Kecepatan Internet Indonesia Masih Tertinggal di Asia Tenggara pada Agustus 2026

oleh -88 Dilihat
oleh
Kecepatan Internet Indonesia Masih Tertinggal di Asia Tenggara pada Agustus 2026

Jakarta | Laporan Speedtest Global Index edisi Agustus 2026 yang dirilis Ookla mencatat posisi Indonesia dalam pemeringkatan kecepatan internet seluler dunia. Indonesia berada di peringkat ke-70 secara global, dan posisi tersebut masih berada di bawah sejumlah negara Asia Tenggara. Temuan ini menunjukkan peringkat Indonesia berdasarkan data pengukuran yang tercantum dalam laporan Ookla untuk periode Agustus 2026.

Dalam laporan tersebut, internet seluler Indonesia mencatat kecepatan unduh sebesar 66,34 Mbps. Sementara itu, kecepatan unggah berada pada angka 19,80 Mbps. Pengukuran yang sama mencatat latensi internet seluler Indonesia sebesar 20 milidetik. Ketiga angka itu menjadi data utama yang menyertai posisi Indonesia dalam daftar kecepatan internet seluler global pada Agustus 2026.

Dibandingkan dengan edisi bulan sebelumnya, Indonesia mengalami kenaikan dua peringkat. Perubahan tersebut membuat posisi Indonesia pada Agustus 2026 berada di peringkat ke-70 dunia, meskipun masih tercatat di bawah beberapa negara lain di kawasan Asia Tenggara. Laporan Speedtest Global Index menyajikan peringkat tersebut bersama metrik kecepatan unduh, kecepatan unggah, dan latensi, sehingga pembaca dapat melihat posisi Indonesia serta angka pengukuran yang dilaporkan untuk bulan tersebut. Data Agustus ini menjadi pembaruan atas catatan bulan sebelumnya, ketika Indonesia berada dua posisi lebih rendah dalam pemeringkatan global internet seluler.

Vietnam menempati posisi teratas dalam daftar kecepatan internet mobile di Asia Tenggara pada Agustus 2026. Negara tersebut mencatat kecepatan unduh rata-rata 219,93 Mbps dan berada di peringkat ke-9 dunia. Angka ini menunjukkan jarak yang cukup besar dibandingkan sebagian negara lain di kawasan, sekaligus menempatkan Vietnam sebagai salah satu negara dengan layanan internet mobile tercepat secara global.

Malaysia menyusul di posisi regional berikutnya dengan kecepatan 165,32 Mbps dan peringkat ke-14 dunia. Singapura berada setelahnya dengan catatan 164,35 Mbps serta peringkat ke-16 dunia. Perbedaan angka Malaysia dan Singapura relatif tipis, tetapi keduanya tetap berada jauh di atas negara-negara Asia Tenggara lain yang tercantum dalam daftar tersebut. Thailand kemudian mencatat kecepatan 143,45 Mbps, sedangkan Kamboja berada pada angka 111,90 Mbps.

Indonesia tercatat memiliki kecepatan internet mobile sebesar 66,34 Mbps. Nilai tersebut hanya terpaut 0,01 Mbps dari Filipina yang mencatat 66,33 Mbps, sehingga posisi kedua negara dalam daftar regional terlihat sangat berdekatan berdasarkan kecepatan yang dilaporkan. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa capaian Indonesia masih berada di bawah Vietnam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Kamboja pada Agustus 2026. Daftar sumber juga memuat entri Laos, tetapi penulisannya tidak sepenuhnya seragam. Karena itu, informasi mengenai Laos disampaikan sebatas keberadaannya dalam daftar tanpa menambahkan angka, peringkat, atau interpretasi yang tidak tercantum secara konsisten. Data tersebut memberikan gambaran mengenai kesenjangan performa internet mobile di Asia Tenggara, dengan negara-negara teratas mencatat kecepatan lebih dari dua kali lipat dibandingkan Indonesia dan Filipina.

Pada kategori fixed broadband, kinerja koneksi internet Indonesia pada Agustus 2026 masih berada di kelompok bawah dalam pemeringkatan global. Laporan mencatat kecepatan unduh rata-rata sebesar 51,40 Mbps, sedangkan kecepatan unggah mencapai 36,23 Mbps. Dari sisi latensi, Indonesia mencatat angka 8 milidetik. Berdasarkan keseluruhan indikator tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-113 dari 149 negara di dunia.

Angka itu menggambarkan performa layanan internet tetap yang menggunakan jaringan kabel, fiber optik, atau infrastruktur akses tetap lainnya. Kecepatan unduh menunjukkan kemampuan jaringan dalam menerima data, misalnya ketika pengguna membuka situs, menonton video, atau mengunduh berkas. Sementara itu, kecepatan unggah berkaitan dengan pengiriman data, seperti mengunggah dokumen, melakukan pencadangan daring, dan menjalankan konferensi video. Latensi 8 milidetik menunjukkan waktu tunda yang relatif rendah dalam pertukaran data perangkat dan server.

Peringkat ke-113 menunjukkan bahwa kapasitas fixed broadband Indonesia masih tertinggal dibandingkan banyak negara lain yang masuk dalam laporan yang sama. Posisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kecepatan paket internet yang ditawarkan, tetapi juga oleh kualitas infrastruktur, cakupan jaringan, kepadatan pengguna, serta konsistensi layanan di berbagai wilayah. Karena itu, angka nasional perlu dipahami sebagai gambaran rata-rata, bukan ukuran yang pasti mewakili pengalaman setiap pelanggan.

Pembahasan ini secara khusus merujuk pada kategori fixed broadband dan tidak dapat disamakan dengan kategori internet mobile. Keduanya menggunakan infrastruktur, pola penggunaan, dan kondisi pengukuran yang berbeda. Internet mobile dipengaruhi oleh kualitas sinyal seluler, kepadatan jaringan, serta mobilitas pengguna, sedangkan fixed broadband bergantung pada sambungan tetap menuju lokasi pelanggan. Dengan demikian, angka 51,40 Mbps untuk unduhan, 36,23 Mbps untuk unggahan, dan latensi 8 milidetik harus dibaca sebagai capaian Indonesia pada koneksi fixed broadband, bukan sebagai hasil pengukuran internet seluler.

Perbandingan fixed broadband di Asia Tenggara pada Agustus 2026 menunjukkan jarak yang cukup lebar antarnegara. Singapura berada di posisi teratas dengan kecepatan unduh 462,50 Mbps sekaligus menempati peringkat pertama dunia. Angka tersebut menjadikan Singapura sebagai pemimpin regional dengan capaian yang jauh melampaui negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Vietnam menyusul di urutan kedua kawasan dengan kecepatan 301,48 Mbps dan berada di peringkat ke-8 dunia. Thailand menempati posisi berikutnya dengan 298,92 Mbps, yang menempatkannya di peringkat ke-9 global. Malaysia berada di peringkat ke-44 dunia dengan kecepatan 179,32 Mbps, sedangkan Filipina mencatat 114,34 Mbps dan berada di peringkat ke-62.

Di bawah Filipina, Brunei mencatat kecepatan fixed broadband sebesar 86,45 Mbps dan menempati peringkat ke-93 dunia. Kamboja berada di posisi ke-108 dengan 54,74 Mbps. Indonesia menyusul dengan kecepatan 51,40 Mbps dan berada di peringkat ke-113 dunia. Dengan capaian tersebut, Indonesia menempati posisi kedelapan di negara-negara Asia Tenggara yang tercantum dalam daftar ini.

Posisi Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, Brunei, dan Kamboja. Indonesia hanya berada di atas Myanmar, yang mencatat kecepatan 24,64 Mbps dan menempati peringkat ke-138 dunia. Susunan ini memperlihatkan bahwa kecepatan fixed broadband Indonesia masih tertinggal dibandingkan sebagian besar negara tetangga di kawasan. Selisihnya terlihat jelas jika dibandingkan dengan Kamboja yang berada satu tingkat regional di atas Indonesia, maupun dengan Malaysia, Filipina, dan Brunei yang mencatat angka lebih tinggi. Daftar tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-113 dunia, dengan capaian 51,40 Mbps sebagai angka utama yang merepresentasikan posisi koneksi fixed broadband nasional pada Agustus 2026.

Baca juga: Persiapan Asian Games 2026: Menyongsong Acara Olahraga Terbesar di Asia