Perempatan Sukoanyar Jadi Sorotan Setelah Empat Korban Jiwa Berjatuhan, Warga Desak Langkah Cepat Otoritas

oleh -53 Dilihat
oleh
Perempatan Sukoanyar Jadi Sorotan Setelah Empat Korban Jiwa Berjatuhan, Warga Desak Langkah Cepat Otoritas

TULUNGAGUNG — Menjelang siang, lalu lintas di Perempatan Sukoanyar, Kecamatan Pakel, tampak jauh lebih sibuk dibandingkan hari-hari biasa beberapa bulan lalu. Truk bermuatan berat, bus antarkota, kendaraan niaga hingga sepeda motor datang bergelombang dari berbagai arah. Klakson bersahutan, kendaraan saling berebut ruang, sementara pengendara yang hendak menyeberang harus menunggu celah yang dianggap cukup aman.

Di tengah aktivitas itu, keresahan warga terus membesar. Dalam waktu sepekan terakhir, kawasan yang menjadi simpul pertemuan sejumlah jalur penting tersebut tercatat telah memakan empat korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas. Rentetan insiden maut itu membuat masyarakat mulai mempertanyakan kesiapan infrastruktur keselamatan di lokasi yang kini berubah menjadi jalur padat kendaraan.

Perempatan Sukoanyar sebelumnya tidak dikenal sebagai titik dengan arus lalu lintas yang terlalu tinggi. Namun situasi berubah setelah diberlakukannya pengalihan kendaraan akibat penutupan jalur Gondang. Kendaraan yang sebelumnya melintas melalui jalur tersebut kini diarahkan menuju ruas Bandung–Campurdarat dan melewati kawasan Sukoanyar sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Pondok Pampang maupun wilayah lainnya.

Perubahan arus kendaraan itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Dampaknya langsung terasa di lapangan. Volume kendaraan meningkat drastis, terutama kendaraan berukuran besar yang sebelumnya jarang terlihat melintasi kawasan tersebut.

Pada jam-jam tertentu, antrean kendaraan dapat terlihat dari berbagai sisi persimpangan. Pengendara roda dua yang hendak menyeberang sering kali harus menunggu cukup lama karena arus kendaraan besar datang tanpa jeda yang panjang. Situasi menjadi lebih rumit ketika kendaraan dari empat arah tiba secara bersamaan.

Banyak pengendara mengaku harus ekstra hati-hati setiap kali melintas. Sebab selain kepadatan kendaraan yang meningkat, karakter persimpangan yang belum didukung fasilitas pengaturan lalu lintas membuat setiap pengguna jalan harus mengambil keputusan sendiri kapan harus berjalan, berhenti, atau menyeberang.

Kondisi tersebut menimbulkan risiko yang tidak kecil. Dalam beberapa kejadian kecelakaan yang terjadi belakangan ini, benturan melibatkan kendaraan yang datang dari arah berbeda dengan kecepatan yang sulit diprediksi. Warga sekitar menilai situasi seperti itu semakin sering terjadi sejak jalur pengalihan mulai diberlakukan.

Di lapangan, belum terlihat keberadaan lampu lalu lintas yang berfungsi mengatur pergerakan kendaraan. Padahal intensitas kendaraan yang melintas saat ini dinilai sudah jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.

Persimpangan itu praktis hanya mengandalkan kesadaran masing-masing pengguna jalan. Ketika arus kendaraan sedang ramai, kondisi lalu lintas sering kali berubah menjadi tidak teratur. Pengendara yang hendak berbelok harus mencari celah sendiri, sementara kendaraan dari arah lain berusaha mempertahankan laju agar tidak terjebak antrean panjang.

Tidak sedikit warga yang menilai bahwa kondisi tersebut merupakan kombinasi berbahaya antara peningkatan volume kendaraan dan keterbatasan sarana keselamatan lalu lintas. Apalagi sebagian besar kendaraan yang kini melintas merupakan kendaraan berat yang membutuhkan ruang gerak lebih luas serta jarak pengereman lebih panjang.

Seorang warga yang setiap hari beraktivitas di sekitar lokasi mengatakan bahwa situasi lalu lintas saat ini berbeda jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, jumlah kendaraan yang melintas terus bertambah, terutama sejak jalur alternatif mulai digunakan sebagai pengganti akses yang ditutup.

“Kini hampir sepanjang hari ramai. Truk besar lewat terus. Kalau mau menyeberang harus benar-benar sabar karena kendaraan datang dari berbagai arah,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan para pengguna jalan yang rutin melintasi kawasan tersebut untuk bekerja maupun mengantar anak sekolah. Mereka menilai keberadaan fasilitas pengamanan lalu lintas sudah menjadi kebutuhan mendesak dan bukan lagi sekadar usulan.

Sorotan terhadap kondisi Perempatan Sukoanyar juga datang dari pengasuh pondok pesantren sekaligus pengamat sosial Tulungagung, KH Toha Maksum atau Gus Maksum. Menurutnya, meningkatnya jumlah korban jiwa dalam waktu singkat harus menjadi perhatian serius seluruh pihak yang memiliki kewenangan dalam bidang transportasi dan keselamatan jalan.

Ia menilai pemerintah maupun aparat terkait tidak boleh menunggu lebih lama untuk mengambil tindakan. Sebab setiap hari ribuan pengguna jalan melintasi kawasan tersebut dengan tingkat risiko yang semakin tinggi.

Gus Maksum menegaskan bahwa keselamatan masyarakat harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Jika sebuah lokasi sudah menunjukkan indikasi kuat sebagai titik rawan kecelakaan, maka langkah antisipasi perlu dilakukan sesegera mungkin.

Menurutnya, salah satu kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pemasangan lampu pengatur lalu lintas di Perempatan Sukoanyar. Dengan sistem pengaturan yang jelas, arus kendaraan dari masing-masing arah dapat dikendalikan secara bergantian sehingga risiko tabrakan dapat ditekan.

Selain itu, ia juga mendorong adanya keterlibatan aktif petugas dari kepolisian maupun Dinas Perhubungan untuk melakukan pengaturan lalu lintas, terutama pada jam-jam sibuk ketika kendaraan sedang memadati kawasan tersebut.

“Kondisinya sudah membutuhkan penanganan segera. Jangan sampai menunggu muncul korban berikutnya. Keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian utama,” katanya.

Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari banyak warga yang selama ini menyaksikan langsung perubahan kondisi lalu lintas di kawasan Sukoanyar. Mereka berharap adanya langkah cepat berupa rekayasa lalu lintas, pemasangan rambu tambahan, hingga penempatan petugas secara berkala.

Sebagian warga bahkan mengaku khawatir setiap kali anggota keluarga mereka harus melintasi kawasan tersebut. Kekhawatiran itu muncul bukan tanpa alasan. Dalam waktu hanya beberapa hari, sejumlah kecelakaan telah terjadi dan menimbulkan korban meninggal dunia.

Bagi masyarakat sekitar, angka empat korban jiwa dalam sepekan bukanlah statistik biasa. Setiap peristiwa kecelakaan meninggalkan duka bagi keluarga korban sekaligus menambah kecemasan bagi warga yang setiap hari berinteraksi dengan jalur tersebut.

Sejumlah pengendara berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampak pengalihan arus kendaraan yang saat ini berlangsung. Sebab peningkatan volume kendaraan semestinya diikuti dengan penyesuaian fasilitas keselamatan agar risiko kecelakaan tidak semakin tinggi.

Pengamat transportasi lokal juga kerap menilai bahwa perubahan fungsi sebuah jalur dari lalu lintas sedang menjadi jalur utama kendaraan berat harus dibarengi langkah mitigasi yang memadai. Jika tidak, maka titik-titik persimpangan akan menjadi lokasi yang paling rentan mengalami kecelakaan.

Di Perempatan Sukoanyar, kekhawatiran tersebut kini bukan lagi sekadar prediksi. Rentetan kecelakaan yang telah terjadi menjadi bukti bahwa kawasan tersebut membutuhkan perhatian lebih serius dibanding sebelumnya.

Hingga saat ini masyarakat masih menunggu respons konkret dari pihak terkait. Harapan mereka sederhana, yakni terciptanya kondisi lalu lintas yang lebih aman sehingga pengguna jalan tidak lagi dihantui risiko setiap kali melintasi persimpangan tersebut.

Di tengah lalu lalang kendaraan yang terus meningkat dari hari ke hari, warga berharap tragedi yang telah merenggut empat nyawa dalam sepekan terakhir menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera bertindak. Sebab bagi masyarakat yang hidup dan beraktivitas di sekitar kawasan itu, keselamatan bukan sekadar urusan administrasi atau perencanaan, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut nyawa manusia.