KOTA TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 25 September 2026, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) merujuk pada persentase nilai barang atau komponen yang diproduksi di dalam negeri dalam suatu produk. Di Indonesia, TKDN memiliki peranan yang sangat vital dalam pendorongan pertumbuhan industri kendaraan listrik. Dengan meningkatkan proporsi komponen yang diproduksi di dalam negeri, industri ini tidak hanya akan berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap impor, tetapi juga pada penciptaan lapangan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan industri lokal sebagai bagian dari strategi untuk mencapai kemandirian ekonomi.
Dalam konteks kendaraan listrik, penerapan TKDN dapat meningkatkan kemampuan industri lokal untuk berkompetisi di pasar nasional maupun global. Dengan memproduksi berbagai komponen kendaraan listrik secara lokal, tidak hanya mendukung pengembangan teknologi dalam negeri, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian, seperti pengurangan biaya logistik dan peningkatan daya saing produk. Implementasi TKDN ini juga mendorong penelitian dan pengembangan (R&D), yang penting untuk inovasi produk dan peningkatan kualitas komponen yang dihasilkan.
Lebih jauh, peningkatan TKDN pada kendaraan listrik akan mengarah pada peningkatan daya serap tenaga kerja di sektor industri. Dengan semakin banyaknya komponen yang diproduksi di dalam negeri, industri akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja terampil untuk memenuhi permintaan produksi. Ini akan menciptakan peluang bagi banyak individu dan mendukung pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan demikian, TKDN bukan hanya sekadar angka statistik, tetapi merupakan indikator penting dalam pembangunan yang berkelanjutan dan menciptakan ekosistem industri yang sehat.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target yang ambisius dalam meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya mempercepat pengembangan industri otomotif lokal. Untuk mencapai target ini, roadmap pemerintah meliputi tahapan bertahap yang direncanakan hingga tahun 2030, dengan target awal mencapai TKDN minimum sebesar 40 persen pada tahun 2026. Salah satu langkah strategis dalam proses ini adalah mendorong investasi dan kemitraan pelaku industri lokal dan perusahaan asing.
Setelah mencapai target 40 persen pada tahun 2026, pemerintah berencana untuk meningkatkannya menjadi 60 persen pada periode 2027 hingga 2028. Peningkatan ini tidak hanya akan membantu menumbuhkan ekonomi lokal, tetapi juga mendukung penciptaan lapangan kerja baru dan meningkatkan daya saing produk kendaraan listrik buatan Indonesia. Penekanan pada penggunaan komponen dalam negeri diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri otomotif secara keseluruhan.
Lebih jauh lagi, pada tahun 2030, target TKDN kendaraan listrik diharapkan mencapai 80 persen. Mencapai ambisi ini akan membutuhkan kolaborasi yang kuat pemerintah, industri, serta para akademisi untuk melakukan penelitian dan pengembangan teknologi yang relevan. Kebijakan insentif serta regulasi yang mendukung juga akan menjadi bagian integral dalam pelaksanaan roadmap ini, guna memastikan seluruh ekosistem suportif bagi pertumbuhan industri kendaraan listrik dalam negeri.
Implicasi dari pencapaian target ini sangat luas, di mana diharapkan bisa mendorong inovasi, efisiensi biaya, dan keberlanjutan dalam produksi kendaraan listrik. Dengan demikian, agenda perubahan ini tidak hanya menciptakan industri otomotif yang lebih mandiri, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan hidup dan pengurangan emisi karbon, sejalan dengan komitmen internasional yang diambil oleh Indonesia.
Dalam upaya meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) menerapkan strategi lokalisasi yang komprehensif. Langkah ini menjadi salah satu pilar utama dalam rencana perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan mendukung pertumbuhan industri lokal. Dengan memfokuskan pada pengembangan komponen yang diproduksi secara lokal, DRMA tidak hanya berusaha untuk memenuhi permintaan industri kendaraan listrik, tetapi juga berkontribusi pada penguatan ekonomi nasional.
Lokalisasi komponen menawarkan berbagai keuntungan, salah satunya adalah efisiensi logistik. Dengan memproduksi komponen di dalam negeri, waktu pengiriman dapat diminimalkan, sehingga memungkinkan DRMA untuk lebih responsif terhadap permintaan pasar. Hal ini sangat penting dalam industri kendaraan listrik yang dikenal memiliki dinamika pasar yang cepat. Selain itu, pengurangan biaya pengangkutan dari pemasok luar negeri secara signifikan juga akan berdampak positif pada margin keuntungan perusahaan.
Selain aspek logistik, lokalisasi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal. Dengan mengedepankan penggunaan bahan baku lokal dan tenaga kerja dalam negeri, DRMA turut mendukung pemerintahan dalam menciptakan ekonomi yang lebih mandiri. Hal ini sejalan dengan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara.
Kendati ada tantangan dalam proses transisi ini, seperti perlunya investasi dalam teknologi dan pengembangan kapasitas produksi, DRMA optimis bahwa strategi lokalisasi komponen akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan dan keberlanjutan industri kendaraan listrik di Indonesia. Dalam jangka panjang, langkah ini diharapkan dapat menjadikan perusahaan lebih kompetitif di pasar global serta menjaga stabilitas ekonomi lokal.
Industri manufaktur di Indonesia, khususnya dalam sektor kendaraan listrik, menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi agar dapat berkembang secara optimal. Salah satu tantangan utama adalah tingginya kebutuhan untuk perangkat dan material berkualitas yang sesuai dengan standar internasional, disertai dengan keterbatasan sumber daya lokal yang terampil. Hal ini berpotensi memperlambat penetrasi pasar dan memperbesar ketergantungan terhadap impor, yang dapat mengurangi nilai tambah lokal.
Perusahaan seperti DRMA memiliki peran penting dalam mengatasi hambatan-hambatan ini. Dengan meningkatkan investasi pada riset dan pengembangan, DRMA dapat menciptakan inovasi dan teknologi yang mampu bersaing dengan produk asing. Lebih jauh, keterlibatan dalam program pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kerja lokal akan membantu membangun kapasitas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik yang berkembang pesat.
Dari peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), muncul kesempatan signifikan untuk mengembangkan ekosistem industri lokal. Lokalisasi produksi tidak hanya akan mengurangi biaya distribusi, tetapi juga bisa meningkatkan kepuasan konsumen yang lebih memilih produk yang dibuat di dalam negeri. Selain itu, dengan meningkatnya konsumsi lokal, perusahaan dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan memfasilitasi pertumbuhan masyarakat sekitar.
Selain itu, dukungan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan yang mendukung industri lokal, seperti insentif pajak untuk investasi dalam teknologi hijau dan kendaraan listrik, juga membuka peluang tambahan bagi perusahaan untuk berkembang. Ini membuat kolaborasi sektor swasta dan publik menjadi sangat penting dalam membangun fondasi yang kuat untuk masa depan industri kendaraan listrik di Indonesia.

