Daerah  

Inovasi SAGU dari Poltekkes Sorong Jadi Harapan Edukasi Gizi Tekan Stunting di Sayosa

Kabupaten Sorong (07/04/26) – Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sorong kembali mendapat dorongan melalui inovasi berbasis kearifan lokal yang digagas oleh Poltekkes Kemenkes Sorong Jurusan Keperawatan. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada 6 April 2026 di Kampung Sayosa, Distrik Sayosa, bersama tim dosen dan mahasiswa menghadirkan pendekatan secara edukatif yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, khususnya keluarga Suku Moi.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat yang berbasis hasil penelitian.

 

Program ini dipimpin oleh Dr. Maria Loihala, S.ST., M.Kes. bersama Rizqi Alvian Fabanyo, S.Kep., Ns., M.Kes., dengan melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran, yakni Susan Pandori, Nisa, dan Yuni (mahasiswa D3 Keperawatan semester 6), serta Martha (mahasiswa D4 Keperawatan semester 8).

 

Mengangkat tema pemberdayaan keluarga melalui model SAGU-MOI, kegiatan ini menempatkan pangan lokal sebagai kunci utama dalam pencegahan stunting pada anak balita. SAGU yang merupakan akronim dari “Sayang Anak Gizi Utama” diperkenalkan bukan sekadar sebagai bahan makanan tradisional, tetapi sebagai simbol pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi anak sejak dini.

 

Menurut Dr. Maria Loihala yang akrab disapa Merry Loihala (Merlo), inovasi ini berangkat dari hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa wilayah Sayosa masih menghadapi tantangan stunting, sehingga diperlukan pendekatan yang sesuai dengan budaya dan potensi lokal masyarakat.

 

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Kepala Puskesmas Sayosa, Oktovianus Lewensere, S.Kep., Ners., beserta seluruh staf. Selain itu, turut hadir tokoh masyarakat dan tokoh agama, yakni Pdt. Philipus Malisngolar, S.Th., M.Th., yang memberikan dukungan moral serta memperkuat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut.

 

Antusiasme masyarakat terlihat dari kehadiran sekitar 40 ibu atau mama dari keluarga Suku Moi yang memiliki balita, melampaui target awal sebanyak 30 peserta. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan gizi anak.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai stunting, penyebab, serta upaya pencegahannya melalui pemanfaatan pangan lokal. Selain itu, tim juga mengadakan demonstrasi pembuatan bubur sagu bergizi sebagai menu sehat yang mudah dibuat dan terjangkau.

Bubur sagu yang diperkenalkan mengandung unsur gizi seimbang, yakni karbohidrat dari sagu, vitamin dari sayuran, serta protein dari telur, ikan, ulat sagu, maupun daging. Bahan sayuran yang digunakan dapat berupa kacang buncis atau alternatif lokal seperti daun petatas dan daun gedi yang telah dicuci bersih. Pendekatan ini diharapkan menjadi solusi praktis bagi keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

 

Tidak hanya edukasi, peserta juga mendapatkan bantuan bahan makanan bergizi berupa telur, sayuran, susu, kacang hijau, makan siang, dan makanan ringan sebagai bentuk dukungan lanjutan dari tim pengabdian bersama Puskesmas Sayosa.

 

Sehingga melalui program ini, Poltekkes Kemenkes Sorong menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak selalu bergantung pada intervensi modern, tetapi dapat dimulai dari potensi lokal yang dioptimalkan. Pendekatan berbasis budaya seperti SAGU-MOI diharapkan mampu menjadi model berkelanjutan yang dapat diterapkan di wilayah lain.

 

Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dalam menghadapi persoalan kesehatan yang kompleks. Dengan langkah kecil namun konsisten, harapan untuk melahirkan generasi bebas stunting di Kabupaten Sorong semakin terbuka.

 

Turut hadir juga, Dr. Maria Loihala, S.ST., M.Kes.

Rizqi Alvian Fabanyo, S.Kep., Ns., M.Kes.

 

(Tim/Red)