai kegiatan sehari-hari dapat berjalan, sementara keterlibatan warga juga menjadi salah satu bentuk manfaat ekonomi yang dirasakan di sekitar kawasan.

Jumlah pekerja lokal dapat meningkat tajam ketika proyek berada pada puncak pembangunan fisik. Pada tahap tersebut, kebutuhan tenaga kerja untuk berbagai pekerjaan konstruksi membuat jumlahnya dapat mencapai 2.000 orang. Andi Joko menyampaikan bahwa hampir seluruh pekerja pada masa puncak itu berasal dari warga lokal. Keterangan ini merujuk pada komposisi tenaga kerja ketika aktivitas pembangunan sedang tinggi, bukan pada jumlah pekerja rutin yang dibutuhkan untuk operasi harian. Perbedaan konteks dan waktunya penting agar kedua angka tersebut tidak dianggap saling bertentangan.

Penyerapan tenaga kerja dalam dua tahap itu menunjukkan bahwa kontribusi proyek terhadap kesempatan kerja memiliki bentuk yang berubah seiring perkembangan kegiatan. Puncak pembangunan menghadirkan kebutuhan pekerja sementara dalam jumlah besar, sedangkan operasi memerlukan kelompok yang lebih kecil tetapi rutin. Bagi warga sekitar, peluang tersebut dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus jalan untuk memperoleh pengalaman kerja. Dampak akhirnya bergantung pada kebutuhan proyek dan keterlibatan masyarakat, sehingga angka tenaga kerja perlu dibaca sesuai tahapan yang dimaksud. Pemisahan pekerja rutin dan pekerja pada masa konstruksi memberi gambaran yang lebih akurat tentang kontribusi tersebut.

Tina Talisa, Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial, menekankan bahwa pengembangan panas bumi perlu menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh warga di sekitar wilayah operasi. Menurutnya, energi yang dihasilkan dari sumber daya setempat semestinya tidak hanya dipandang sebagai komoditas untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan secara luas. Potensi panas bumi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung aktivitas masyarakat, membuka peluang ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup warga yang tinggal paling dekat dengan lapangan operasi.

Gagasan pemanfaatan langsung atau direct use ini melampaui pendekatan tanggung jawab sosial perusahaan. Program sosial tetap penting, tetapi pemanfaatan energi yang tersedia dapat menjadi cara yang lebih terhubung dengan kegiatan sehari-hari dan kebutuhan produktif masyarakat. Tina menyoroti peluang menggunakan kelebihan produksi energi yang sebelumnya belum termanfaatkan agar menghasilkan nilai tambah bagi warga. Dengan demikian, energi yang tersedia tidak berhenti sebagai kapasitas yang belum digunakan, tetapi dapat menopang kegiatan ekonomi lokal dan menciptakan manfaat yang lebih nyata di sekitar sumbernya.

Penekanan tersebut juga mengajak para pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan pemerataan manfaat energi. Hasil pengembangan panas bumi tidak semestinya hanya diarahkan ke wilayah yang jauh dari lapangan operasi, sementara masyarakat terdekat tidak memperoleh akses yang sepadan terhadap potensi tersebut. Perencanaan pemanfaatan langsung dapat membantu menghubungkan ketersediaan energi dengan kebutuhan lokal, selama dirancang sesuai kondisi dan kapasitas wilayah. Pendekatan ini menempatkan warga sekitar sebagai penerima manfaat sekaligus bagian dari pembangunan kawasan. Dengan mengoptimalkan energi yang sebelumnya belum dimanfaatkan, pengembangan panas bumi berpeluang memberi dampak ekonomi yang lebih inklusif, memperkuat kegiatan masyarakat, dan memastikan keberadaan sumber daya alam turut membawa manfaat bagi lingkungan sosial tempat sumber tersebut berada.

Di wilayah pegunungan, pengembangan energi panas bumi membawa harapan agar manfaatnya dirasakan terutama oleh masyarakat yang tinggal di sekitar area operasi. Harapan ini mencakup lebih dari tersedianya pasokan listrik atau energi yang bersumber dari alam. Warga setempat juga perlu dipandang sebagai bagian penting dalam perubahan yang berlangsung di lingkungan mereka, bukan sekadar pihak yang tinggal berdekatan dengan kegiatan proyek. Dengan perhatian pada kebutuhan dan kondisi lokal, pengembangan panas bumi dapat diarahkan untuk mendukung kehidupan masyarakat sekaligus memenuhi kebutuhan energi. Pendekatan tersebut menempatkan kesejahteraan warga sebagai tujuan yang perlu dipertimbangkan sejak perencanaan hingga pelaksanaan, tanpa menganggap bahwa hasilnya telah terwujud.

Pasokan energi terbarukan merupakan salah satu unsur yang dapat mendukung tujuan tersebut. Energi yang lebih andal berpotensi membantu kegiatan rumah tangga, layanan publik, dan aktivitas ekonomi di kawasan sekitar. Namun, manfaat itu perlu terhubung dengan pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan wilayah pegunungan. Akses jalan, misalnya, dapat memudahkan mobilitas warga dan menghubungkan permukiman dengan layanan maupun pusat kegiatan. Infrastruktur yang direncanakan secara cermat juga dapat mendukung kegiatan operasi, tetapi perlu memperhatikan kondisi lingkungan serta kepentingan masyarakat.

Baca juga: Bamsoet Apresiasi Nikah Massal Bersama Perkumpulan Bumi Alumni UNPAD, Hadirkan Kepedulian Sosial dan Gerakkan Ekonomi Alumni | KOMPAJA Geruduk Kejagung, Desak Penelusuran Dugaan Korupsi di Papua Pegunungan | Perayaan Bersejarah HUT ke-28 PAN: Menghargai Pejuang Ekonomi Indonesia