Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada awal perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan di pasar saham domestik masih berlanjut setelah IHSG mengalami koreksi pada perdagangan sebelumnya.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat turun 21,17 poin atau 0,36 persen. Pelemahan itu membawa indeks ke posisi 5.914,98. Penurunan tersebut menandai kelanjutan sentimen negatif yang membayangi pergerakan pasar sejak sesi perdagangan sebelumnya.
Indeks saham unggulan LQ45 turut bergerak melemah pada awal perdagangan. LQ45 turun 1,80 poin atau 0,30 persen ke posisi 589,10. Pergerakan IHSG dan LQ45 yang sama-sama berada di zona merah mencerminkan tekanan yang masih terasa pada pembukaan pasar Selasa.
Dengan penurunan tersebut, perhatian pelaku pasar tertuju pada kemampuan IHSG untuk menahan tekanan sepanjang perdagangan. Investor mencermati perkembangan sentimen yang memengaruhi pasar, sementara indeks memulai sesi dengan posisi yang lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan IHSG pada awal sesi juga memperpanjang rangkaian pergerakan negatif di pasar saham Indonesia. Meski perubahan indeks masih tercatat terbatas secara persentase, penurunan 21,17 poin menunjukkan bahwa tekanan tetap menjadi warna utama perdagangan pada Selasa pagi. Kondisi ini menempatkan pergerakan indeks utama dan LQ45 sebagai perhatian awal dalam aktivitas perdagangan di BEI.
Perdagangan saham pada Selasa, 13 Oktober 2026, berlangsung dengan latar belakang koreksi tajam pada hari sebelumnya. Pada Senin, 12 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah 157,61 poin atau 2,59 persen ke level 6.936,15. Penurunan tersebut menjadi catatan utama dalam perkembangan pasar sebelum perdagangan berlanjut pada hari berikutnya.
Pergerakan IHSG pada Senin berlangsung berfluktuasi sejak awal sesi. Indeks sempat dibuka menguat, tetapi arah pergerakannya kemudian berubah dan masuk ke zona negatif. Tekanan jual berlanjut hingga penutupan sesi pertama, sehingga IHSG tetap berada di bawah level penutupan sebelumnya ketika perdagangan siang berakhir. Perubahan arah tersebut mencerminkan bahwa penguatan pada pembukaan tidak bertahan sepanjang sesi awal.
Pada sesi kedua, pelemahan IHSG berlanjut hingga perdagangan Senin ditutup. Tekanan yang berlangsung sejak sesi pertama membuat indeks mengakhiri perdagangan di posisi 6.936,15. Sejalan dengan pergerakan IHSG, indeks saham berkapitalisasi besar dan likuid, LQ45, juga mencatat penurunan. Indeks tersebut terkoreksi 10,77 poin atau 1,79 persen dan berakhir di level 690,90. Dengan demikian, perdagangan pada awal pekan ditandai oleh pelemahan pada kedua indeks acuan tersebut, setelah IHSG sempat mengawali sesi dengan penguatan sebelum berbalik ke zona negatif. Kondisi penutupan itu menjadi data perdagangan terakhir sebelum investor menghadapi pembukaan pasar pada Selasa, ketika perhatian kembali tertuju pada arah pergerakan indeks setelah koreksi sehari sebelumnya.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebut meningkatnya ketidakpastian global menjadi salah satu faktor yang menekan pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, terutama ketika berbagai indikator eksternal masih menunjukkan tekanan. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut dipengaruhi oleh perubahan sentimen global yang dapat meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik.
Menurut Ratna, salah satu perhatian utama investor adalah harga minyak mentah Brent yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Level harga tersebut menjadi bagian dari dinamika global yang terus dicermati pasar. Selain itu, terdapat kekhawatiran terhadap potensi capital outflow di pasar obligasi Indonesia. Arus keluar modal berpotensi memengaruhi pergerakan aset domestik dan memperkuat sikap hati-hati investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Berbagai isu terkait MSCI juga menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai prospek investasi.
Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan tersebut dapat memengaruhi aliran dana global serta keputusan investasi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Pergerakan imbal hasil US Treasury juga terus menjadi perhatian karena berkaitan dengan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan potensi perubahan arus modal. Di sisi lain, risiko geopolitik yang masih berkembang dapat memicu volatilitas pasar keuangan. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat investor memantau perkembangan eksternal secara cermat sebelum menentukan strategi perdagangan berikutnya.
Selain sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sumber menyebutkan bahwa kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi, termasuk terhadap infrastruktur minyak Aramco dan lapangan terbang internasional King Khalid di Riyadh. Informasi tersebut menambah kewaspadaan karena fasilitas energi dan transportasi merupakan bagian penting dari stabilitas ekonomi regional. Gangguan atau ancaman terhadap infrastruktur strategis dapat meningkatkan perhatian pasar terhadap keamanan pasokan minyak, biaya energi, serta potensi meluasnya ketegangan ke negara lain.
Risiko geopolitik biasanya mendorong pelaku pasar untuk menilai kembali eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang. Perubahan sentimen tersebut dapat tercermin melalui pergerakan harga komoditas, nilai tukar, dan arus dana asing. Bagi pasar saham Indonesia, perkembangan eksternal menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang gerak IHSG, terutama ketika investor masih mencermati dampaknya terhadap inflasi, suku bunga, dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah turut menjadi perhatian. Pada perdagangan Senin, rupiah ditutup melemah 0,08 persen ke level Rp17.899 per dolar AS. Pelemahan tersebut menunjukkan masih adanya tekanan pada pasar valuta asing, baik akibat penguatan dolar AS maupun meningkatnya kebutuhan investor untuk mengelola risiko. Pergerakan rupiah juga berpengaruh terhadap penilaian investor atas saham-saham berbasis impor, emiten dengan kewajiban valuta asing, serta prospek arus modal ke pasar domestik.
Dalam kondisi tersebut, aksi jual bersih investor asing atau net foreign sell berpotensi berlanjut dan menjadi faktor tambahan yang membatasi pergerakan IHSG. Arus keluar dana asing dapat memengaruhi likuiditas serta tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Kombinasi risiko geopolitik, pelemahan rupiah, dan potensi net foreign sell menjadi konteks faktual bagi pergerakan IHSG pada awal perdagangan Selasa.
Baca juga: Dampak Sentimen Global dan Domestik Terhadap Nilai Tukar Rupiah | Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas

