Jakarta | Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada masyarakat serta berbagai pihak yang memberikan perhatian pada hari ulang tahun Presiden Prabowo Subianto. Apresiasi itu ditujukan kepada para tokoh, sahabat, dan pihak lain yang turut menyampaikan ucapan maupun perhatian. Menurut Prasetyo, perhatian yang diberikan tersebut memiliki makna tersendiri bagi Presiden dan menjadi bentuk dukungan yang patut dihargai.
Perhatian yang diterima hadir dalam beragam bentuk, mulai dari ucapan selamat, doa, dan harapan hingga karangan bunga serta ungkapan kasih sayang. Prasetyo mengakui bahwa setiap ungkapan tersebut mencerminkan perhatian dari masyarakat dan pihak-pihak yang menyampaikannya. Ia menyampaikan penghargaan atas ketulusan yang tercermin dalam pesan dan bentuk perhatian itu, tanpa membedakan siapa yang menyampaikannya.
Bagi Prasetyo, doa dan ucapan yang disampaikan bukan sekadar rangkaian kata dalam rangka ulang tahun. Keduanya merupakan dukungan yang berarti bagi Presiden Prabowo. Karena itu, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu untuk menyampaikan doa, harapan, ucapan selamat, maupun ungkapan kasih sayang. Respons tersebut juga menunjukkan adanya perhatian dari berbagai kalangan terhadap Presiden pada momen ulang tahunnya.
Apresiasi yang disampaikan Prasetyo mencakup masyarakat luas, para tokoh, sahabat, serta pihak lain yang ikut menyampaikan perhatian. Ia menempatkan berbagai bentuk ungkapan tersebut sebagai hal yang bernilai, baik berupa pesan maupun karangan bunga. Dengan demikian, ucapan terima kasih itu menjadi pengakuan atas dukungan yang telah diberikan. Prasetyo berharap setiap doa dan harapan yang disampaikan dapat diterima sebagai ungkapan tulus dari mereka yang memberikan perhatian. Pesan tersebut menegaskan bahwa perhatian masyarakat dan berbagai pihak sangat dihargai, sementara dukungan melalui doa dan ucapan memiliki arti penting bagi Presiden Prabowo dalam memperingati hari ulang tahunnya.
Dalam momentum ulang tahun Presiden Prabowo Subianto, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan harapan agar doa dan ucapan baik yang disampaikan masyarakat membawa keberkahan bagi semua. Perhatian yang diberikan kepada Presiden, menurut pesan tersebut, mencerminkan ketulusan sekaligus kepedulian masyarakat terhadap kehidupan berbangsa. Doa yang dipanjatkan diharapkan mengiringi Presiden dengan kesehatan, kebahagiaan, dan kekuatan dalam menjalankan tugas. Pada saat yang sama, kebaikan dari doa dan harapan tersebut diharapkan turut dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, tanpa membedakan latar belakang maupun pandangan.
Prasetyo juga mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan dan mempererat persaudaraan. Pesan ini menempatkan kebersamaan sebagai dasar penting untuk menghadapi berbagai tantangan serta menjaga kehidupan sosial yang harmonis. Perbedaan di tengah masyarakat dapat disikapi dengan saling menghormati, berkomunikasi secara baik, dan mengutamakan kepentingan bersama. Dengan cara itu, semangat persatuan tidak berhenti sebagai ungkapan, tetapi diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Ajakan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa hubungan yang rukun dan rasa saling percaya merupakan modal bersama dalam membangun masa depan bangsa.
Selain merawat kebersamaan, masyarakat diharapkan terus menguatkan semangat gotong royong. Partisipasi dan kerja sama dari berbagai unsur dapat mendukung cita-cita membangun Indonesia yang kuat, maju, adil, makmur, dan sejahtera. Upaya tersebut membutuhkan kepedulian, tanggung jawab, serta kesediaan untuk bekerja bersama demi kepentingan publik. Prasetyo menyampaikan, “Sekali lagi, terima kasih atas segala perhatian, doa, dan ketulusan yang diberikan kepada Bapak Presiden. Semoga kebersamaan dan semangat persatuan ini terus terjaga demi Indonesia yang semakin maju dan sejahtera.” Pernyataan itu menegaskan penghargaan atas dukungan masyarakat sekaligus harapan agar ikatan kebangsaan tetap terpelihara. Dengan menjaga persaudaraan dan bergotong royong, masyarakat dapat berkontribusi pada pembangunan yang manfaatnya dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
Prabowo Subianto berulang tahun ke-75 pada 17 Oktober 2026. Ia lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Tanggal kelahirannya menandai perjalanan hidup yang bermula di ibu kota Indonesia, sebelum masa kecilnya dijalani di sejumlah negara. Informasi mengenai usia, tempat, dan tanggal kelahirannya menjadi bagian dari latar belakang pribadi Prabowo.
Prabowo merupakan putra ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo dan Dora Marie Sigar. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Latar belakang keluarganya mencakup sosok ayah yang dikenal sebagai ekonom, sementara Prabowo tumbuh bersama tiga saudara lainnya. Rangkaian informasi tersebut menggambarkan susunan keluarga yang menjadi bagian dari riwayat awal kehidupannya, tanpa mengubah fakta mengenai posisi Prabowo sebagai anak ketiga.
Masa kecil Prabowo banyak dihabiskan di luar negeri. Dalam periode tersebut, ia berpindah beberapa negara, yakni Singapura, Hong Kong, Malaysia, Swiss, dan Inggris. Perpindahan itu membuat masa kecilnya berlangsung di berbagai tempat, bukan hanya di Jakarta. Daftar negara tersebut mencatat lokasi-lokasi yang menjadi bagian dari pengalaman hidupnya ketika masih muda. Riwayat ini juga berkaitan dengan kemampuan bahasa yang dimilikinya.
Prabowo fasih berbahasa Inggris, Prancis, Belanda, dan Jerman. Keempat bahasa itu melengkapi informasi mengenai masa kecilnya yang dijalani dengan berpindah-pindah negara. Dengan demikian, latar belakang awal Prabowo mencakup kelahiran di Jakarta pada 1951, keluarga dengan empat bersaudara, serta pengalaman tinggal di sejumlah negara saat masih kecil. Pada 17 Oktober 2026, ia genap berusia 75 tahun. Uraian tersebut merangkum informasi dasar mengenai kelahiran, keluarga, masa kecil, dan bahasa yang dikuasainya, sebagaimana tercatat dalam riwayat pribadinya.
Perjalanan Prabowo Subianto di dunia militer dimulai ketika ia memasuki Akademi Militer di Magelang pada 1970. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut dan lulus pada 1974, sebelum melanjutkan karier sebagai perwira TNI Angkatan Darat. Dalam perjalanan dinasnya, Prabowo bertugas di Komando Pasukan Khusus atau Kopassus dan terlibat dalam sejumlah operasi. Salah satu yang dikenal luas ialah Operasi Mapenduma di pegunungan Papua pada 1996. Pengalaman penugasan dan kepemimpinannya di lingkungan militer membentuk bagian penting dari perjalanan kariernya sebelum beralih ke ranah politik.
Pada 20 Maret 1998, Prabowo diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Di lingkungan Kopassus, ia dikenal dengan julukan “08”, sedangkan di Kostrad ia mendapat julukan “Pandu”. Setelah mengakhiri karier militernya, Prabowo memasuki politik elektoral dan mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 2008. Ia kemudian menjadi ketua umum partai tersebut pada 2014. Sejak saat itu, Gerindra menjadi kendaraan politik utama baginya dalam mengikuti kontestasi nasional dan membangun dukungan publik untuk agenda politiknya.
Prabowo maju dalam sejumlah pemilihan presiden. Setelah kalah pada Pilpres 2019, ia ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pertahanan, bergabung dalam kabinet yang sebelumnya menjadi lawan politiknya. Pada Pilpres 2024, ia kembali mencalonkan diri, kali ini berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka. Pasangan tersebut menang dengan perolehan 58 persen suara. Keduanya dilantik untuk masa jabatan 2024–2029 pada 20 Oktober 2024, menandai peralihan Prabowo dari jabatan menteri ke kursi kepresidenan. Pada 20 Oktober 2026, pemerintahan Prabowo dan Gibran akan memasuki usia dua tahun. Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan perjalanan panjang dari pendidikan militer, pengabdian di TNI, hingga kepemimpinan nasional.
Baca juga: Prabowo Dukung Pendanaan LRT Jakarta untuk Konektivitas Transportasi | Pengakuan Prabowo Terhadap Gubernur DKI Jakarta | Presiden Prabowo Serukan Penyelidikan Menyeluruh atas Kecelakaan Kapal







