Suporter PSIM & PSS sepakat berdamai, bagaimana sejarah persetruannya?

oleh -42 Dilihat
oleh
Suporter PSIM & PSS sepakat berdamai, bagaimana sejarah persetruannya?

KOTA YOGYAKARTA, DI YOGYAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 22 September 2026, Komitmen itu juga disaksikan manajemen kedua klub, Match Organizing Committee (MOC), Wali Kota Yogyakarta, Bupati Sleman, Asprov PSSI DIY dan jajaran Polda DIY. Penelitian tersebut menguraikan sejumlah konflik yang terjadi dalam beberapa periode kompetisi dan menyebut atribut klub serta fanatisme sebagai salah satu faktor yang dapat memicu gesekan. Menjelang Derbi Mataram pada BRI Super League 2026/2027, perwakilan suporter kedua klub sepakat menjaga kondusivitas dan keharmonisan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Data lain dalam laporan menunjukkan Kesepakatan tersebut ditandatangani di Mapolda DIY, Rabu (16/9), dengan melibatkan perwakilan empat kelompok suporter, yakni Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) dari kubu PSS serta Brajamusti dan Mataram Independent (The Maident) dari kubu PSIM. Kesepakatan ini menjadi perhatian karena pertemuan PSIM dan PSS selama bertahun-tahun tidak hanya menghadirkan persaingan di lapangan, tetapi juga memiliki sejarah rivalitas panjang di kalangan pendukung kedua klub. Rivalitas kedua klub mulai mendapatkan perhatian lebih besar ketika PSS promosi ke kasta teratas pada musim 1999/2000, sementara PSIM harus turun ke kasta kedua. Penelitian Universitas Gadjah Mada mengenai konflik Slemania dan Brajamusti mencatat bahwa perselisihan kedua kelompok sudah berlangsung sejak sekitar tahun 2000. Salah satu peristiwa yang kemudian menjadi catatan kelam rivalitas tersebut terjadi pada 22 Mei 2016.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Jakarta ( ) – Rivalitas PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman memasuki babak baru. Para suporter sepakat menjaga keamanan pertandingan, menghindari provokasi, tidak melakukan tindakan anarkis serta menjaga perilaku di dalam maupun luar stadion. Lantas, bagaimana sebenarnya awal mula perseteruan suporter PSIM dan PSS? PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman sama-sama berasal dari DIY. Pertemuan kedua klub kemudian dikenal sebagai Derbi Mataram.

PSIM bermarkas di Kota Yogyakarta, sedangkan PSS berasal dari Kabupaten Sleman. Nama tersebut merujuk pada sejarah kawasan Mataram yang memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Persaingan dua klub dari wilayah yang berdekatan tersebut kemudian berkembang menjadi rivalitas di kelompok pendukung masing-masing. Derbi Mataram pun pada akhirnya bukan sekadar pertandingan dua klub dari wilayah yang berdekatan. Seiring berjalannya waktu, kedua klub memiliki basis suporter yang besar. Polda DIY belum putuskan izin penonton laga derbi PSIM-PSS PSIM memiliki Brajamusti dan The Maident, sedangkan PSS didukung Slemania dan BCS. Masing-masing kelompok memiliki karakter dan identitas tersendiri dalam memberikan dukungan kepada klub. Persaingan sebenarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepak bola. Namun, dalam perjalanan rivalitas PSIM dan PSS, sejumlah pertemuan suporter juga pernah berujung bentrokan. Bentrokan di Jalan Magelang KM 14 menyebabkan seorang pendukung PSS, Stanislaus Gandhang Deswara, meninggal dunia. Dua tahun kemudian, insiden kembali terjadi. Pada 26 Juli 2018, Muhammad Iqbal Setyawan, yang disebut sebagai penonton non-suporter, meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan dalam kerusuhan yang berkaitan dengan laga Derbi Mataram. Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa rivalitas sepak bola dapat memiliki dampak yang lebih luas ketika persaingan antarkelompok pendukung keluar dari batas pertandingan. Upaya damai sudah dilakukan sejak lama Persoalan rivalitas tersebut sebenarnya bukan hal baru bagi aparat dan berbagai pihak di DIY. Pada April 2018, misalnya, Polda DIY mempertemukan perwakilan suporter PSIM dan PSS dalam acara Rekonsiliasi dan Paseduluran Suporter. Perwakilan Brajamusti, The Maident, Slemania dan BCS saat itu diajak membuat ikrar bersama untuk menjaga keamanan dalam pertandingan kedua tim. Upaya serupa kembali dilakukan menjelang kompetisi 2026/2027. Kali ini, kesepakatan tidak hanya berbicara soal pertandingan di stadion. Para suporter juga berkomitmen menjaga ketertiban lalu lintas ketika menuju dan meninggalkan stadion, tidak membawa barang berbahaya, tidak melakukan provokasi, serta menghindari narasi negatif di media sosial. Mereka juga menyatakan tidak akan melakukan pengrusakan, penganiayaan, pembakaran, penghadangan maupun tindakan melanggar hukum terhadap pemain atau suporter lawan. Suporter PSS-PSIM sepakat jaga keharmonisan DIY selama kompetisi Derbi Mataram kembali hadir di Super League Kesepakatan damai tersebut dibuat menjelang pertemuan PSIM dan PSS dalam kompetisi BRI Super League 2026/2027. Berdasarkan jadwal resmi kompetisi, Derbi Mataram pertama musim ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Desember 2026, dengan PSIM bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Sultan Agung, Bantul. Pertandingan tersebut juga menjadi bagian dari kembalinya PSS Sleman ke kompetisi kasta tertinggi setelah sebelumnya bermain di Liga 2 atau Championship. Sementara PSIM menjalani musim keduanya di level tertinggi setelah promosi. Dengan kedua klub kembali berada di kompetisi yang sama, pertemuan keduanya otomatis menjadi salah satu laga yang mendapat perhatian dari publik sepak bola DIY. Namun, soal kehadiran penonton dalam laga tersebut masih bergantung pada evaluasi keamanan. Polda DIY menyatakan keputusan teknis mengenai pertandingan akan ditentukan berdasarkan analisis dan perkembangan situasi menjelang hari pertandingan. Bahkan, dalam kesepakatan yang dibuat, klub dan suporter menyatakan siap menerima pengalihan lokasi apabila kondisi keamanan dinilai tidak memungkinkan. Rivalitas adalah bumbu, tapi konflik adalah racun Bagi sepak bola, rivalitas antarklub sebenarnya merupakan bagian dari daya tarik pertandingan, yang selayaknya bumbu untuk menambah citarasa entitas itu sendiri. PSIM dan PSS boleh saling bersaing untuk meraih kemenangan, begitu pula para pendukung boleh memberikan dukungan penuh kepada tim masing-masing. Yang menjadi persoalan adalah ketika rivalitas tersebut berubah menjadi kekerasan atau konflik yang mengganggu masyarakat di luar pertandingan bak racun yang mematikan. Karena itu, kesepakatan terbaru suporter PSIM dan PSS lebih menekankan bagaimana persaingan tetap berada dalam koridor olahraga. Perwakilan suporter PSIM Rendi Agung menyatakan pihaknya akan menjaga kondisi kelompok pendukung di akar rumput, sedangkan perwakilan Slemania Tato Indarto menyebut komitmen tersebut diperlukan untuk menjaga nama baik sepak bola di Sleman dan Yogyakarta. Laga ini juga menjadi gambaran bagaimana rivalitas sepak bola bisa berkembang selama bertahun-tahun, sekaligus bagaimana berbagai pihak mencoba mengubah sejarah perseteruan menjadi persaingan yang lebih sehat. PSIM Yogyakarta kecolongan saat takluk dari Madura United PSIM Yogyakarta manfaatkan jeda internasional untuk evaluasi Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita .