Peran Arkhan Fikri dalam Upaya Arema FC Bangkit dari Ketertinggalan

oleh -33 Dilihat
oleh
Peran Arkhan Fikri dalam Upaya Arema FC Bangkit dari Ketertinggalan

Malang | Arema FC mengamankan hasil imbang 2-2 saat menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC pada pekan keempat BRI Super League 2026/2027. Pertandingan tersebut berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu, 10 Oktober. Hasil ini diraih setelah Singo Edan sempat berada dalam situasi sulit karena tertinggal dua gol dari lawannya.

Ketertinggalan tersebut membuat Arema FC harus berusaha keras mengubah jalannya pertandingan. Dalam kondisi demikian, setiap keputusan dari tim pelatih menjadi perhatian, terutama langkah untuk menambah energi dan pilihan dalam permainan. Salah satu keputusan yang menjadi sorotan adalah memasukkan Arkhan Fikri pada babak kedua. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Arema FC untuk bangkit dan menjaga peluang mendapatkan hasil positif di hadapan pendukungnya.

Masuknya Arkhan Fikri pada paruh kedua mencerminkan kebutuhan Arema FC untuk melakukan perubahan ketika pertandingan belum berjalan sesuai harapan. Setelah tertinggal dua gol, tim harus menemukan cara untuk memberikan respons dan mengejar ketertinggalan secara bertahap. Peran pemain yang diturunkan dari bangku cadangan pun menjadi penting dalam membantu mengubah dinamika laga.

Pada akhirnya, Arema FC mampu memaksakan skor akhir 2-2 melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perjuangan Singo Edan tidak berhenti meskipun sempat tertinggal jauh. Bagi Arema FC, keputusan menurunkan Arkhan Fikri pada babak kedua menjadi salah satu sorotan dari proses kebangkitan dalam pertandingan ini. Kehadirannya turut mengiringi usaha tim untuk mengatasi tekanan dan membawa laga menuju hasil imbang.

Marcos Santos menghadapi persoalan penting sejak sebelum pertandingan ketika Arema FC kehilangan dua pemain yang selama ini berperan di lini tengah. Alfeandra Dewangga dan Betinho mengalami cedera sehingga keduanya tidak dapat diturunkan. Absennya dua gelandang bertahan tersebut mengurangi pilihan pelatih asal Brasil itu dalam menyusun komposisi utama, terutama untuk menjaga perlindungan di depan lini belakang.

Kondisi tersebut membuat Marcos harus mencari alternatif yang tetap mampu mempertahankan keseimbangan tim. Perubahan pilihan di sektor tengah tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena Arema FC membutuhkan pemain yang memahami tugas bertahan, mampu membantu sirkulasi bola, serta tetap bisa mengikuti struktur permainan yang telah disiapkan. Tantangan itu semakin terasa ketika pertandingan berlangsung dan tim harus merespons situasi di lapangan tanpa kehilangan organisasi.

Pada babak pertama, Marcos memilih Hansamu Yama sebagai opsi pengganti. Keputusan itu diambil tanpa mengubah struktur permainan Arema FC secara mendasar. Hansamu ditempatkan untuk mengisi kebutuhan tim di area tengah sekaligus menjaga jarak antarlini tetap terkontrol. Dengan pendekatan tersebut, pelatih berusaha memastikan perubahan personel tidak langsung mengganggu pola permainan yang telah dibangun sebelum laga.

Marcos menjelaskan bahwa penggunaan Hansamu bukan keputusan mendadak. Menurutnya, skenario tersebut sudah pernah dilatih sebelumnya sehingga pemain memiliki gambaran mengenai tanggung jawab yang harus dijalankan ketika situasi seperti ini muncul. Pernyataan itu menunjukkan bahwa Arema FC telah menyiapkan sejumlah kemungkinan untuk menghadapi absennya pemain, termasuk penyesuaian posisi tanpa harus mengubah kerangka utama secara menyeluruh.

Meski demikian, kehilangan Dewangga dan Betinho tetap menjadi persoalan yang memengaruhi rencana pertandingan. Keduanya bukan hanya memberikan tenaga di lini tengah, tetapi juga membantu tim menjaga transisi dari bertahan ke menyerang. Karena itu, pilihan terhadap Hansamu menjadi bagian dari upaya Marcos Santos mempertahankan stabilitas Arema FC di tengah keterbatasan pemain. Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya persiapan taktik dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan sebelum maupun selama pertandingan.

Marcos Santos mengambil keputusan untuk menurunkan Arkhan Fikri setelah jeda dengan mempertimbangkan dinamika pertandingan yang mulai berubah. Pada babak pertama, Arema FC lebih sering berada di bawah tekanan Bhayangkara. Situasi tersebut membuat permainan Singo Edan belum berkembang secara optimal, terutama dalam menjaga aliran bola dan membangun serangan melalui area tengah. Karena itu, selepas turun minum, Arema membutuhkan tambahan aktivitas di lini tengah agar mampu merespons tekanan lawan sekaligus menciptakan keseimbangan permainan yang lebih baik.

Arkhan masuk menggantikan Hansamu Yama pada awal babak kedua. Pergantian ini menunjukkan upaya Marcos untuk mengubah pendekatan tim tanpa mengabaikan kebutuhan untuk tetap menjaga struktur permainan. Kehadiran pemain tengah tersebut diproyeksikan dapat memberikan energi baru dalam penguasaan area sentral, khususnya ketika Arema berusaha keluar dari dominasi tim tamu. Langkah itu juga menjadi bagian dari penyesuaian taktik setelah evaluasi terhadap jalannya pertandingan pada 45 menit pertama.

Selain kebutuhan Arema untuk meningkatkan intensitas di lini tengah, keputusan tersebut berkaitan dengan perkiraan Marcos terhadap kondisi pemain Bhayangkara. Pelatih menilai lini tengah tim tamu mulai mengalami kelelahan setelah bekerja keras sejak awal pertandingan. Ketika tenaga lawan menurun, ruang di lini berpotensi menjadi lebih terbuka. Kondisi ini dapat memberi Arkhan keleluasaan yang lebih besar untuk mengembangkan permainan dan membantu Arema membangun ritme yang sebelumnya sulit ditemukan. Dengan demikian, pergantian selepas jeda bukan sekadar perubahan personel, melainkan upaya memanfaatkan momentum serta celah yang diperkirakan muncul pada babak kedua.

Marcos Santos mengakui bahwa jalannya pertandingan tidak berkembang sesuai perkiraan Arema FC. Pelatih tersebut menyatakan dirinya tidak memperkirakan tim akan kebobolan dua gol, terutama setelah para pemain berusaha menjaga kendali permainan dan membangun serangan secara bertahap. Namun, ia tidak mengalihkan kesalahan kepada pemain. Santos menegaskan bahwa tanggung jawab atas situasi yang terjadi tetap berada di pundaknya sebagai pelatih.

Menurut Santos, perubahan pemain dilakukan untuk mempertahankan struktur tim sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan pertandingan. Pergantian itu bukan semata-mata respons terhadap kelelahan, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan lini pertahanan, tengah, dan depan. Arema membutuhkan tenaga baru agar tekanan tetap terjaga, sementara jarak antarlini tidak melebar ketika Bhayangkara mulai meningkatkan intensitas permainan.

Situasi di lini tengah Bhayangkara turut menjadi pertimbangan dalam menentukan pergantian tersebut. Pergerakan dan kepadatan pemain lawan membuat Arema perlu menghadirkan pemain dengan karakter yang dapat membantu sirkulasi bola serta memperkuat perebutan ruang. Santos berusaha mempertahankan bentuk permainan tim tanpa membiarkan perubahan komposisi membuat koordinasi antarpemain terganggu. Karena itu, setiap pergantian diarahkan untuk merespons kebutuhan taktis yang muncul di lapangan.

Meski strategi tersebut membantu Arema memperbaiki permainan dan menjaga peluang untuk mengambil hasil positif, dua gol yang bersarang lebih dahulu tetap memengaruhi jalannya pertandingan. Tim kemudian mampu memberikan respons dan mencetak gol balasan hingga kedudukan berubah menjadi 2-2. Santos menerima hasil tersebut sebagai gambaran dari pertandingan yang berlangsung dinamis, termasuk keputusan pergantian pemain yang diambil untuk menjaga struktur tim dan menghadapi perubahan permainan Bhayangkara.