Kota Dua Benua | Hujan deras yang mengguyur Istanbul sejak Rabu memicu banjir besar di kota terbesar Turki tersebut. Air menggenangi rumah dan jalan, menewaskan tiga orang, serta mengganggu operasional penerbangan. Cuaca ekstrem masih berlanjut hingga Kamis, 15 Oktober 2026, ketika petugas terus menangani dampak banjir dan menerima laporan dari berbagai wilayah.
Besarnya curah hujan terlihat dari data Pemerintah Kota Metropolitan Istanbul (IMM). Di distrik Beykoz, curah hujan tercatat mencapai 242 milimeter, salah satu tingkat tertinggi sejak 1985. Sementara itu, Eyupsultan mencatat 190,5 milimeter dan Sariyer 187,9 milimeter. Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat membuat air meluap dan membanjiri kawasan permukiman serta ruas jalan.
Skala dampak bencana tercermin dalam banyaknya laporan yang diterima otoritas. IMM mencatat 6.937 laporan terkait kejadian akibat cuaca buruk. Kantor gubernur Istanbul, secara terpisah, mendata 1.277 kejadian banjir, 15 tanah longsor, dan 47 insiden yang melibatkan warga terjebak. Angka-angka tersebut menunjukkan luasnya wilayah yang terdampak dan beragamnya situasi darurat yang harus ditangani.
Genangan air di jalan turut menghambat pergerakan warga dan layanan transportasi, sedangkan gangguan penerbangan menambah dampak pada perjalanan dari dan menuju kota. Banjir yang memasuki rumah juga menimbulkan risiko langsung bagi penghuni, terutama saat air naik dengan cepat. Tiga korban jiwa menjadi konsekuensi paling berat dari peristiwa tersebut.
Petugas tanggap darurat menghadapi kebutuhan untuk merespons ribuan laporan sekaligus memeriksa titik-titik rawan banjir dan longsor. Hujan yang masih berlangsung pada Kamis membuat pemantauan kondisi tetap penting, terutama di kawasan yang menerima curah hujan tertinggi. Data IMM dan kantor gubernur memberikan gambaran awal mengenai besarnya bencana, sementara warga terdampak menghadapi gangguan pada tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari.
Tiga orang dilaporkan meninggal dalam insiden terpisah saat banjir merendam sejumlah wilayah Istanbul. Informasi yang tersedia menyebutkan dua korban berdasarkan usia dan keadaan ketika insiden terjadi. Sementara itu, identitas korban ketiga belum dipastikan. Rangkaian kejadian tersebut berlangsung di Balat, Sariyer, dan Kagithane, dengan kondisi banjir menjadi latar bagi masing-masing peristiwa. Pihak berwenang masih menelusuri kejadian yang menyebabkan jatuhnya korban, termasuk memastikan identitas jenazah yang ditemukan terakhir.
Korban pertama adalah seorang anak berusia 14 tahun yang meninggal setelah tersengat listrik di Balat. Anak tersebut tersengat ketika menginjak genangan air. Informasi yang disampaikan mengenai korban terbatas pada usia, lokasi, dan keadaan saat tersengat. Tidak disebutkan keterangan tambahan mengenai identitas anak tersebut maupun rincian lain tentang insiden itu. Peristiwa ini menjadi salah satu dari tiga kejadian fatal yang dilaporkan ketika banjir melanda Istanbul.
Korban kedua adalah seorang pria berusia 34 tahun di Sariyer. Ia tewas setelah terjatuh ketika menyeberangi jalan yang terendam banjir. Keterangan yang tersedia tidak memberikan informasi lebih jauh mengenai identitas pria tersebut atau kondisi lain saat kejadian. Secara terpisah, jenazah korban ketiga ditemukan di dekat Taman Sadabad, di wilayah Kagithane. Pihak berwenang menduga korban itu terbawa arus dari Sariyer, tetapi dugaan tersebut belum dinyatakan sebagai kepastian.
Hingga informasi yang disampaikan, identitas korban ketiga masih dalam proses penentuan. Penyelidikan atas insiden tersebut juga masih berlangsung, sehingga hubungan penemuan jenazah di Kagithane dan dugaan bahwa korban terbawa arus dari Sariyer belum dapat dipastikan. Dengan demikian, keterangan tentang ketiga korban tetap mengikuti informasi yang telah diumumkan: seorang anak berusia 14 tahun tersengat listrik di Balat, seorang pria berusia 34 tahun terjatuh di jalan banjir di Sariyer, serta satu jenazah yang ditemukan dekat Taman Sadabad. Tidak ada rincian identitas lain yang dapat ditegaskan untuk korban terakhir pada tahap ini.
Banjir menggenangi sejumlah kawasan di Istanbul, termasuk Esenyurt, Beykoz, Kucukcekmece, dan Sariyer. Air yang meluap masuk ke permukiman dan berdampak langsung pada warga, sehingga beberapa orang harus mendapat bantuan untuk menyelamatkan diri. Laporan mengenai kejadian ini mencatat upaya penyelamatan di Esenyurt dan Beykoz, sementara genangan juga dilaporkan di Kucukcekmece serta Sariyer. Informasi yang tersedia tidak merinci luas kawasan terdampak ataupun tingkat kerusakan di masing-masing lokasi. Karena itu, dampak banjir di empat kawasan tersebut dapat dijelaskan berdasarkan kejadian yang dilaporkan, tanpa menyimpulkan seberapa jauh air menyebar atau berapa banyak bangunan yang terkena.
Di Esenyurt, seorang perempuan terseret arus banjir. Ia berhasil diselamatkan, dalam salah satu upaya penanganan yang berlangsung ketika air mengalir deras di kawasan itu. Kejadian tersebut menunjukkan risiko yang dihadapi warga saat berada di tengah genangan dan arus, sekaligus pentingnya pertolongan segera bagi orang yang terbawa air. Sementara itu, di Beykoz, warga membantu seorang lansia keluar dari rumahnya yang terendam. Bantuan dari warga sekitar memungkinkan lansia tersebut meninggalkan rumah dalam kondisi banjir. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai keadaan rumah setelah peristiwa itu atau kondisi orang-orang yang diselamatkan. Di Kucukcekmece dan Sariyer, banjir turut menjadi bagian dari dampak yang dilaporkan, tetapi rincian khusus mengenai penyelamatan maupun kerusakan di kedua kawasan tersebut tidak disebutkan.
Dampak luapan air juga mencapai Masjid Sadabad yang bersejarah. Sungai Kagithane meluap dan membanjiri masjid tersebut, termasuk ruang salat dan bagian bawah mimbar. Air yang masuk ke ruang ibadah membuat masjid ikut terdampak dalam peristiwa banjir di Istanbul. Keterangan yang tersedia mengidentifikasi bagian-bagian masjid yang terendam, tetapi tidak menjelaskan tingkat kerusakan pada bangunan, benda di dalamnya, ataupun lamanya genangan bertahan. Dengan demikian, dampak yang dapat dipastikan adalah air mencapai ruang salat dan bagian bawah mimbar setelah luapan Sungai Kagithane. Peristiwa di permukiman dan masjid ini menggambarkan bahwa banjir menyentuh kawasan tempat tinggal maupun fasilitas keagamaan, sementara warga setempat turut membantu proses penyelamatan dalam situasi darurat.
Pemerintah mengambil langkah darurat untuk melindungi warga dan mengurangi risiko di tengah banjir serta cuaca buruk yang melanda Istanbul. Kegiatan pendidikan ditangguhkan pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Istanbul, Duzce, Zonguldak, Sakarya, Kocaeli, dan Yalova. Penangguhan ini berlaku ketika hujan lebat dan genangan mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah. Kebijakan tersebut juga memberi waktu bagi warga dan petugas untuk menghadapi kondisi cuaca yang masih berpotensi memburuk.
Gubernur Istanbul Davut Gul meminta warga yang tinggal di lantai bawah tanah untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ia juga mengimbau masyarakat menjauhi sungai dan kawasan yang berisiko mengalami banjir. Imbauan ini ditujukan terutama kepada warga di lokasi yang rawan tergenang atau terdampak luapan air. Peringatan pemerintah menekankan pentingnya mengikuti arahan resmi dan tidak mengambil risiko dengan tetap berada di area berbahaya.
Pusat Koordinasi Bencana Istanbul (AKOM) memperingatkan bahwa hujan tambahan sebanyak 50–75 milimeter masih mungkin turun di sejumlah wilayah hingga Kamis pukul 10.00 waktu setempat. Perkiraan tersebut membuat kewaspadaan tetap diperlukan, meski intensitas hujan dapat berbeda antarlokasi. Warga diminta memperhatikan informasi terbaru dari otoritas setempat, khususnya jika tinggal dekat sungai, di kawasan rendah, atau di bangunan dengan lantai bawah tanah. Curah hujan tambahan berpotensi memperbesar genangan dan menyulitkan perjalanan.
Transportasi udara turut terdampak. Di Bandara Istanbul, sebanyak 43 pesawat yang tidak dapat mendarat dialihkan ke bandara lain.








