Kota Pelajar Nomor Satu | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa Jakarta kini menempati posisi tertinggi sebagai kota pelajar di Indonesia. Pernyataan tersebut merujuk pada pemeringkatan QS Best Student Cities 2027, yang menempatkan Jakarta di peringkat ke-117 dunia. Posisi itu menjadikan ibu kota berada di urutan teratas dibandingkan kota-kota lain di Indonesia dalam daftar tersebut.
Yogyakarta, yang selama ini dikenal luas sebagai salah satu pusat pendidikan nasional, berada tepat setelah Jakarta pada peringkat ke-118 dunia. Selisih satu posisi itu menunjukkan persaingan yang relatif ketat kedua kota dalam pemeringkatan kota pelajar. Penilaian QS Best Student Cities mencakup sejumlah aspek yang berkaitan dengan kehidupan mahasiswa, kualitas lingkungan pendidikan, daya tarik kota, serta peluang yang tersedia bagi pelajar dan lulusan.
Pramono menyampaikan klaim tersebut setelah meninjau renovasi SDN 05 Pekayon dan SMPN 91 Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Senin (12/10). Kunjungan itu menjadi bagian dari perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap peningkatan kualitas sarana pendidikan, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga pendidikan menengah.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono menekankan bahwa posisi Jakarta telah mengalami perubahan penting. “Jakarta sekarang berubah menjadi kota pelajar dan kota terdidik,” ujar Pramono, sebagaimana disampaikan dalam konteks meningkatnya pengakuan terhadap kapasitas pendidikan di ibu kota. Pernyataan itu menggambarkan keyakinan pemerintah daerah bahwa perkembangan fasilitas, akses, dan ekosistem pendidikan turut memperkuat citra Jakarta sebagai pusat pembelajaran.
Peringkat ke-117 dunia juga dipandang sebagai indikator bahwa Jakarta tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, tetapi semakin berperan sebagai tujuan pendidikan. Dengan capaian tersebut, Jakarta memiliki dasar yang lebih kuat untuk memperluas kebijakan pendidikan, memperbaiki kualitas sekolah, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan pelajar.
Pramono Anung menjelaskan bahwa kemajuan pendidikan di Jakarta tidak hanya terlihat dari capaian akademik, tetapi juga dari upaya pemerintah memperbaiki sekolah dan memperluas akses bantuan bagi peserta didik. Perbaikan tersebut mencakup pembenahan gedung, ruang belajar, serta berbagai fasilitas pendukung agar sekolah mampu menyediakan lingkungan pendidikan yang aman, layak, dan nyaman. Menurutnya, perhatian terhadap sarana sekolah menjadi bagian penting dalam membangun kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
Selain memperbaiki fasilitas pendidikan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan dukungan melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU). KJP ditujukan untuk membantu kebutuhan pendidikan pelajar, sedangkan KJMU mendukung mahasiswa dari keluarga yang memenuhi persyaratan agar dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Pramono menyebut sebagian besar murid dari keluarga yang memenuhi syarat telah menerima bantuan melalui kedua program tersebut. Bantuan ini diharapkan dapat mengurangi beban biaya pendidikan dan mencegah peserta didik berhenti sekolah karena kendala ekonomi.
Pramono menegaskan bahwa bidang pendidikan memperoleh perhatian khusus dari Pemprov DKI Jakarta dan menjadi salah satu prioritas utama pembangunan kota. Namun, dukungan finansial bagi siswa perlu berjalan seiring dengan kesiapan sarana dan prasarana pendidikan. Bantuan kepada peserta didik akan lebih efektif apabila tersedia sekolah dengan fasilitas yang memadai, ruang belajar yang terawat, serta lingkungan yang mendukung proses pembelajaran. Karena itu, pemerintah perlu mempersiapkan fasilitas sekolah dengan sebaik mungkin, sekaligus memastikan program KJP dan KJMU berjalan tepat sasaran, berkelanjutan, dan mampu menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana melanjutkan perbaikan sekolah di seluruh wilayah ibu kota. Langkah tersebut diawali dengan pendataan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk memetakan sekolah yang membutuhkan renovasi, perbaikan sebagian, atau pembangunan kembali. Hasil pendataan akan menjadi dasar penyusunan usulan yang kemudian diajukan kepada Gubernur DKI Jakarta. Dengan cara ini, kebijakan perbaikan diharapkan dapat disusun berdasarkan kebutuhan nyata setiap sekolah, bukan semata-mata berdasarkan pemerataan administratif.
Pramono Anung menjelaskan bahwa keputusan strategis biasanya diambil melalui rapat terbatas. Mekanisme tersebut juga berlaku untuk menentukan prioritas renovasi, pola pengawasan pekerjaan, serta pemanfaatan gedung setelah pembangunan atau perbaikan selesai. Pengawasan dinilai penting agar hasil pekerjaan sesuai dengan perencanaan, anggaran digunakan secara bertanggung jawab, dan fasilitas yang telah diperbaiki benar-benar mendukung kegiatan belajar mengajar.
Ia mengingatkan bahwa kemampuan membangun harus diikuti kemampuan merawat. Gedung sekolah yang baru selesai direnovasi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak dipelihara secara rutin dan dimanfaatkan dengan baik. Karena itu, pengelolaan fasilitas, pemeriksaan kondisi bangunan, serta kejelasan penanggung jawab perlu dipastikan sejak awal. Perawatan berkelanjutan juga dapat mencegah kerusakan lebih besar dan menjaga lingkungan belajar tetap aman, nyaman, serta layak digunakan oleh siswa dan tenaga pendidik.
Program sebelumnya menunjukkan adanya kemajuan. Dari 19 gedung sekolah yang menjadi target pada tahun anggaran 2025, sebanyak 16 gedung telah selesai direnovasi. Program renovasi dan revitalisasi tersebut berlangsung di lima wilayah administrasi Jakarta dengan total anggaran Rp876,7 miliar. Cakupannya meliputi jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Data itu menjadi pijakan bagi Pemprov DKI untuk meneruskan pembenahan secara bertahap, sekaligus memperkuat pengawasan agar setiap gedung yang dibangun atau direnovasi dapat digunakan secara optimal dan bertahan dalam jangka panjang.
Program renovasi dan revitalisasi sekolah mencakup sejumlah satuan pendidikan yang tersebar di beberapa wilayah administrasi Jakarta. Setiap wilayah memiliki daftar sekolah serta bentuk pekerjaan yang berbeda, termasuk renovasi bangunan dan pembangunan unit sekolah baru (USB).
Di Jakarta Barat, pekerjaan meliputi SDN Tegal Alur 02 dan SDN Tegal Alur 04, SMAN 33 Jakarta, SDN Jati Pulo 07, SMPN 130 Jakarta, SDN Kota Bambu 01 dan SDN Kota Bambu 02, serta TKN Meruya Selatan. Wilayah ini juga mencakup alih fungsi SDN Jati Pulo 08 Pagi menjadi unit sekolah baru (USB) SMPN 298. Dengan demikian, daftar di Jakarta Barat mencakup jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan taman kanak-kanak, disertai pekerjaan alih fungsi untuk menghadirkan unit sekolah baru.
Di Jakarta Timur, sekolah yang masuk dalam pekerjaan renovasi adalah SDN Pondok Bambu 01, SDN Cakung Timur 02, SMPN 91, serta SDN Pekayon 05 dan SDN Pekayon 12. Daftar tersebut mencakup satu sekolah menengah pertama dan sejumlah sekolah dasar.
Di Jakarta Selatan, program mencakup SDN Cilandak Barat 08, SDN Cipulir 11, SDN Gandaria Selatan 03, SDN Lebak Bulus 04, SDN Tebet Timur 07, dan SMPN 15 Jakarta. Selain renovasi pada sekolah-sekolah tersebut, terdapat pembangunan unit sekolah baru (USB) SMPN 299. Rangkaian pekerjaan di wilayah ini mencakup sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, dengan pembangunan USB sebagai bagian tersendiri dari program.
Di Jakarta Utara, renovasi dilakukan di SMKN 55 Jakarta. Sementara itu, di Jakarta Pusat, program mencakup SDN Petojo Utara 01. Pembagian ini menunjukkan lokasi sekolah yang masuk program berdasarkan wilayah administrasi, jenjang pendidikan, serta bentuk pekerjaan yang tercantum.
Baca juga: Wisata Keluarga Terbaik di Jakarta: Destinasi Ramah Anak | Pertarungan Seru Persija dan Persib di Jakarta | Panduan 5 Tempat Makan Malam di Jakarta yang Beroperasi 24 Jam

