Pesawat Asian One Keluar Landasan di Bilorai, Polisi Telusuri Dugaan Ban Terlepas

oleh -900 Dilihat
oleh
Pesawat Asian One Keluar Landasan di Bilorai, Polisi Telusuri Dugaan Ban Terlepas

Kabupaten Intan Jaya | Polres Intan Jaya melakukan penyelidikan awal setelah pesawat Caravan PK-LTF milik Asian One Air tergelincir di Bandara Bilorai, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kepolisian menelusuri kejadian tersebut untuk mengetahui penyebab pesawat keluar dari landasan. Hingga keterangan yang tersedia disampaikan, penyelidikan masih berlangsung dan belum ada hasil akhir yang diumumkan.

Salah satu dugaan sementara yang menjadi perhatian penyidik adalah kemungkinan sebuah ban pesawat terlepas sebelum pendaratan. Dugaan itu masih ditelusuri dan belum dapat dipastikan sebagai penyebab insiden. Karena itu, informasi mengenai kondisi ban maupun kaitannya dengan pesawat tergelincir perlu dipahami sebagai bagian dari pemeriksaan awal, bukan sebagai kesimpulan penyelidikan.

Kapolres Intan Jaya Kompol Sofian Corneles A. Samakori menyampaikan bahwa penyidik sedang menelusuri penyebab kejadian. Keterangan tersebut menegaskan bahwa kepolisian masih mengumpulkan informasi terkait insiden Caravan PK-LTF di Bandara Bilorai. Belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai hasil pemeriksaan atau faktor yang dipastikan memicu pesawat tergelincir. Polisi juga belum menetapkan dugaan ban terlepas sebagai penyebab final. Dengan demikian, perkembangan perkara masih menunggu proses penelusuran awal yang dilakukan aparat. Informasi mengenai insiden ini sebaiknya merujuk pada keterangan resmi yang telah disampaikan, tanpa mendahului temuan penyidik. Sampai hasil penyelidikan tersedia, penyebab pesawat keluar landasan tetap belum dipastikan.

Pesawat Asian One yang mengalami kejadian di Bilorai dipiloti Captain Riza, dengan Captain Andi bertugas sebagai kopilot. Pesawat tersebut mendarat sekitar pukul 08.30 WIT. Keterangan mengenai waktu pendaratan dan awak pesawat itu menjadi bagian dari informasi yang disampaikan terkait kejadian tersebut. Dalam uraian jumlah orang di dalam pesawat, tercatat delapan penumpang, dengan komposisi yang terdiri atas anggota Koramil 1718/Sugapa, anggota Polres Intan Jaya, serta warga sipil.

Dari total delapan penumpang itu, tiga orang merupakan anggota Koramil 1718/Sugapa. Selain itu, terdapat satu anggota Polres Intan Jaya. Empat penumpang lainnya adalah warga sipil. Rincian tersebut menyebutkan kelompok penumpang berdasarkan jumlah dan keterangannya, tanpa mengubah total orang yang tercatat berada di dalam pesawat sebagai penumpang.

Dengan demikian, jumlah penumpang yang disebutkan terdiri atas empat orang dari unsur aparat dan empat warga sipil. Tiga dari unsur aparat tersebut berasal dari Koramil 1718/Sugapa, sedangkan satu orang merupakan anggota Polres Intan Jaya. Sementara itu, seluruh empat penumpang lainnya dikategorikan sebagai warga sipil. Komposisi ini merinci keseluruhan delapan penumpang yang tercatat.

Waktu pendaratan yang disebutkan adalah sekitar pukul 08.30 WIT, dengan Captain Riza sebagai pilot dan Captain Andi sebagai kopilot. Adapun rincian penumpang mencakup tiga anggota Koramil 1718/Sugapa, satu anggota Polres Intan Jaya, dan empat warga sipil. Data tersebut memberi gambaran mengenai awak yang menerbangkan pesawat dan jumlah serta komposisi penumpang saat pesawat tiba di Bilorai. Tidak ada rincian tujuan penerbangan dalam informasi yang diuraikan di sini.

Keterangan awal mengenai insiden pesawat Asian One di Bilorai menyebutkan bahwa pilot tidak menyangka ban pesawat terlepas ketika pesawat menyentuh landasan. Peristiwa itu terjadi menjelang proses pendaratan, saat pesawat mulai berhubungan dengan permukaan landasan. Informasi tersebut menjadi bagian dari penelusuran awal setelah pesawat keluar dari jalur pendaratan. Hingga kini, urutan kejadian masih dihimpun dari keterangan pilot dan penumpang serta pemeriksaan terhadap pesawat. Dugaan ban terlepas menjadi salah satu hal yang ditelusuri, namun keterangan awal itu belum dengan sendirinya menjelaskan penyebab insiden. Polisi masih mengumpulkan informasi untuk mengetahui bagaimana keadaan pesawat ketika menyentuh landasan dan apa yang terjadi sesudahnya.

Sejumlah penumpang dilaporkan merasakan bunyi dan hentakan dari bagian bawah pesawat menjelang pendaratan. Bunyi serta guncangan tersebut menjadi pengalaman yang mereka rasakan sebelum pesawat keluar dari jalur. Keterangan para penumpang dapat membantu menggambarkan urutan kejadian dari dalam kabin, terutama pada saat pesawat mulai menyentuh landasan. Namun, informasi yang tersedia belum merinci sumber bunyi maupun penyebab hentakan. Karena itu, pengalaman penumpang tersebut perlu dipahami sebagai keterangan awal, bukan kesimpulan mengenai bagian pesawat yang mengalami masalah. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mencocokkan kesaksian itu dengan kondisi pesawat dan temuan di sekitar landasan.

Setelah merasakan kejadian tersebut, pilot membelokkan pesawat ke kiri. Pesawat kemudian keluar dari jalur pendaratan dan masuk ke area rawa-rawa di sisi landasan. Pergerakan itu membawa pesawat menjauh dari jalur yang semestinya digunakan untuk pendaratan. Pesawat mengalami kerusakan, tetapi keterangan awal tidak merinci tingkat maupun bentuk kerusakan yang dialami. Belum ada uraian lebih jauh mengenai bagian mana yang terdampak, sehingga rincian tersebut tidak dapat dipastikan dari informasi yang tersedia saat ini. Fokus penelusuran mencakup keterangan pilot tentang ban yang diduga terlepas, bunyi dan hentakan yang dirasakan penumpang, serta kondisi pesawat setelah keluar dari landasan. Rangkaian informasi itu akan membantu menjelaskan kejadian secara lebih utuh tanpa mendahului hasil pemeriksaan. Sementara itu, urutan awal yang disampaikan menunjukkan bahwa bunyi dan hentakan terjadi menjelang pendaratan, sebelum pilot membelokkan pesawat ke kiri dan pesawat masuk ke area rawa di sisi landasan.

Dalam insiden pesawat Asian One yang keluar landasan di Bilorai, dua anggota TNI dilaporkan mengalami luka akibat benturan. Keduanya adalah Serka Matheus dan Koptu Johar. Informasi mengenai korban tersebut menjadi bagian dari laporan awal terkait kondisi orang-orang yang berada di dalam pesawat saat kejadian. Serka Matheus mengalami luka di bagian pinggang, sementara Koptu Johar terluka di bagian kepala. Keterangan yang tersedia menyebutkan jenis luka dan bagian tubuh yang terdampak, tetapi tidak menjelaskan tingkat keparahannya secara terperinci. Karena itu, kondisi lanjutan kedua anggota TNI tersebut tidak dapat dipastikan berdasarkan informasi yang telah disampaikan.

Selain dua anggota TNI yang terluka, enam penumpang lainnya dilaporkan selamat. Laporan tersebut membedakan kondisi mereka dari Serka Matheus dan Koptu Johar yang mengalami luka akibat benturan. Tidak tersedia keterangan lebih lanjut mengenai identitas keenam penumpang, apakah mereka mengalami keluhan tertentu, ataupun bagaimana kondisi mereka setelah kejadian. Dengan demikian, informasi yang dapat ditegaskan pada bagian ini terbatas pada jumlah penumpang yang selamat dan keterangan mengenai dua anggota TNI yang terluka. Tidak ada rincian lain yang dapat digunakan untuk menyimpulkan keadaan setiap orang secara lebih jauh.

Dalam laporan mengenai insiden ini, tidak ada korban jiwa. Pernyataan itu merujuk pada informasi yang tersedia tentang dua anggota TNI yang mengalami luka dan enam penumpang lain yang dilaporkan selamat. Rincian tersebut penting disampaikan secara terpisah agar tidak menimbulkan kesan bahwa seluruh orang di dalam pesawat mengalami kondisi yang sama. Serka Matheus disebut terluka pada bagian pinggang, sedangkan Koptu Johar mengalami luka di bagian kepala. Adapun enam penumpang lainnya dinyatakan selamat. Belum ada informasi yang disampaikan mengenai perkembangan kondisi para korban setelah kejadian, sehingga bagian ini tidak menyimpulkan perawatan, pemulihan, atau keadaan mereka pada waktu berikutnya.