Pariwisata Berbasis Budaya Didorong untuk Memperluas Manfaat Ekonomi di Indonesia

oleh -869 Dilihat
oleh
Pariwisata Berbasis Budaya Didorong untuk Memperluas Manfaat Ekonomi di Indonesia

Jakarta | Direktur Lembaga Kajian dan Studi Kebijakan Publik (Lanskap) Bali, I Wayan Agus Pebriana, menilai pengembangan pariwisata berbasis budaya dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat perekonomian Indonesia. Pendekatan ini tidak semata-mata menjadikan budaya sebagai daya tarik bagi pengunjung, tetapi menempatkannya sebagai landasan dalam merancang pengalaman wisata dan membagikan manfaat kegiatan pariwisata. Dengan demikian, kekayaan tradisi, nilai, dan pengetahuan lokal dapat berperan dalam menggerakkan ekonomi tanpa kehilangan makna bagi masyarakat yang menjaganya.

Pandangan tersebut disampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Refleksi Dua Tahun Asta Cita: Menggali Visi Pariwisata Berkelanjutan dan Berbasis Budaya” yang diselenggarakan PD KMHDI Bali di Denpasar. Menurut Agus Pebriana, arah pengembangan itu sejalan dengan agenda Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pariwisata dapat memberi kontribusi lebih luas terhadap pembangunan apabila kebijakan dan pelaksanaannya menghubungkan potensi budaya dengan kesejahteraan warga. Karena itu, keberhasilan tidak cukup dinilai dari seberapa banyak orang datang ke suatu destinasi.

Ukuran yang lebih bermakna, lanjutnya, mencakup kualitas pengalaman wisatawan, durasi mereka tinggal, dan penghargaan yang diberikan terhadap budaya setempat. Wisatawan yang memperoleh pengalaman yang baik dan memahami konteks lokal berpeluang tinggal lebih lama, menggunakan jasa masyarakat, serta terlibat dalam kegiatan yang menghormati adat dan tradisi. Hal tersebut membutuhkan pengelolaan destinasi yang memperhatikan daya dukung, kenyamanan, serta keterlibatan warga, bukan hanya promosi untuk meningkatkan angka kunjungan. Pengalaman yang berkesan juga dapat mendorong kunjungan kembali dan rekomendasi kepada orang lain.

Aspek penting lainnya ialah seberapa besar manfaat ekonomi kembali kepada masyarakat lokal. Pelaku usaha setempat, pekerja, seniman, perajin, dan penyedia layanan perlu memiliki kesempatan nyata untuk memperoleh penghasilan dari kegiatan wisata. Jika belanja wisatawan lebih banyak terserap di tingkat lokal, pariwisata berpotensi memperkuat usaha warga dan memperluas distribusi pendapatan. Pandangan ini menegaskan perlunya menilai kinerja sektor pariwisata secara lebih menyeluruh: bukan hanya berdasarkan jumlah kedatangan, melainkan juga mutu interaksi, lama tinggal, penghormatan terhadap budaya, dan dampak ekonomi yang dirasakan komunitas tuan rumah. Dengan ukuran tersebut, pertumbuhan dapat diarahkan agar lebih selaras dengan keberlanjutan budaya dan kesejahteraan masyarakat.

Wayan menilai potensi lokal dapat menjadi penggerak penting bagi perekonomian masyarakat apabila dikelola secara tepat dan melibatkan warga setempat. Kekayaan alam, tradisi, kuliner, kerajinan, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang bernilai. Dengan demikian, kegiatan pariwisata tidak hanya menarik kunjungan, tetapi juga membuka ruang bagi usaha kecil, pelaku seni, pemandu lokal, dan penyedia jasa lainnya untuk memperoleh penghasilan.

Pengembangan tersebut, menurutnya, perlu menjaga keseimbangan manfaat ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan tradisi daerah. Potensi setempat tidak semestinya dimanfaatkan secara berlebihan hingga merusak ekosistem atau menghilangkan makna budaya yang menjadi daya tariknya. Perencanaan yang melibatkan masyarakat dapat membantu menentukan batas pemanfaatan sumber daya, menjaga kualitas lingkungan, serta memastikan bahwa praktik budaya ditampilkan dengan penghormatan terhadap nilai dan konteksnya. Pendekatan ini juga memberi warga peran dalam menentukan arah perkembangan destinasi.

Wayan turut menekankan bahwa keberlanjutan pariwisata Bali perlu berjalan beriringan dengan pengembangan destinasi di wilayah lain. Bali memiliki posisi penting dalam pariwisata Indonesia, tetapi kesempatan usaha dan manfaat ekonomi sebaiknya tidak terkonsentrasi di satu daerah. Ia berpandangan bahwa pengembangan pariwisata Indonesia tidak semestinya hanya berpusat di Bali. Wilayah lain juga perlu memperoleh dukungan untuk mengembangkan produk wisata sesuai karakter dan kapasitas masing-masing.

Menurut Wayan, kekayaan alam dan budaya yang tersebar di berbagai daerah dapat memperkuat daya saing pariwisata nasional. Bentang alam, warisan sejarah, ekspresi seni, dan tradisi lokal menawarkan ragam pengalaman yang dapat menarik minat wisatawan dengan kebutuhan berbeda. Jika dikembangkan melalui perencanaan yang matang, promosi yang tepat, dan peningkatan kapasitas masyarakat, keunggulan tersebut dapat membentuk pilihan destinasi yang saling melengkapi. Upaya ini berpotensi membuka peluang ekonomi baru, memperluas sumber penghidupan, dan mendorong distribusi kunjungan yang lebih merata. Karena itu, pemerataan destinasi bukan sekadar memperbanyak lokasi wisata, melainkan membangun manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekaligus menjaga aset alam dan budaya untuk generasi berikutnya.

Aktivis pemuda Hindu I Kadek Nova Semadi menilai pengembangan pariwisata di Bali perlu bertumpu pada potensi lokal. Pendekatan ini dapat memperkuat perekonomian masyarakat tanpa mengesampingkan identitas budaya yang menjadi bagian penting kehidupan setempat. Pariwisata tidak semata-mata diarahkan untuk menambah jumlah kunjungan, tetapi juga untuk menciptakan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi warga. Dengan mengangkat kekhasan tiap wilayah, kegiatan wisata dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk menjaga tradisi sekaligus memperoleh peluang penghasilan.

Nova menyoroti beragam potensi Bali yang dapat dikembangkan, termasuk wisata spiritual, perkebunan, budaya, dan edukasi. Ragam tersebut memungkinkan pengalaman wisata yang lebih beragam, sekaligus memperkenalkan kekayaan serta keragaman Bali kepada pengunjung. Wisata spiritual dapat berkaitan dengan nilai dan praktik keagamaan, sedangkan kawasan perkebunan dapat menawarkan pembelajaran mengenai hasil dan cara pengelolaannya. Kegiatan budaya dan edukasi juga dapat memberi ruang bagi pengetahuan lokal, kesenian, serta kisah masyarakat untuk dikenal secara lebih mendalam. Pengembangan yang dirancang bersama warga diharapkan memperluas kesempatan ekonomi, bukan hanya bagi pelaku besar, melainkan juga keluarga dan usaha lokal.

Arah ini sejalan dengan agenda Asta Cita yang menekankan pembangunan dari desa, penguatan kewirausahaan, peningkatan nilai tambah ekonomi, dan pemerataan pembangunan. Upaya konkretnya dapat mencakup pengembangan desa wisata, penguatan UMKM dan koperasi, serta peningkatan kapasitas masyarakat agar mereka lebih berperan dalam kegiatan ekonomi pariwisata. Pelatihan, pendampingan usaha, dan akses terhadap promosi maupun pasar dapat membantu warga mengelola layanan wisata dengan lebih baik. Dengan demikian, nilai ekonomi yang dihasilkan berpeluang beredar di tingkat lokal dan mendukung keberlanjutan usaha masyarakat.

Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, desa adat, pelaku usaha, komunitas budaya, perguruan tinggi, serta masyarakat. Pemerintah dapat mendukung kebijakan dan fasilitas, sementara desa adat dan komunitas membantu memastikan pengembangan tetap menghormati aturan, tradisi, dan nilai setempat. Pelaku usaha serta perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui investasi, pengetahuan, dan pendampingan. Keterlibatan warga dalam perencanaan dan pengelolaan juga penting agar kegiatan wisata tidak merusak warisan budaya maupun lingkungan. Kerja bersama tersebut dapat menjaga keseimbangan pelestarian dan manfaat ekonomi.

Data Kementerian Pariwisata dalam laporan capaian dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta pada 2025. Angka tersebut meningkat 10,80 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada 2024. Pertumbuhan itu berlanjut pada 2026. Hingga Agustus, tercatat 10,58 juta kunjungan wisatawan mancanegara, atau naik 5,38 persen secara tahunan. Capaian ini menggambarkan pemulihan sekaligus penguatan daya tarik destinasi Indonesia bagi pasar internasional. Namun, perkembangan pariwisata juga terlihat dari besarnya aktivitas wisata domestik yang menyebar ke berbagai wilayah.

Pada Januari hingga Agustus 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842,15 juta. Jumlah itu bertambah 4,29 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pergerakan wisatawan domestik berperan penting dalam menghidupkan usaha lokal, termasuk transportasi, akomodasi, kuliner, kerajinan, dan layanan pemandu. Dengan demikian, pertumbuhan kunjungan dapat memberikan peluang ekonomi yang lebih luas apabila kegiatan wisata terhubung dengan produk serta pelaku usaha setempat.